Beranda / Warta / Muhammadiyah Pakistan: Hadirkan Semangat Sinergi Ilmu, Iman dan Kemanusiaan

Muhammadiyah Pakistan: Hadirkan Semangat Sinergi Ilmu, Iman dan Kemanusiaan

nidaulquran.id-Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks—ketika sains sering kehilangan ruh spiritual dan kemajuan teknologi tak selalu sejalan dengan nilai kemanusiaan—webinar internasional bertajuk “Cendekia Berkata” yang digelar oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Pakistan menjadi oase intelektual yang menumbuhkan harapan.

Diselenggarakan pada Ahad (5/10) dalam rangka Milad ke-113 Muhammadiyah, kegiatan ini menghadirkan semangat baru untuk mengembalikan sinergi antara ilmu, iman, dan kemanusiaan. Dengan format hybrid dari Rumah Dakwah Muhammadiyah Islamabad dan partisipasi peserta lintas negara, kegiatan ini membuktikan bahwa dakwah berkemajuan kini menembus batas-batas geografis dan kultural.

“Ini bukan sekadar seminar, tetapi ruang refleksi dan kolaborasi untuk membangun arah peradaban,” ujar salah satu panitia PCIM Pakistan dengan nada penuh optimisme.

Mengutip dari muhammadiyah.or.id, para narasumber yang hadir memberikan warna berbeda namun saling melengkapi. Dewi Nur Aisyah, misalnya, menegaskan pentingnya integrasi antara pengetahuan dan spiritualitas agar ilmu tidak kehilangan orientasi ketuhanan. “Spiritualitas menjadikan seorang ilmuwan tetap rendah hati sebagai hamba, bukan menjadi Tuhan atas ilmunya,” tuturnya.

Pernyataan ini menggema kuat di kalangan peserta muda, seolah menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi dari sejauh mana ilmu menebar maslahat.

Sherly Annavita Rahmi kemudian menyulut semangat perjuangan generasi Muslim global dengan pesan sederhana namun kuat: “Harapan, keyakinan, dan cita-cita harus terus diperjuangkan.” Dalam konteks dunia modern yang penuh distraksi, pesan ini menjadi energi moral agar para pelajar dan profesional Muslim tidak kehilangan arah dan identitasnya.

Sementara itu, Vier Agi Leventa mengingatkan perlunya “kompas nilai Islam” dalam setiap inovasi agar kemajuan tidak menjauhkan manusia dari kemaslahatan. “Kemajuan tanpa arah nilai justru menimbulkan keterasingan,” katanya.

Melalui dialog lintas generasi dan lintas negara ini, PCIM Pakistan menghadirkan optimisme baru: bahwa kaum intelektual Muslim tidak sekadar menjadi penonton dalam arus globalisasi, tetapi menjadi penggerak yang menyeimbangkan ilmu dan nilai.

Lebih dari itu, webinar ini juga menegaskan peran Muhammadiyah di tingkat global sebagai jembatan yang menyatukan umat dalam visi kemajuan berbasis nilai-nilai Islam yang universal. Semangat Milad ke-113 menjadi momentum refleksi bahwa perjalanan panjang Muhammadiyah bukan hanya sejarah, tetapi janji masa depan — masa depan di mana cendekia Muslim dapat memimpin perubahan dengan akal sehat, hati yang bersih, dan langkah yang berkeadaban.

Tag: