Jam tangan itu berhenti pukul 15.40.
Danu menemukannya di laci paling bawah meja kerja ayahnya, terbungkus saputangan yang lipatannya sudah menguning. Kacanya buram. Talinya dari kulit yang mengeras seperti ular kering. Ia mengguncangnya, lalu menempelkannya ke telinga. Yang terdengar hanya dengung pendingin ruangan dan, dari dapur, suara ibunya memindahkan piring tanpa tujuan.
Tujuh hari sejak pemakaman. Hari itu ibunya menelepon sebelas kali, dan Danu baru membuka ponselnya pukul empat lebih, seusai presentasi di depan para investor, ketika semua angka di layar telah menjadi miliknya dan tak satu pun terasa berarti.
Kios Pak Sarmin terselip di lorong belakang pasar, tiga kali empat meter, dindingnya penuh jam yang semuanya menunjukkan waktu berbeda. Seperti ruang sidang yang tak pernah sepakat.
Lelaki tua itu memasang lup di mata kanannya, membuka tutup belakang arloji, dan diam cukup lama untuk membuat Danu melirik layar ponselnya dua kali.
“Pegasnya tidak patah,” kata Pak Sarmin akhirnya. “Cuma lama tidak diputar.”
“Berapa lama selesainya, Pak? Saya butuh cepat.”
“Jam tidak bisa diburu, Mas.” Ia menutup kembali tutupnya, pelan, seperti menutup mata orang tidur. “Hari Kamis.”
Danu datang hari Kamis, pukul tiga lewat sedikit. Kios itu terkunci. Di pintunya tergantung papan kardus bertulisan spidol: Tutup sebentar, Ashar.
Dari seberang lorong, di bengkel tambal ban yang berbau karet dan oli, seorang lelaki berkaus basah berteriak tanpa menoleh dari ban yang sedang ia benamkan ke bak air.
“Min! Sudah azan!”
“Iya, Jang!” Pak Sarmin muncul dari dalam kios, mengancingkan kemejanya. “Pakai sandalmu sendiri kali ini. Jangan yang kemarin, yang kekecilan.”
“Itu sandalmu yang kebesaran!”
Mereka berjalan ke arah masjid sambil saling mengejek. Danu berdiri di depan kios terkunci, merasa seperti orang yang salah masuk ke rumah orang lain di tengah makan malam.
Ia kembali Jumat, lalu Senin. Selalu ada alasan untuk datang, dan selalu ada sesuatu di lorong itu yang tidak ia rencanakan untuk lihat.
Ia melihat Pak Jaya, si tukang tambal ban, menunjukkan selembar kertas pinjaman dari seorang penagih keliling dengan bunga yang membuat dahinya berkerut. Compressor-nya rusak, katanya, dan ia butuh yang baru sebelum akhir pekan. Pak Sarmin membaca kertas itu sekali, lalu mengembalikannya.
“Yang ini jangan, Jang.”
“Terus bagaimana? Aku nggak punya—”
“Pinjam ke aku dulu. Sedikit-sedikit, kau cicil, tanpa lebih. Kita cari jalannya.” Ia menepuk bahu Pak Jaya. “Yang itu jangan.”
Danu juga melihat, pada sore yang lain, Pak Sarmin duduk di bangku bambu dengan tangan terkulai di antara lutut. Istrinya cuci darah dua kali seminggu, dan biayanya sudah menghabiskan separuh isi lemari jam. Ia bicara pada lantai, setengah pada siapa saja yang mendengar, tentang menjual beberapa jam antik yang paling ia sayangi.
Pak Jaya duduk di sebelahnya, tangannya masih hitam oli.
“Jual saja kalau terpaksa, Min. Jam itu cuma jam.” Ia diam sebentar. “Tapi jangan jual sabarmu. Yang itu kau simpan.”
Pak Sarmin tidak menjawab. Tapi bahunya turun sedikit, seperti beban yang akhirnya dibagi dua.
Danu menonton dari balik etalase, dan sesuatu di dadanya terasa tidak enak. Bukan iri. Ia tak punya kata untuk itu. Ia punya enam puluh karyawan, mobil yang kursinya menghafal punggungnya, dan nomor-nomor di ponsel yang tak seorang pun akan menegurnya jika ia berbuat salah.
Arloji itu selesai Kamis berikutnya. Pak Sarmin meletakkannya di atas kain beludru, dan untuk pertama kalinya sejak laci itu dibuka, benda itu berdetak.
Detaknya kecil sekali. Danu hampir tidak percaya sesuatu seringkih itu pernah menopang hari-hari ayahnya.
“Ayahmu langganan lama,” kata Pak Sarmin. “Tiap Jumat, sebelum berangkat, dia mampir minta jamnya dicocokkan dengan azan. Dua puluh tahun lebih, tidak pernah absen.” Ia membersihkan lupnya dengan ujung baju. “Tahun lalu dia datang bawa jam ini dalam keadaan mati. Saya mau betulkan. Dia bilang jangan.”
“Kenapa?”
“Katanya, tunggu anakku yang bawa. Nanti kau betulkan. Dan kalau anakku bawa…” Pak Sarmin tersenyum kecil, tidak sepenuhnya kepada Danu. “…ajak dia ke masjid. Kalau mau.”
Danu merasakan marah muncul begitu saja, panas dan kekanak-kanakan. “Kenapa tidak bilang sendiri? Tinggal bilang, Yah, ayo.”
“Sudah, Mas.”
Kata itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang tidak pecah tapi juga tidak bisa dipungut.
“Mungkin lima belas tahun,” lanjut Pak Sarmin, tanpa nada menuduh. “Cuma Mas tidak mendengarnya sebagai ajakan. Orang tua itu malu kalau ditolak terlalu sering. Akhirnya mereka menitipkan ke tukang jam.”
Danu teringat satu sore, bertahun lalu. Ayahnya berdiri di ambang pintu ruang kerjanya, sudah berpeci, sudah rapi, dan berkata ayo, Nak. Dan ia, tanpa mengangkat mata dari layar, menjawab nanti, Yah, habis closing.
Closing itu, ia bahkan tidak ingat angkanya.
Pukul 15.30 hari itu, Pak Sarmin menggantung papan kardus di pintunya. Danu berdiri di trotoar dengan arloji di genggaman dan tidak pergi.
“Saya tidak tahu caranya,” katanya. Suaranya terdengar lebih muda dari yang ia kira.
“Ikut saja.” Pak Sarmin mengunci pintu. “Nanti tahu.”
Dari seberang, Pak Jaya sudah menunggu dengan sandal di tangan. Ia menatap Danu sekilas, dan tak bertanya apa-apa, hanya menyodorkan sandal cadangan. Yang kebesaran.
Di dalam masjid, lantai ubinnya dingin, dan wudhu membuat tangannya yang gemetar baru terasa gemetar. Ia berdiri di shaf paling belakang, kikuk, tidak yakin kapan harus melipat tangan. Pak Jaya bergeser setengah langkah tanpa ditanya, memberinya ruang.
Ketika salam yang terakhir selesai, ada tangan yang menepuk punggungnya. Tidak ada kata-kata. Ia tidak berani menoleh, karena matanya sudah basah dan ia tidak ingin siapa pun melihat.
Di pergelangan tangannya, jam itu terus berdetak.
Untuk pertama kali Danu mendengarnya bukan sebagai suara yang menagih. Lebih seperti ketukan pelan di sebuah pintu, dari seseorang yang sudah lama menunggu di luar, dan sabar, dan tidak pernah berhenti mengetuk.
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)












