Home / Warta / Nahdlatut Turats: Gerakan Menjaga Warisan Intelektual Ulama Nusantara

Nahdlatut Turats: Gerakan Menjaga Warisan Intelektual Ulama Nusantara

nidaulquran.id-Di balik lembaran-lembaran usang manuskrip pesantren, tersimpan kekayaan intelektual yang telah membentuk wajah keislaman Nusantara selama berabad-abad. Namun, seiring waktu, karya-karya ulama besar ini terancam hilang jika tidak segera didokumentasikan dan dihidupkan kembali dalam ruang publik keilmuan. Menyadari urgensi ini, para filolog pesantren dan pengkaji naskah kuno membentuk forum Nahdlatut Turats, yang diluncurkan di Bangkalan, Madura.

Forum ini dipimpin oleh Lora Usman Kholil dan berfokus pada upaya sistematis untuk merawat, mendigitalisasi, dan menerbitkan kembali manuskrip para ulama pesantren yang tersebar di berbagai wilayah. Inisiatif ini bukan sekadar nostalgia keilmuan, melainkan strategi penyelamatan aset intelektual yang berperan penting dalam pembentukan tradisi Islam moderat di Indonesia.

Salah satu langkah awal yang telah dilakukan adalah pencetakan ulang tujuh manuskrip karya Syaikhona Kholil. Saat ini, proses cetak untuk kitab Alfiyah dan Tafsir Kholili juga tengah berlangsung. Ra Usman berharap semangat ini menyebar luas di kalangan pesantren, karena menurutnya, tantangan utama bukan pada nilai karya para ulama terdahulu, tetapi bagaimana generasi sekarang mampu menyajikannya dalam format yang mudah dipahami dan relevan dengan konteks masa kini.

Dilansir dari nu.or.id, forum ini tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari kesadaran kolektif akan pentingnya mewariskan ilmu yang tidak hanya hidup di rak kitab, tetapi juga dalam pemikiran dan praktik umat Islam modern. Pameran manuskrip dan benda-benda peninggalan Syaikhona Kholil, termasuk surban, meja, dan lukisan, turut memperkuat narasi ini. Jejaring keilmuan Syaikhona juga ditelusuri melalui karya murid-muridnya seperti Syekh Yasin al-Fadani dan Habib Salim bin Jindan.

Ahmad Ginanjar Sya’ban, filolog pesantren sekaligus dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), menjelaskan bahwa Nahdlatut Turats akan bergerak dalam empat langkah utama: pendataan pesantren tua dan naskah langka, pemetaan literatur keilmuan, penyelenggaraan pameran dan forum diskusi, serta upaya penerbitan skala nasional dan internasional. Semua ini bertujuan membumikan kembali pemikiran ulama Nusantara di tengah tantangan global.

Menariknya, forum ini juga membuka jalan untuk menampilkan kembali karya-karya ulama Nusantara di panggung dunia Islam. Sejumlah naskah bahkan sudah diterbitkan di Timur Tengah, mengikuti jejak karya KH Hasyim Asy’ari dan Kiai Ihsan Jampes. Saat ini, karya KH Afifuddin Dimyathi telah terbit di Mesir, dan diharapkan karya-karya seperti Thariqatul Hushul fi Ilmil Ushul milik KH Sahal Mahfudz juga bisa dikaji di Universitas Al-Azhar.

Nahdlatut Turats membuktikan bahwa warisan intelektual bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan kembali, disebarkan, dan dipelajari lintas generasi. Dengan pendekatan yang sistematis dan partisipatif, forum ini tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga menyiapkan fondasi bagi masa depan keilmuan Islam yang kaya, berakar, dan mendunia.

Tag: