Oleh: Dewi Ayu Larasati, SS, M. Hum
(Akademisi, Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya)
nidaulquran.id-Ketupat sudah menjadi tradisi santapan di hari raya umat muslim, Idul Fitri dan Idul Adha. Ketupat merupakan olahan yang berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus yang terbuat dari anyaman daun kelapa muda. Saat dihidangkan ketupat biasa dicampur dengan aneka sayuran dan tiap daerah memiliki ciri khas masing-masing.
Tradisi memasak ketupat sudah ada sejak dahulu kala. Konon, Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan ketupat kepada masyarakat Jawa pada abad ke 15 hingga 16. Beliau membudayakan pelaksanaan tradisi ketupat dalam dua momen waktu yang disebut bakda (bodho) yaitu bakda Lebaran dan bakda kupat. Bakda Lebaran, masyarakat melaksanakan shalat Idul Fitri dan bersilaturahmi. Saat Bakda Kupat, masyarakat membuat ketupat lagi untuk dibagikan kepada sanak saudara.
Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. Persinggungan antara budaya tradisi lokal dengan nilai-nilai ke-Islaman ini justru memperkaya khazanah budaya lokal.
Merayakan Pencapaian Hidup
Dalam kultur Jawa, ketupat Lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya Lebaran. Jika dilihat dari bungkusnya, ketupat berasal dari janur. Janur sendiri seperti yang dikutip dari Rosidin (2016:42) berasal dari bahasa Jawa yaitu sejatine nur atau dari bahasa Arab, Ja’a Nur yang artinya cahaya telah tiba. Janur ini adalah lambang kesucian rohani. Kesucian rohani ini juga dicerminkan oleh warna putih yang kita lihat pada saat membelah ketupat. Warna putih ketupat ketika dibelah dua mencerminkan kebersihan dan kesucian setelah mohon ampun dari kesalahan. Itulah kiranya mengapa ketupat harus dibelah, bukan dibuka bungkusnya; agar mengingatkan kita akan kesucian rohani kita masing-masing.
Bentuk persegi pada ketupat juga mencerminkan prinsip “kiblat papat lima pancer”. Hal ini menunjukkan harmonisasi dan keseimbangan alam, yaitu empat arah mata angin utama, yaitu barat, timur, utara dan selatan yang bertumpu pada satu pusat atau kiblat (Gardjito, 2017:165). Maknanya adalah bahwa ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah.
Kiblat papat lima pancer ini, dapat juga diartikan sebagai empat macam nafsu manusia, yaitu amarah, yakni nafsu emosional, aluamah atau nafsu untuk memuaskan rasa lapar, supiah adalah nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah, dan mutmainah, nafsu untuk memaksa diri. Keempat nafsu ini yang ditaklukkan orang selama berpuasa. Jadi, dengan memakan ketupat orang disimbolkan sudah mampu menaklukkan keempat nafsu tersebut.
Oleh karenanya, ketupat sebagai simbol di hari Idul Fitri adalah upaya merayakan kemenangan dari perspektif spiritual yaitu perjalanan manusia untuk menyucikan lahir dan batin guna mencapai kehidupan rohani yang lebih sempurna yaitu berada sedekat-dekatnya atau bahkan manunggal dengan Tuhannya. Inilah gambaran konsepsi menuju manusia sempurna dalam kultur Jawa.
Ngaku Lepat sebagai Simbol Habluminannas
Hari Raya Idul Fitri tidak saja menjadi momen kemenangan spiritual manusia dengan Tuhannya, tetapi juga berkaitan erat dengan pencapaian hidup dalam hubungan horizontal manusia dengan manusia.
Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa, berasal dari singkatan Ngaku Lepat yang berarti mengakui kesalahan (Rosidin, 2016:42). Oleh karena itu, dengan tradisi ketupat diharapkan setiap orang mau mengakui kesalahan, sehingga memudahkan diri untuk memaafkan kesalahan orang lain.
Sebagian masyarakat juga memaknai rumitnya anyaman bungkus ketupat mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia. Jadi, hal pertama yang dapat kita pelajari dari ketupat adalah sebaiknya kita yang terlebih dahulu mengakui kesalahan (ngaku lepat) kepada orang lain; bukan menunggu orang lain meminta maaf kepada kita.
Saat seseorang mengantarkan atau menyuguhkan kupat kepada saudaranya, itu berarti dia mengakui segala kesalahannya dan dengan rendah hati bersedia meminta maaf. Siapa yang berani meminta maaf lebih dulu, dialah yang menang. Siapa yang berani merangkul lawannya, derajatnya lebih tinggi.
Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Raden Panji Sosrokartono, filsuf-sufi Jawa lulusan Leiden yang merupakan kakak dari RA Kartini bahwa manusia yang hebat itu adalah yang berhasil menang tanpa ngasorake. Menang tanpa merendahkan lawan. Sebaliknya, yang kalah juga akan tinggi derajatnya jika dia mau mengakui kekalahan seperti dalam ungkapan “Wong kang wani ngalah iku dhuwur wekasane”.
Oleh karenanya, orang yang bertamu akan disuguhi ketupat pada hari lebaran dan diharuskan memakannya sebagai pertanda sudah rela dan saling memaafkan.
Dari sisi isinya ketupat dibuat dengan berbahan dasar beras dan santan, beras yang dimasukkan ke dalam janur yang sudah dianyam dan kemudian menjadi gumpalan yang sangat kempal menunjukkan bahwa kita harus selalu menjaga kerukunan dan kebersamaan pada sesama masyarakat; biasanya beras ini juga dicampur santan yang artinya sedoyo lepat nyuwun pangapunten, biasa disingkat menjadi santan. Artinya dalam kita menjaga kerukunan dan kebersamaan kita juga harus saling menghormati, memaafkan dan sadar akan dirinya sendiri tepo seliro dan saling memaafkan (Puji Rahayu, dkk., 2019:19).
Anyaman rapat pada ketupat melambangkan silaturahmi, hubungan sosial yang kuat dan harmonis antara sesama manusia. Ini merupakan simbol habluminannas.
Menuju Laku Sing Papat
Ketupat atau kupat bagi masyarakat Jawa juga memiliki singkatan dari laku sing papat, yaitu lebar, lebur, luber, dan labur. Menurut Sunan Bonang seperti yang dikutip dari Masykur Arif (2016:123), laku sing papat merupakan empat keadaan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada orang yang berpuasa dengan keihklasan dan kesungguhan. Lebar berarti telah menyelesaikan ibadah puasa dengan melegakan. Lebur artinya terhapusnya segala dosa di masa lalu. Luber memiliki arti melimpah ruah pahala amal-amalnya. Labur bermakna bersih diri dan hatinya.
Manusia yang mampu meraih laku sing papat, nantinya selalu bersikap lemah lembut dan santun terhadap sesama. Dalam kamus Al Quran, itulah tercapainya derajat taqwa.
Berdasarkan uraian di atas, ketupat atau kupat bukan sekadar kreativitas budaya atau makanan yang hampa makna. Filosofi ketupat dalam budaya Jawa bukan hanya membangun sisi spiritualitas umatnya, namun juga sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Tradisi warisan leluhur ini sangat baik dilaksanakan dan dilestarikan dan sejatinya dapat membentuk kepribadian bangsa.












