nidaulquran.id-Kaum muslimin pernah berada dalam keadaan terjepit di negeri Syam, mereka dikepung oleh pasukan Bizantium dengan perbedaan rasio jumlah pasukan yang sangat tidak masuk akal. Gelombang pasukan Romawi yang berdatangan membuat cemas hati para mujahidin, kecemasan yang terefleksikan pada surat Abu ‘Ubaidan bin al-Jarrāḥ yang dikirim menuju Madinah. Imam Malik mendokumentasikan peristiwa sejarah yang amat penting ini di Al-Muwaṭṭa-nya (3/633):
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ قَالَ: كَتَبَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ، إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، يَذْكُرُ لَهُ جُمُوعاً مِنَ الرُّومِ، وَمَا يَتَخَوَّفُ مِنْهُمْ. فَكَتَبَ إِلَيْهِ عُمَرُ : أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ مَهْمَا يَنْزِلُ بِعَبْدٍ مُؤْمِنٍ مِنْ مُنْزَلِ شِدَّةٍ، يَجْعَلِ اللهُ لَهُ بَعْدَهُ فَرَجاً. وَإِنَّهُ لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ. وَأَنَّ اللهَ يَقُولُ فِي كِتَابِهِ: {يّا أّيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اِصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاِتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [آل عمران 3: 200]
Dari Zaid bin Aslam, ia berkata, “Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrāḥ pernah menulis surat kepada ‘Umar bin al-Khaṭṭāb. Dalam surat itu, ia menyampaikan tentang gelombang dahsyat pasukan Romawi yang menimbulkan rasa cemas di hatinya. Maka ‘Umar menulis balasan kepadanya, ‘Amma ba‘du,
Sesungguhnya, apa pun keadaan sulit yang menimpa seorang hamba yang beriman, Allah pasti akan memberikan jalan keluar baginya setelahnya. Dan sesungguhnya tidaklah satu kesulitan mampu mengalahkan dua kemudahan. Dan sesungguhnya Allah berfirman dalam Kitab-Nya: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.’” (HR. lmam Malik – Riwayat Yahya, 1621).
Dua Kemudahan vs Satu Kesulitan
Ungkapan Khalifah ‘Umar, “sesungguhnya tidaklah satu kesulitan mampu mengalahkan dua kemudahan,” disarikan dari surat Asy-Syarḥ yang berbunyi:
ﵟفَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗاﵞ [الشرح: 5-6]
Artinya: Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, bersama kesulitan ada kemudahan. (Q.S. Asy-Syarḥ [94]: 5-6).
Jika kita cermati dua ayat di atas, pada tiap-tiap ayatnya disebut kata al-‘usr dan yusr yang berarti kesulitan dan kemudahan, artinya di surat ini disebut dua kesulitan dan dua kemudahan. Tapi, mengapa khalifah ‘Umar mengatakan hanya ada satu kesulitan dan dua kemudahan?
Nakirah vs Ma’rifah
Ungkapan Khalifah ‘Umar ini di riwayat lain diungkapkan juga oleh Ibn Abbas, di riwayat lain bahkan disebutkan bahwa Rasulullah saw mengatakannya saat ayat ini diturunkan.
Namun, siapapun yang menuturkannya, ungkapan tersebut lahir dari pemahaman yang mendalam terhadap uslub Bahasa Arab, di mana ada kalanya kata yang berulang menunjukkan jumlah makna yang dikandungnya, tapi di lain kesempatan pengulangan kata merujuk pada objek yang sama. Lebih jelasnya mari kita perhatikan ulasan Imam An-Nasafi di dalam tafsirnya (3/657).
Alasan mengapa (al-‘usr) kesulitan terhitung satu, sebab ia disebut dalam format kata ma’rifah di kedua ayat. Ketentuannya, jika suatu kata ma’rifah diulang dengan bentuk yang serupa, maka kata tersebut merujuk pada satu objek yang sama.
