oleh: Anisyah
Pengajar Halqah Quran dan mahasiswi Program Studi Ilmu Al- Qur’an dan Tafsir (IAT) STIU Darul Qur’an Bogor
nidaulquran.id-Bagaimana rasanya hidup di bawah naungan Al-Quran? Pertanyaan inilah yang dijawab Sayyid Qutb dalam Muqaddimah Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai nikmat yang menghadirkan ketenangan, keberkahan, dan kebahagiaan. Bagi Sayyid Qutb, Al-Qur’an bukan sekadar kitab untuk menambah pengetahuan agama. Al-Qur’an juga menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia.
Pandangan tersebut menarik dikaji melalui perspektif aksiologi. Dalam filsafat ilmu, aksiologi membahas nilai, manfaat, dan tujuan suatu pengetahuan. Pengetahuan tidak hanya dinilai dari benar atau salahnya. Pengetahuan juga dinilai dari manfaatnya bagi kehidupan manusia.
Melalui sudut pandang ini, Al-Qur’an dapat dipahami bukan hanya sebagai sumber pengetahuan. Al-Qur’an juga merupakan sumber nilai yang membimbing manusia menjalani kehidupan.
Al-Qur’an Lebih dari Sekadar Pengetahuan
Menurut Sayyid Qutb, manusia akan menemukan arah hidup yang jelas melalui petunjuk Al-Qur’an. Al-Qur’an membantu manusia memahami kedudukannya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi. Karena itu, fungsi Al-Qur’an tidak terbatas pada ibadah ritual. Nilai-nilainya juga membimbing manusia dalam membangun akhlak, mengatur kehidupan sosial, dan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Pandangan tersebut sejalan dengan karakteristik Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Tafsir ini berupaya menghadirkan pesan Al-Qur’an dalam kehidupan umat. Tafsir tidak berhenti pada penjelasan makna ayat secara tekstual. Tafsir juga menunjukkan bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika dilihat dari perspektif aksiologi, pemikiran Sayyid Qutb menunjukkan bahwa nilai Al-Qur’an tidak berhenti pada aspek intelektual. Nilainya terletak pada kemampuannya membentuk manusia yang lebih baik. Dalam kajian aksiologi, suatu pengetahuan dianggap bernilai apabila mampu memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Dari sudut pandang ini, Al-Qur’an tidak hanya berisi informasi tentang ajaran agama. Al-Qur’an juga menawarkan seperangkat nilai yang membimbing manusia dalam menentukan sikap dan tindakan.
Petunjuk yang Mengubah Kehidupan
Al-Qur’an membantu manusia memahami tujuan hidup, membangun kesadaran moral dan mengarahkan setiap tindakan kepada nilai yang diridhai Allah. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh dari Al-Qur’an selalu berkaitan dengan pembentukan sikap dan perilaku.
Manfaat tersebut tidak hanya dirasakan oleh individu. Nilai-nilai Al-Qur’an juga memiliki dampak sosial yang luas. Keadilan, tanggung jawab, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama dapat membangun kehidupan yang lebih harmonis. Dalam perspektif Islam, ilmu tidak dapat dipisahkan dari nilai moral dan tanggung jawab untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.
Karena itu, Al-Qur’an memiliki fungsi transformatif. Ia tidak hanya menjelaskan apa yang benar dan apa yang salah. Al-Qur’an juga mendorong perubahan dalam kehidupan manusia. Pesan inilah yang tampak kuat dalam Muqaddimah Fi Zhilalil Qur’an. Sayyid Qutb mengajak pembacanya untuk tidak berhenti pada aktivitas membaca dan memahami ayat. Al-Qur’an harus hadir dalam cara berpikir, cara bersikap, dan cara menjalani kehidupan.
Al-Qur’an di Tengah Perubahan Zaman
Pandangan Sayyid Qutb menjadi semakin relevan di tengah kehidupan modern. Kemajuan teknologi membuat manusia mudah memperoleh informasi. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu diikuti dengan kebijaksanaan dalam menggunakannya. Banyak persoalan muncul bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena hilangnya nilai yang mengarahkan pengetahuan tersebut. Dalam konteks inilah Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman yang memberi orientasi moral dan spiritual.
Di tengah kondisi tersebut, Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk yang memberikan orientasi dan makna. Melalui nilai-nilainya, manusia diajak membangun hubungan yang baik dengan Allah. Hubungan tersebut juga mencakup sesama manusia dan lingkungan. Karena itu, fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan tidak pernah kehilangan relevansinya meskipun zaman terus berubah.
Pada akhirnya, hidup di bawah naungan Al-Qur’an bukan hanya berarti membacanya, tetapi juga menjadikannya pedoman dalam kehidupan. Dari perspektif aksiologi, nilai Al-Qur’an terletak pada kemampuannya memberi arah, membentuk akhlak, dan menghadirkan perubahan yang membawa kebaikan.
Bagi Sayyid Qutb, keberhasilan seorang muslim tidak hanya diukur dari banyaknya pengetahuan yang dimiliki. Keberhasilan juga terlihat dari sejauh mana nilai-nilai Al-Qur’an hadir dalam kehidupannya. Ketika Al-Qur’an menjadi pedoman hidup, pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, tetapi berubah menjadi amal dan perbaikan diri. Al-Qur’an bukan sekadar untuk dipelajari, tetapi untuk dihidupkan dalam setiap aspek kehidupan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an tidak hanya diukur dari seberapa sering ia membacanya. Kedekatan itu juga terlihat dari sejauh mana nilai-nilainya membentuk cara berpikir dan bertindak. Ketika Al-Qur’an benar-benar dijadikan pedoman, manusia tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga arah yang menuntunnya menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.
Referensi
Artikel “Metodologi Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an Sayyid Qutb“, Lestari, Vera, 2021.
Artikel “Aksiologi ilmu dalam perspektif islam dan barat“, Harahap, Salminawati, 2022.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Qutb, 2000. n.d.
Filsafat Ilmu: Jalan Berpikir Kritis dalam Kajian Al-Qur’an dan Tafsir, Muhammad Fiqih Cholidi, 2026












