nidaulquran.id-Pascabencana yang melanda beberapa wilayah di Aceh, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah melalui unit koordinasi NU Peduli secara resmi memberangkatkan tim relawan khusus untuk mengawal fase pemulihan. Pemberangkatan ini ditandai dengan apel pelepasan yang berlangsung khidmat di halaman Kantor PWNU Jawa Tengah, Semarang, pada Sabtu, 10 Januari 2026.
Misi ini merupakan tindak lanjut strategis dari asesmen mendalam yang sebelumnya telah dilakukan oleh tim ahli dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Jawa Tengah bersama PWNU Aceh. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa bantuan yang disalurkan dari warga Nahdliyin Jawa Tengah benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat terdampak.
Pesan Strategis Rais Syuriyah: Menjaga Mentalitas dan Keikhlasan
Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, memberikan arahan fundamental terkait mentalitas yang harus dimiliki oleh setiap relawan. Kiai Ubaid menekankan bahwa tantangan terbesar relawan di lapangan bukan hanya terletak pada kelelahan fisik, melainkan pada ketangguhan mental dan kesabaran saat berhadapan langsung dengan penyintas.
Beliau mengingatkan bahwa secara psikologis, korban bencana sering kali berada dalam kondisi mental yang sangat rentan, mudah tersinggung, dan kehilangan motivasi untuk beraktivitas akibat tekanan batin. Oleh karena itu, relawan diminta untuk tidak menghakimi jika menemukan warga yang terlihat pasif atau enggan bekerja membantu proses pemulihan. Sikap sabar dan kemampuan memahami duka mendalam para korban adalah wujud nyata dari pengabdian yang tulus.
Dimensi Ketuhanan dalam Misi Kemanusiaan
Lebih lanjut, Kiai Ubaid menegaskan bahwa misi kemanusiaan adalah implementasi nyata dari ajaran agama itu sendiri. Beliau menyatakan bahwa “agama adalah agama kemanusiaan,” di mana menolong sesama makhluk Tuhan harus didahulukan sebagai bentuk ibadah sosial. Hubungan antarmanusia (hablum minannas) tidak dapat dipisahkan dari dimensi ketuhanan (hablum minallah). Dengan prinsip ini, para relawan diharapkan mampu membawa misi dakwah bil hal, yakni menunjukkan kebaikan Islam melalui tindakan nyata tanpa mengharapkan pujian atau pengakuan.
Kiai Ubaid mengilustrasikan bahwa menyelamatkan nyawa manusia bahkan harus didahulukan daripada melanjutkan ibadah fardhu dalam kondisi darurat, yang menunjukkan betapa tingginya nilai kemanusiaan dalam pandangan NU.
Strategi Pemulihan Pascabencana Berbasis Komunitas
Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffarrozin (Gus Rozin), menjelaskan bahwa tim yang diterjunkan kali ini terdiri dari 25 relawan lintas profesi. Berbeda dengan tim tanggap darurat pada umumnya, tim ini membawa tenaga ahli seperti teknisi listrik, tukang kayu, tukang batu, hingga tenaga pendamping psikososial atau trauma healing.
Sebelum diberangkatkan, para relawan telah mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) khusus untuk menyelaraskan persepsi teknis dan kesiapan mental. Komposisi relawan yang beragam ini disesuaikan dengan kebutuhan fase recovery yang menitikberatkan pada pembangunan kembali sarana prasarana serta pemulihan kondisi emosional masyarakat agar dapat bangkit secara kolektif.
Fokus Rehabilitasi Sarana Ibadah dan Pendidikan
Ketua NU Peduli Jateng, KH Mandzhur Labib (Gus Mandzhur), menambahkan bahwa fokus utama misi ini adalah rehabilitasi fasilitas umum, khususnya sarana ibadah dan pendidikan keagamaan yang menjadi pilar kehidupan sosial di Aceh. Target utama mencakup perbaikan TPQ/TPA, meunasah atau musala, masjid, madrasah, hingga dayah atau pondok pesantren di wilayah Aceh Timur, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang.
Selain perbaikan fisik, tim juga mendistribusikan bantuan logistik berupa kebutuhan dasar seperti sembako, perlengkapan ibadah (sarung dan mukena), serta paket kitab suci Al-Qur’an untuk mendukung keberlangsungan kegiatan keagamaan masyarakat setempat.
Komitmen Berkelanjutan dan Sinergi Organisasi
Misi kemanusiaan ini dijadwalkan berlangsung selama 20 hingga 25 hari untuk tahap pertama. Untuk mendukung mobilitas di medan yang menantang, NU Peduli menyiagakan armada operasional lengkap, mulai dari truk boks logistik, mobil double cabin, hingga motor trail.
Seluruh bantuan yang disalurkan merupakan hasil donasi kolektif dari warga NU di seluruh Jawa Tengah yang dikelola secara transparan dan akuntabel. Dengan pendekatan pemberdayaan komunitas, relawan NU Peduli tidak hanya bertindak sebagai pemberi bantuan, tetapi juga sebagai fasilitator yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan untuk mempercepat normalisasi kehidupan masyarakat Aceh pascabencana secara berkelanjutan.










