nidaulquran.id-Ustadz Muhammad Thalib, tokoh yang dikenal sebagai Amir Majelis Mujahidin, wafat di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, pada Senin (28/9/2026) pukul 22.00 WIB dalam usia 77 tahun.
Kabar duka ini disampaikan melalui pengumuman resmi Majelis Mujahidin. Dalam pengumuman tersebut disebutkan bahwa almarhum lahir pada 30 November 1948. Majelis Mujahidin menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya tokoh yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dalam kepemimpinan organisasi tersebut, sekaligus memohon doa agar Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan rahmat dan ampunan kepada almarhum.
Perjalanan sebagai Tokoh Majelis Mujahidin
Muhammad Thalib merupakan salah satu tokoh yang terlibat sejak awal perjalanan Majelis Mujahidin di Indonesia. Organisasi ini dideklarasikan melalui Kongres I di Yogyakarta pada 5–7 Agustus 2000, dengan agenda perjuangan penerapan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Dalam struktur kepemimpinan periode 2013–2018, Muhammad Thalib secara resmi ditetapkan sebagai Ketua/Amir Majelis Mujahidin melalui keputusan Sidang Pleno Ahlul Halli wal ‘Aqdi pada Kongres Mujahidin IV di Sentul City, Bogor, 25 Agustus 2013, dengan Abu Muhammad Jibriel AR sebagai wakil Amir. Sebelum penetapan itu, ia sesungguhnya telah lama dikenal menjalankan peran sebagai Amir Majelis Mujahidin, termasuk pada 2013 ketika ia menerima kunjungan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di markas organisasi dan berbicara mengenai peran media Islam serta pentingnya ruang diskusi dan debat dalam dunia jurnalistik.
Karya Besar di Bidang Kajian Al-Qur’an
Di luar aktivitasnya dalam kepemimpinan Majelis Mujahidin, Muhammad Thalib dikenal luas lewat karya-karyanya dalam bidang kajian dan penerjemahan Al-Qur’an. Karyanya yang paling dikenal adalah Al-Qur’an Tarjamah Tafsiriyah, yang menggunakan pendekatan pengalihan makna ayat ke dalam bahasa Indonesia dengan memperhatikan konteks dan kaidah penafsiran, disusun berdasarkan telaah atas terjemahan-terjemahan Al-Qur’an yang telah beredar di Indonesia.
Karya tersebut turut menjadi objek penelitian akademik, di antaranya kajian di Institut PTIQ Jakarta yang membahas latar belakang keterkaitan karya ini dengan Majelis Mujahidin, serta penelitian dalam Al-Bayan: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang mengkaji metode dan kecenderungan ideologis di dalamnya.
Sejumlah sumber akademik mencatat Muhammad Thalib lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 30 November 1948. Ia menempuh pendidikan pesantren di Bangil, Pasuruan, dan dikenal sebagai salah satu murid Abdul Qadir Hassan. Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren dan sempat mengajar, ia melanjutkan pendidikan ke Madinah. Selain menerjemahkan Al-Qur’an, ia juga menulis berbagai buku dan risalah keislaman yang sebagian masih dapat ditemukan di situs resmi Majelis Mujahidin.
Duka bagi Umat dan Keluarga Besar Majelis Mujahidin
Wafatnya Muhammad Thalib pada usia 77 tahun meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, murid, serta keluarga besar Majelis Mujahidin. Ia dikenang sebagai tokoh yang selama puluhan tahun aktif dalam dakwah, kepemimpinan organisasi, penulisan, dan kajian Al-Qur’an.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni, merahmati, memberikan keselamatan, dan menerima seluruh amal kebaikan almarhum, serta memberikan kesabaran dan keteguhan bagi keluarga yang ditinggalkan.













