Beranda / Hikmah / Insight / Menghidupkan Critical Thinking di Tengah Derasnya Arus Informasi

Menghidupkan Critical Thinking di Tengah Derasnya Arus Informasi

nidaulquran.id-Sebagian besar orang yang hidup di zaman ini tak bisa lepas dari dunia digital. Mulai dari bagun tidur di pagi hari hingga tidur lagi pada malam hari mayoritas orang selalu berinteraksi dengan smartphone. Entah sekedar untuk berbalas pesan (chatting) melalui aplikasi, scrolling media sosial, mencari inspirasi, membaca berita terkini, atau untuk update story di akun media sosial pribadi.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat terbukti membawa banyak manfaat bagi banyak orang. Berbagai peristiwa yang terjadi di daerah lain yang jauh di sana bisa kita ketahui saat ini juga secara real time karena adanya media sosial berbasis digital.

Selain membawa banyak perubahan dan kebaikan bagi masyarakat luas, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ternyata juga bisa disalahgunakan oleh masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Berbagai konten provokasi, penyebaran berita bohong, dan konten buruk lainnya sangat mudah kita temukan di media sosial berbasis digital.

Hampir setiap waktu kita terkoneksi dengan dunia digital melalui smartphone yang kita pegang. Oleh karena itu kemampuan untuk memfilter berbagai konten yang ada mutlak kita perlukan. Budaya berpikir kritis (critical thinking) harus benar-benar kita terapkan agar bisa menemukan informasi yang benar dari sekian banyak informasi yang ada di media sosial.

Berbagai informasi yang belum jelas kebenarannya hendaknya tidak kita “amini” begitu saja tanpa analisis yang matang. Bermudah-mudahan dalam menerima dan menyebarkan berita yang belum jelas keshahihannya sudah waktunya ditinggalkan.

Allah sudah mengingatkan kita dalam al-Qur’an untuk tidak mudah ‘menelan’ mentah-mentah sebuah informasi tanpa menelaahnya terlebih dahulu. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al Hujurat: 6)

Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menyebutkan sebab turunnya ayat di atas: Pada suatu hari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk memungut zakat kepada Bani Musthaliq yang telah mengaku memeluk Islam. Saat Al-Walid sampai di negeri Bani Musthaliq tujuannya untuk memungut zakat tidaklah membawa hasil yang baik. Lalu Al-Walid kembali ke Madinah dan melaporkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Bani Musthaliq telah keluar dari Islam. Setelah mendengar kabar dari Al-Walid bin Uqbah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Khalid bin al-Walid berangkat bersama sejumlah pasukan untuk menyelidiki dengan teliti kabar dari Al-Walid bin Uqbah. Pada malam hari Khalid bin al-Walid mengirim mata-mata untuk menyelidiki Bani Musthaliq. Ternyata apa yang disampaikan oleh Al-Walid bin Uqbah mengenai murtadnya Bani Musthaliq dari Islam adalah tidak benar (Hamka: 1982).

Inilah contoh teladan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhum yang sangat jelas untuk dijadikan pedoman bagi umat Islam agar tidak terburu-buru membenarkan suatu informasi. Memilah dan memilih informasi seperti apa yang boleh dan patut kita percaya dan share sudah semestinya kita biasakan.

Tidak semua konten yang beredar di media sosial harus kita share ulang. Teliti dari mana sumber informasinya, pastikan dari sumber yang kredibel dan terpercaya. Bacalah informasi dari berbagai sumber agar pemahaman kita semakin dalam, lebih bagus lagi kalau kita juga membaca informasi yang bertolak belakang dengan informasi yang telah kita baca sebelumnya agar pemahaman kita lebih berimbang.

Ada satu hal lagi yang sangat penting kita pahami selain adab menerima informasi dan share informasi atau konten di media sosial. Satu hal penting itu adalah adab berkomentar. Betapa mudahnya kita temukan berbagai komentar negatif yang menyerang personal (bukan substansi materi) yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain yang tidak sependapat dengannya. Berbagai kalimat yang tidak sopan, tidak pantas, tidak mendidik, begitu mudahnya ditulis hanya karena emosi atau sekedar ikut-ikutan apa yang dilakukan kebanyakan orang.

Sudah semestinya kita mempertimbangkan dampak dari kalimat yang kita tulis dan akan dibaca banyak orang. Apalagi ini di media sosial. Jangan sampai apa yang kita tulis, apa yang kita beri komentar negatif dan rendahkan ternyata konten tersebut hanyalah hoaks yang dibikin oleh orang lain untuk menciptakan kegaduhan atau menjatuhkan nama baik pihak lain.

“Kita diberi akal dan hati oleh Allah adalah untuk berfikir mendalam dan peka terhadap keadaan.”

Baca dan pahami baik-baik setiap informasi yang kita ‘konsumsi’ di media sosial. Tidak perlu buru-buru memberikan komentar yang buruk. Selalu berhati-hati terhadap berita bohong yang menjebak. Jangan sampai orang baik-baik menjadi rusak nama baiknya lantaran berita bohong yang dialamatkan padanya kita beri komentar negatif dan share kemana-mana.

Referensi:

Hamka. (1982). Tafsir Al Azhar. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD.

Tag: