NidaulQuran.id | Tidak ada keberhasilan yang datang tanpa sebuah proses. Begitu pula yang dialami oleh santriwati PPTQ Ibnu Abbas Klaten, Fauziah Anis Afifah, ini. Namanya mulai dikenal sejak kelas 10 karena hafalannya yang telah mencapai 30 juz, juga berbagai prestasi yang ditorehkan lewat lomba di dalam maupun luar pondok.
Namun dibalik segala kesuksesan itu, ada usaha yang tak main-main. Anis sudah diperkenalkan Al-Qur’an oleh orang tuanya sejak usia dini. Lingkungan perumahan yang sangat mendukung membuatnya enjoy untuk menghafal. Bahkan orang tuanya turut membantu dengan memberi asupan gizi yang menunjang hafalan seperti kismis atau madu.
Banyak waktu yang telah di korbankan dan usaha keras dia lakukan sewaktu duduk di bangku kelas satu SD. “Aku tu SD kelas 1 sampe kelas 5 di Rumah Tahfidz Durrunnafis Juanda, Bogor. Tapi tiap Sabtu-Ahad pulang ke rumah, kan cuma deket aja,” terang santriwati yang berasal dari Bogor, Jawa Barat ini.
Di rumah tahfiz tersebut, Anis berhasil menghafal sebanyak 6 juz sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berhenti saat kelas 6 SD, karena ingin fokus untuk UN. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah pertama di Pondok Pesantren Darul Quran Mulia Bogor.
Di sanalah prestasinya mulai meningkat. Sejak kelas 7 dia mulai mengikuti berbagai Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) di dalam atau luar pondok. Salah satunya adalah lomba MHQ kategori 10 juz dan mendapat juara 2 se Provinsi Jawa Barat-Banten.
Itu semua berkat kecintaanya terhadap Al-Qur’an yang ditanamkan orang tuanya sedari kecil. Saat duduk di bangku kelas 8, Anis juga sempat mengikuti Quran Camp selama 2 pekan di Bekasi dan pulang dengan membawa hafalan sebanyak 15 juz. Sampai pada akhirnya sewaktu kelas 9, ia berhasil menyelesaikan setoran hafalan 30 juz namun belum sempat mengikuti ujian.
Perjalanan Anis dalam menghafal Al-Qur’an tidaklah semudah yang kita bayangkan. Kesulitan atau kebosanan itu pasti. Namun santriwati ini tidaklah menganggap itu semua sebuah kendala yang berarti. Yang menjadi masalah bukanlah kebosanan, namun bagaimana cara kita menghadapi rasa bosan tersebut.
Anis pun memilih PPTQ Ibnu Abbas Klaten sebagai kawah candradimuka melanjutkan perjuangannya. Ia mengaku dulunya ingin masuk Ibnu Abbas, karena ingin menjaga hafalan dan memperbaiki akhlak. “soalnya abi ku pengen aku kayak orang Jawa Tengah yang katanya alus-alus itu,” ungkapnya sambil tersenyum.
Di kelas 11, santriwati yang berhasil menyabet juara 1 MTQ Putri se Karesidenan Klaten ini ditempatkan sebagai asisten ustazah, sebelum akhirnya diamanahi memegang kelas 7. Lewat doa, usaha dan yang pasti adalah pertolongan Allah, Anis pun berhasil lulus ujian tahfiz 30 juz pada Sabtu, 13 Oktober 2018 pukul 10.00 WIB.
Anis memberi nasihat kepada seluruh penghafal Al-Qur’an untuk menjaga Al-Qur’an dengan menjaga akhlak dan perilaku. Salah satu penyebab tidak lancarnya hafalan, karena diri sendiri. “Mungkin Kita tanpa sadar pernah berbuat maksiat dan kurang berhati-hati dengan lisan atau makanan yang kita makan. Kadang kita mengeluh disaat diberi kesulitan dalam menghafal,” ungkapnya.
“Padahal, Al-Qur’an adalah nikmat, bila Allah memberi sedikit nikmat saja kita sudah mengeluh bagaimana Allah akan memberi lebih banyak lagi nikmat? Mengeluh sesungguhnya mengurangi berkah dan bersyukur akan menambah nikmat. Jadi kalau kita mendapati kesulitan dalam menghafal, pertama bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan, lalu intropeksi diri terlebih dahulu, memperbaiki kesalahan dan meluruskan niat menghafal. Sesunguhnya, menghafal Al-Qur’an itu mudah,” imbuhnya.
Anis berencana untuk mengambil sanad sewaktu kuliah besok. Terakhir kali, Anis berpesan kepada generasi muda agar mengosongkan waktu untuk Al-Qur’an, bukan mengisi waktu kosong untuk Al-Qur’an. Sebab, kata dia, nanti hasilnya sebanding dengan proses usaha. Oleh karena itu, seberapa besar usaha dalam menghafal, insyaAllah mudah, asal bersabar.[]












