Beranda / Warta / Satu Suara untuk Palestina: NU dan Muhammadiyah Terima Delegasi Tinggi Palestina

Satu Suara untuk Palestina: NU dan Muhammadiyah Terima Delegasi Tinggi Palestina

Aksi Bela Palestina

nidaulquran.id-Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, secara berturut-turut menerima kunjungan delegasi tinggi Palestina dalam sepekan terakhir. Rombongan yang sama — terdiri dari Penasihat Presiden Otoritas Palestina Bidang Urusan Agama Mahmoud Sidqi Al-Habbash, Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdulfattah A.K. Al-Sattiri, dan Imam Besar Masjid Al-Aqsa Syekh Mohammad A.M. Hussein — singgah ke Pesantren Tebuireng, Jombang, pada Ahad (27/9/2026), lalu ke Kantor PP Muhammadiyah di Jakarta pada Senin (28/9/2026).

Kunjungan ganda ini menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina bukan sekadar isu politik sesaat, melainkan komitmen yang telah lama mengakar dalam sejarah dua ormas Islam terbesar di Tanah Air.

NU: Merawat Warisan KH Hasyim Asy’ari Sejak 1938

Di Pesantren Tebuireng, delegasi Palestina diterima langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031, KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, dalam forum Muhadhoroh ‘Ammah.

Gus Kikin menuturkan bahwa ikatan historis antara Indonesia dan Palestina berakar dari perjuangan para ulama pendahulu, khususnya pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Ia menjelaskan bahwa KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng pada 1899, memiliki jejaring perjuangan kemerdekaan dengan tokoh-tokoh dari berbagai negara Islam sejak akhir abad ke-19, termasuk dengan pejuang dari Malaysia, Mesir, dan Palestina.

Menurut Gus Kikin, KH Hasyim Asy’ari secara konsisten telah menyuarakan dukungan atas kemerdekaan Palestina sejak tahun 1938 — sebuah komitmen moral yang hingga kini terus dirawat oleh para santri Tebuireng lewat pembacaan Qunut Nazilah yang tak pernah putus setiap salat berjamaah di masjid pesantren tersebut.

Ia juga memaparkan bahwa NU, yang didirikan KH Hasyim Asy’ari pada 1926, kini telah berusia satu abad dengan jumlah pengikut sekitar 140 juta orang. Gus Kikin menyebut kunjungan delegasi Palestina ke Tebuireng sebagai momentum strategis untuk mempererat ukhuwah antarbangsa Muslim, mengingat penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam mencapai sekitar 280 juta jiwa.

Dalam kesempatan itu, Gus Kikin turut menyinggung perkembangan Pesantren Tebuireng yang kini menaungi 14 lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, termasuk Universitas Hasyim Asy’ari dan Ma’had Aly yang berfokus pada kajian hadis. Ia berharap sinergi pendidikan antara lembaga-lembaga di Indonesia dan Palestina dapat terus ditingkatkan untuk mendongkrak kualitas keilmuan umat, sekaligus menjadi ruang bagi kedua belah pihak untuk saling berbagi pengalaman.

Muhammadiyah: Diskusi soal Dinamika Perdamaian Timur Tengah

Sehari setelah kunjungan ke Tebuireng, delegasi yang sama diterima Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Syafiq A. Mughni di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat. Pertemuan ini membahas perkembangan situasi Palestina dan Timur Tengah secara umum, termasuk sejumlah isu yang berkaitan dengan upaya perdamaian di kawasan tersebut.

Syafiq menyampaikan bahwa delegasi Palestina menjelaskan kondisi terkini di wilayah mereka sekaligus menyampaikan harapan agar dukungan dan kerja sama dengan Muhammadiyah dapat terus berlanjut. Delegasi juga mengapresiasi berbagai langkah yang selama ini telah dilakukan Muhammadiyah terkait isu Palestina.

Pertemuan turut membahas isu-isu yang tengah ramai dibicarakan publik terkait dinamika perdamaian Timur Tengah, seperti Abraham Accords dan Board of Peace. Syafiq mengaku memahami pandangan delegasi terkait kedua isu tersebut, namun menilai belum ada perubahan signifikan yang terlihat di lapangan terhadap situasi Palestina, meski berbagai lembaga dan mekanisme baru telah dibentuk dalam konteks penyelesaian konflik. Ia menyebut situasi di lapangan relatif masih sama seperti sebelum lembaga-lembaga tersebut terbentuk.

Solidaritas yang Mengakar dari Ormas hingga Pesantren

Rangkaian kunjungan delegasi Palestina ke dua ormas Islam terbesar di Indonesia ini menggambarkan satu benang merah yang sama: dukungan terhadap Palestina bukan wacana baru, melainkan warisan sejarah panjang yang dirawat lintas generasi, baik oleh Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah. Dari doa yang terus dipanjatkan di Masjid Tebuireng hingga diskusi kebijakan di kantor pusat Muhammadiyah, semangat dukungan terhadap kemerdekaan dan perdamaian Palestina tetap menjadi salah satu titik temu utama umat Islam Indonesia.

Tag: