nidaulquran.id-Persyarikatan Muhammadiyah mencatatkan pencapaian penting di kancah internasional dengan berpartisipasi dalam East London Mosque Science Fair 2026. Dalam pameran sains dan budaya yang berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026, Muhammadiyah menjadi satu-satunya organisasi Islam dari kawasan Asia Tenggara yang turut serta. Acara ini diselenggarakan oleh East London Mosque Youth Hub di London Muslim Centre, Inggris, yang merupakan salah satu kompleks masjid terbesar di Eropa Barat.
Mengusung tema “Sparking a New Generation of Muslim Scientists”, ajang tahunan ini dirancang khusus untuk anak-anak dan remaja berusia 7 hingga 17 tahun. Kegiatan tersebut berhasil menarik perhatian lebih dari 3.000 pengunjung dari berbagai latar belakang, usia, dan komunitas di London. Melalui Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya dan Irlandia, Muhammadiyah menghadirkan stan interaktif yang memadukan kekayaan budaya tradisional Indonesia dengan inovasi teknologi kesehatan digital.
Partisipasi Tunggal dari Asia Tenggara di London Muslim Centre
Mengutip dari muhammadiyah.or.id, kehadiran Muhammadiyah di East London Mosque Science Fair 2026 menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan kontribusi positif komunitas Muslim Indonesia di panggung global. Di tengah keberagaman peserta dari berbagai negara, stan Muhammadiyah menarik perhatian pengunjung dengan menyajikan pendekatan yang unik, yaitu menggabungkan edukasi budaya dan sains terapan.
Permainan Tradisional Indonesia sebagai Sarana ‘Brain Training’
Salah satu daya tarik utama di stan Muhammadiyah adalah pengenalan sejumlah permainan tradisional khas Indonesia, seperti congklak, bola bekel, kelereng, dan lato-lato. Menariknya, seluruh peralatan permainan tradisional tersebut disiapkan dan dikirim langsung dari kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Jakarta sebagai bentuk dukungan penuh terhadap syiar dakwah kultural di Inggris Raya.
Ketua PCIM Britania Raya dan Irlandia, Ince Dian Aprilyani Azir, menjelaskan bahwa pemilihan permainan tradisional ini sangat relevan dengan tema area stan yang dialokasikan untuk Muhammadiyah, yaitu *brain training* (pelatihan otak). Menurut Ince, permainan seperti congklak, bola bekel, kelereng, dan lato-lato bukan sekadar sarana hiburan masa kecil, melainkan instrumen edukatif yang efektif untuk melatih konsentrasi, ketangkasan motorik, serta kemampuan berpikir strategis anak-anak sejak usia dini. Pengunjung dari berbagai negara pun diajak berinteraksi langsung dan mencoba memainkan permainan rakyat tersebut.
Inovasi Teknologi Kesehatan Berbasis Gim Seluler
Selain mempromosikan warisan budaya, Muhammadiyah juga menampilkan kontribusi ilmiah melalui riset teknologi digital yang aplikatif. PCIM Britania Raya dan Irlandia memamerkan inovasi berupa terapi remediasi kognitif digital berbasis gim seluler (*gamification*).
Teknologi kesehatan ini dirancang khusus untuk membantu mencegah penurunan fungsi kognitif serta mendukung penanganan gangguan kognitif ringan hingga gejala demensia tahap awal pada lansia. Inovasi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam berkemajuan dapat diwujudkan dalam bentuk solusi nyata bagi tantangan kesehatan global.
Inisiatif ini dipimpin langsung oleh Thareq Barasabha, yang bertindak sebagai Person in Charge (PIC) kegiatan sekaligus Sekretaris Majelis Pendidikan, Penelitian, dan Kebudayaan PCIM Britania Raya & Irlandia. Thareq, yang saat ini sedang menempuh program pendidikan doktoral (PhD) di University of Oxford, menjelaskan bahwa gim kognitif yang dipamerkan merupakan bagian dari objek penelitian akademisnya.
Kolaborasi erat antara PCIM Britania Raya & Irlandia dengan PP Muhammadiyah di Jakarta membuktikan komitmen organisasi dalam mendukung pengembangan sains dan teknologi. Melalui sinergi ini, Muhammadiyah berhasil menjembatani nilai-nilai kearifan lokal Indonesia dengan perkembangan riset ilmiah modern di tingkat internasional, sekaligus menginspirasi generasi muda Muslim untuk terus berinovasi di bidang sains.