Adapun (yusr) kemudahan, dua kali disebut dengan format nakirah yang masing-masingnya dihitung satu. Karena kata dengan format nakirah jika diulang dengan format serupa, maka tiap-tiap kata ini merujuk pada dua objek yang berbeda.
Perhatikan ayat berikut ini:
ﵟٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ﵞ [الفاتحة: 6-7]
Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang engkau beri nikmat atas mereka. (Q.S. A-Fatihah [1]: 6-7)
Ada dua kata (ṣirāṭ) jalan di kedua ayat ini, keduanya dalam bentuk ma’rifah, yang pertama karena disisipi (ال), sementara yang kedua karena disandarkan pada kata ma’rifah. Merujuk pada kaidah sebelumnya, maka kedua kata ini merujuk pada satu objek yang sama, dan begitulah adanya. Lalu, coba perhatikan pula ayat Berkut ini:
ﵟإِنَّآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ رَسُولٗا شَٰهِدًا عَلَيۡكُمۡ كَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولٗا ﵞ [المزمل: 15]
Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul kepadamu sebagai saksi atasmu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Fir‘aun. (Q.S. Al-Muzzammil [73]: 15)
Ada kata rasul yang disebut berulang di ayat ini, keduanya muncul dalam bentuk nakirah. Mengkuti kaidah sebeumnya, dapat disimpukan bahwa masing-masing dari tiap kata ini merujuk kepada objek yang berbeda.
Rasul pertama yang disebut di ayat ini adalah Nabi Muhammad saw, sebab yang dimaksud dengan ‘kamu’ pada ayat ini para penduduk Mekah. Sementara rasul kedua yang diutus kepada firaun tiada lain Nabi Musa as.
Kesulitan Bersama Kemudahan
Berikutnya, mari kita perhatikan bagaimana Allah memilih diksi pada firman-Nya ini agar kita senantiasa memiliki secercah harapan. Alih-alih mengatakan setelah kesulitan ada kemudahan, Allah dengan penuh kepastian memberikan janji bahwa pada tiap-tiap kesulitan yang menghampiri, tiba bersamanya berbagai macam kemudahan yang menyertai.
Abduah bin Mubarak di Az-Zuhdu wa Ar-Raqāiq (34) mengutip perkataan Ibn Mas’ud saat mengomentari ayat ini, beliau berkata, “jika kesulitan masuk ke dalam lubang biawak sekalipun, niscaya kemudahan akan senantiasa mengikuti dan menyertainya.”
Imam an-Nasafī mengatakan, bahwa lafaz (ma’a) di ayat ini memberikan makna betapa dekatnya kesulitan dengan kemudahan, sehingga hati yang yakin akan janji ini menjadi lapang dan tegar menghadapi realita kehidupan.
Berkaca pada kisah Abu ‘Ubaidah dan kaum Muslimin di hadapan dahsyatnya gelombang kekuatan Bizantium, mereka pasti mengatur strategi perang, menyiapkan logistik, menempa kekuatan. Tapi bersamaan dengan itu, hal yang jauh lebih penting ada di kedalaman hati kita; soal keimanan dan keyakinan.
Lihatlah bagaimana respon Khalifah Umar terhadap surat yang Abu ‘Ubaidah layangkan, jawabannya bukan hal-hal teknis semacam instruksi militer ataupun yang lainnya, jawabannya lebih menitikberatkan pada peneguhkan hati kaum muslimin dengan Al-Qur’an, mempertebal keyakinan bahwa keimanan, kesabaran, dan janji Allah lebih besar daripada apapun termasuk jumlah pasukan musuh yang menggentarkan.
Maka bagi siapapun yang tengah menghadapi berbagai macam kesulitan, tengah dihimpit oleh kemalangan, terjepit di antara berbagai macam permasalahan, cukuplah ayat ini menjadi pelipur lara, yakinlah bahwa Ia yang memerintahkanmu untuk bersabar dan bertawakkal takkan pernah meninggalkanmu sendirian, ingatah bahwa satu kesulitan takkan pernah mengalahkan dua kemudahan!












