nidaulquran.id-Di tengah hiruk-pikuk dunia akademik yang kerap dipenuhi gemuruh pencapaian dan sorotan publik, ada pribadi-pribadi yang memilih jalan sunyi. Mereka tidak mengejar panggung, tetapi menghadirkan pengaruh yang melampaui ruang dan waktu. Mereka bekerja dalam ketekunan, mengajar tanpa banyak suara, dan meninggalkan jejak yang justru semakin terasa setelah kepergiannya. Salah satu sosok itu adalah Prof. Dr. Hamim Ilyas, M.Ag.
Lahir di Karangnongko, Klaten, pada 1 April 1961, perjalanan hidup beliau menjadi cermin bagaimana kesederhanaan dapat melahirkan keluasan wawasan. Dari tanah Klaten, tumbuh seorang anak desa yang kelak menjadi salah satu pemikir penting dalam khazanah Islam Indonesia dan mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Dalam dunia akademik, Prof. Hamim bukan hanya dikenal karena kapasitas keilmuannya, tetapi juga karena akhlaknya. Sosok yang teduh, rendah hati, dan jauh dari sikap menonjolkan diri. Banyak orang mengenang beliau bukan karena suara yang paling keras, melainkan karena kedalaman argumen dan keluasan kasih dalam berpikir.
Samudra Ilmu yang Tak Pernah Beriak
Mengenang Prof. Hamim Ilyas adalah mengenang sebuah samudra. Bagi siapa pun yang pernah bersinggungan dengannya, metafora ‘samudra ilmu dalam senyap’ bukanlah sebuah hiperbola. Beliau memiliki kedalaman intelektual yang luar biasa, namun permukaan jiwanya selalu tampak tenang, tanpa riak kesombongan sedikit pun.
Dalam setiap diskusi, baik di ruang kelas Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga maupun di forum-forum resmi Muhammadiyah, Prof. Hamim selalu menunjukkan sikap yang mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Namun, ketika beliau mulai membuka suara, kalimat-kalimat yang keluar adalah sari pati pemikiran yang telah melewati proses kontemplasi panjang. Beliau tidak pernah memaksakan pendapat, melainkan menawarkan perspektif yang mencerahkan dengan nada bicara yang selalu terjaga kesantunannya.
Sosok yang Memanusiakan Manusia
Salah satu sisi personal yang paling membekas di hati para mahasiswanya adalah bagaimana Prof. Hamim memanusiakan setiap individu. Beliau tidak pernah memandang jabatan atau strata sosial seseorang. Bagi beliau, setiap pertanyaan adalah pintu menuju ilmu, dan setiap pencari ilmu layak mendapatkan rasa hormat yang sama. Banyak cerita mengharukan tentang bagaimana beliau dengan sabar membimbing mahasiswa yang kesulitan, memberikan motivasi di saat-saat kritis, dan selalu menyambut tamu dengan senyum tulus yang menenangkan.
Kehidupan pribadinya adalah cerminan dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Beliau tidak hanya mengajarkan moderasi beragama melalui teks-teks akademik, tetapi menghidupinya dalam keseharian. Kesederhanaan adalah pakaiannya sehari-hari. Meski memegang jabatan penting sebagai Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, beliau tetaplah sosok yang rendah hati, yang tak segan untuk duduk bersama siapa saja tanpa sekat.
Tiga Warisan Abadi Sang Begawan
Kepergian Prof. Hamim Ilyas meninggalkan duka mendalam, namun beliau tidak pergi dengan tangan hampa. Beliau meninggalkan warisan intelektual dan spiritual yang akan terus menjadi rujukan bagi generasi mendatang. Setidaknya, ada tiga warisan utama yang menjadi fondasi perjuangannya selama ini.
1. Tafsir yang Membebaskan dan Mencerahkan
Warisan pertama dan yang paling fundamental adalah pemikirannya dalam bidang tafsir. Prof. Hamim dikenal sebagai pakar tafsir yang mampu mengontekstualisasikan ayat-ayat suci dengan realitas zaman. Beliau tidak terjebak pada pemaknaan tekstual yang kaku, namun selalu menggali semangat (spirit) dari setiap wahyu.
Baginya, Al-Qur’an adalah petunjuk yang harus mampu menjawab tantangan kemanusiaan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Melalui karya-karyanya, beliau mengajarkan bahwa beragama haruslah membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi seluruh alam.
2. Moderasi Beragama yang Substantif
Di tengah polarisasi pemikiran keagamaan, Prof. Hamim hadir sebagai penengah yang kokoh. Warisan keduanya adalah konsep moderasi beragama yang tidak sekadar jargon, melainkan sebuah metodologi berpikir. Beliau mengajarkan cara pandang yang seimbang antara wahyu dan akal, antara tradisi dan modernitas.
Beliau adalah sosok di balik banyak produk pemikiran Majelis Tarjih yang progresif namun tetap berakar kuat pada khazanah keislaman. Baginya, menjadi moderat bukan berarti lemah dalam prinsip, melainkan memiliki kelapangan dada untuk menerima perbedaan dan keluasan wawasan untuk mencari titik temu.
3. Keteladanan dalam Integritas Moral
Warisan ketiga, yang mungkin paling sulit untuk ditiru, adalah integritas moralnya. Di era di mana integritas seringkali bisa dibeli, Prof. Hamim tetap teguh pada prinsip-prinsip kejujuran dan kesederhanaan. Beliau membuktikan bahwa seorang intelektual harus memiliki kaitan yang erat antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan.
Keteladanan ini menjadi oase bagi umat yang haus akan sosok pemimpin yang bersih dan tulus. Beliau mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab dan integritas hanyalah akan menjadi beban bagi pemiliknya.
Mengenang Detik-Detik Perpisahan yang Mengharukan
Pada Sabtu, 23 Mei 2026, Prof. Hamim Ilyas berpulang di Yogyakarta setelah menjalani perawatan. Namun perjalanan beliau kembali bermuara ke tanah asalnya. Beliau kemudian dimakamkan di Klaten pada 23 Mei 2026, seolah menutup lingkar perjalanan hidup: berangkat dari Klaten, mengabdikan ilmu untuk umat, lalu kembali beristirahat di tanah kelahiran.
Kepergian Prof. Hamim Ilyas ke haribaan Sang Pencipta menyisakan ruang hampa yang sulit terisi. Suasana duka yang menyelimuti rumah duka dan pemakaman menjadi saksi betapa banyak hati yang merasa kehilangan. Isak kesedihan dari para kolega, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang merasa terbantu oleh pemikirannya, menunjukkan bahwa beliau adalah milik semua orang.
Melanjutkan Estafet Perjuangan
Mengenang Prof. Hamim Ilyas tidak cukup hanya dengan air mata. Cara terbaik untuk menghormati jasa-jasanya adalah dengan melanjutkan estafet perjuangan dan nilai-nilai yang telah beliau tanamkan. Samudra ilmu yang beliau tinggalkan harus terus diarungi oleh para intelektual muda untuk menemukan jawaban-jawaban baru atas persoalan zaman yang kian kompleks.
Kita perlu menghidupkan kembali semangat ijtihad yang progresif namun santun, sebagaimana yang beliau contohkan. Dunia Islam saat ini membutuhkan lebih banyak pemikir yang memiliki kedalaman ilmu tafsir sekaligus kepekaan sosial yang tinggi. Warisan pemikiran Prof. Hamim harus terus dikaji, didiskusikan, dan dikembangkan agar tetap relevan dan memberikan solusi nyata bagi umat.
Meneladani Kesederhanaan di Era Materialistik
Di sisi lain, karakter personal beliau yang rendah hati dan sederhana harus menjadi cermin bagi kita semua. Di tengah godaan materialisme dan haus akan popularitas, sosok Prof. Hamim mengingatkan kita bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada gelar, jabatan, atau harta, melainkan pada kemanfaatan kita bagi orang lain dan ketulusan hati di hadapan Tuhan.
Prof. Hamim Ilyas kini telah beristirahat dalam damai di sisi Allah SWT. Namun, ‘samudra ilmu dalam senyap’ itu akan terus mengalir melalui tulisan-tulisannya, melalui lisan para muridnya, dan melalui amal jariyah yang tak terhitung jumlahnya. Beliau telah menunaikan tugasnya sebagai khalifah di bumi dengan sangat baik, meninggalkan sebuah warisan yang akan abadi melampaui waktu. Selamat jalan, Sang Guru Bangsa. Cahayamu akan selalu kami rindukan.













