Beranda / Hikmah / Insight / Sains Modern Malu-malu Mengakui Kebenaran Al-Qur’an

Sains Modern Malu-malu Mengakui Kebenaran Al-Qur’an

Oleh:
Yusuf Bin Abdullah Maricar

“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dari ketiadaan.” (Al-An’am 6:101)
“Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu menyatu, lalu Kami pisahkan keduanya?” (Al-Anbiya 21:30)
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kalian mau mengingat.” (Adz-Dzariyat 51:49)
“Allah ada dan tidak ada sesuatu pun selain-Nya.” (HR. Bukhari)

nidaulquran.id-Sains modern, dengan segala perangkat canggih dan bahasa intelektualnya, pada akhirnya berjalan menuju satu arah yang sejak 14 abad lalu telah dibukakan oleh Al-Qur’an.

Perjalanan ilmu ini seolah menyerupai seseorang yang baru berani mengetuk sebuah pintu setelah sekian lama berdiri di depannya—malu-malu, tapi tidak bisa mengelak dari kebenarannya.

Di laboratorium-laboratorium sunyi, di ruang observatorium yang menatap jauh ke galaksi, dan di lembar-lembar jurnal ilmiah, para ilmuwan perlahan menemukan bahwa struktur alam semesta ini memiliki pola, arah, dan kehendak yang tidak mungkin muncul dari kekacauan.

Ketika teori Big Bang diterima luas sebagai fondasi kosmologi modern, para ilmuwan menyimpulkan bahwa alam semesta berawal dari satu titik singularitas—sebuah titik yang tak dapat dijelaskan, tak dapat didefinisikan, tak dapat diukur.

Dari titik itu terjadi ledakan mukjizat yang membuka ruang, waktu, energi, dan materi. Alam semesta yang kita saksikan hari ini hanyalah kekosongan, yang tidak pernah bisa ditangkap oleh perhitungan matematika.

Dan tanpa banyak disadari, konsep singularitas ini adalah gema dari apa yang sejak lama dikabarkan Al-Qur’an: bahwa langit dan bumi dahulu satu kesatuan sebelum dipisahkan oleh kekuasaan Allah.

Bukan hanya bersinggungan secara metaforis, tetapi seolah menegaskan bahwa struktur penciptaan mengikuti garis yang telah disebutkan oleh wahyu. Namun dunia sains, dengan keangkuhan halus yang menjadi tradisi panjangnya, baru berani mengakuinya secara samar-samar.

Ketika fisikawan mempelajari atom, mereka melihat sesuatu yang lebih mengejutkan: bahwa alam semesta ini, pada hakikatnya, hampir seluruhnya adalah kekosongan. Atom yang kita anggap sebagai “benda” ternyata lebih menyerupai ruang kosong dengan titik-titik energi yang berputar seperti bayangan.

Bahkan inti atom, yang dianggap “paling padat”, tidak luput dari kenyataan bahwa ia pun berisi ruang hampa. Padahal dari struktur kosong inilah lahir batu-batu besar, tubuh manusia, hingga gunung yang kita kira kokoh.

Semua kenyataan itu membuat kita memahami bahwa ketika kita makan nasi, kita sebenarnya memasukkan “kekosongan” ke dalam diri kita. Ketika kita duduk di atas kursi, kita sesungguhnya sedang “bersemayam di atas kekosongan” yang oleh mata kita tampak seperti wujud padat.

Warna, tekstur, bentuk—semuanya hanyalah tafsiran otak atas gelombang cahaya dan energi.

Dunia yang kita sebut “nyata” sesungguhnya hanyalah bayangan yang teratur, pantulan dari hukum-hukum yang menjaga agar manusia bisa menjalani hidup tanpa kebingungan. Dan pada titik inilah manusia dipaksa memahami bahwa tidak ada wujud yang sejati kecuali Allah.

Al-Wujud adalah salah satu nama-Nya—dan nama itu berdiri seperti menara cahaya di tengah keheningan kosmos.

Semua yang lain hanyalah pantulan, ciptaan, bentuk yang “ada” hanya karena Allah menghendaki keberadaannya melalui energi, gelombang, dan hukum alam.

Eksistensi makhluk tidaklah hakiki; ia seperti buih di atas permukaan laut, muncul dan hilang tanpa pernah benar-benar memiliki “ada” yang mandiri.

Dalam ruang renungan seperti ini, sains modern mulai kehilangan kata-kata. Mereka mampu menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi, tetapi tidak pernah mampu menyentuh “mengapa” di balik semua itu.

Mereka bisa mengukur energi, tetapi tidak bisa menjelaskan asal energi pertama.

Mereka bisa menghitung percepatan ekspansi alam semesta, tetapi tidak mampu menjelaskan siapa yang menekan pedal waktu.

Sains ibarat seorang penyair yang kehilangan metafora terbaiknya, berdiri di tengah langit malam, bingung memahami mengapa bintang-bintang tunduk pada satu aturan yang sama.

Di saat yang sama, Al-Qur’an memanggil manusia agar merenungkan penciptaan tidak hanya dengan akal, tetapi dengan qalbu. Bahwa keberadaan kita bukan sekadar hasil reaksi kimia, melainkan bagian dari simfoni besar yang digerakkan oleh satu kekuasaan.

Alam semesta menari mengikuti irama yang sama, dari partikel kecil hingga galaksi besar, semuanya bergerak dalam harmoni.

Bahkan kucing yang hanya melihat dunia dalam abu-abu, dan manusia yang melihat warna-warni, keduanya sedang dituntun oleh rahasia yang sama: bahwa persepsi hanyalah pintu kecil untuk memahami ciptaan.

Di balik segala teori, sains perlahan berjalan menuju kenyataan bahwa alam tidak mungkin berdiri tanpa satu Kehendak yang mengatur.

Seperti seorang pengembara yang kembali ke rumah setelah perjalanan panjang, sains akhirnya tiba di pintu yang telah lama dijaga oleh wahyu.

Ia masih malu-malu, masih mencari istilah rumit untuk menghindari kata “Tuhan”, masih mencoba menyusun hipotesis agar terbebas dari uzur metafisika. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa setiap hukum alam adalah ayat yang berdiri tegak, menegur dunia dengan lembut.

Pada akhirnya, dunia sains bukanlah musuh bagi wahyu. Ia adalah jalan panjang yang ditempuh manusia untuk menemukan apa yang telah dikabarkan sejak awal.

Dan ketika ilmu pengetahuan berjalan dengan jujur, tanpa kesombongan, ia akan menemukan bahwa dalam setiap denyut atom ada gema kalimat “La ilaha illallah”.

Bahwa dalam sunyi ruang angkasa terdapat getaran kesaksian yang tidak pernah berhenti. Alam semesta berbicara, dan Al-Qur’an menerjemahkan suaranya.

Di titik itu, manusia diajak kembali menyadari: kita ini hanyalah tamu di rumah Allah. Kita hidup dalam ciptaan yang kosong, namun di balik kekosongan itu tersembunyi wujud yang paling nyata.

Sains akan terus melangkah, namun pada akhirnya setiap langkahnya mengarah pada pintu yang sama—pintu yang telah lama terbuka bagi siapa pun yang mau merenung. Dan mungkin, suatu hari nanti, sains tidak lagi malu-malu untuk mengakuinya.

Wallahu a’lam bishawab

REFERENSI
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2015). Al-Qur’an dan terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.