KHUTBAH PERTAMA
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَعَادَ عَلَيْنَا هَذَا الْيَوْمَ السَّعِيْدَ، وَجَعَلَهُ عِيْدًا لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hadirin jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah.
Di pagi yang cerah dan penuh keberkahan ini, suara takbir, tahlil, dan tahmid menggemuruh di seluruh penjuru bumi. Memecah kesunyian, menembus ruang-ruang kalbu, menyatukan kita dalam satu kesadaran: bahwa Allah Maha Besar, dan kita, sekecil apa pun pencapaian duniawi kita, hanyalah hamba-Nya yang fakir akan rahmat-Nya.
Hari ini kita merayakan kemenangan. Madrasah Ramadan selama sebulan penuh telah kita lewati. Namun, pertanyaan terbesarnya bukanlah apakah kita berhasil menahan lapar dan dahaga, melainkan: apakah puasa kita berhasil membentuk karakter kita menjadi lebih tangguh di tengah arus zaman yang bergerak begitu liar?
Hari ini kita hidup di sebuah era yang oleh para ahli disebut sebagai era disrupsi. Sebuah zaman di mana teknologi kecerdasan buatan (AI), media sosial, dan algoritma digital mengubah cara kita hidup, berinteraksi, dan bahkan beragama. Informasi mengalir tanpa jeda. Tren berganti dalam hitungan detik. Di tengah kebisingan dunia maya ini, banyak dari kita yang kehilangan arah, mudah insecure, terjebak dalam kecemasan (anxiety), hingga larut dalam caci maki di kolom komentar.
Lantas, bagaimana kita memposisikan diri sebagai generasi muda Muslim yang tangguh?
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd…
Hadirin yang berbahagia,
Banyak orang hari ini mengukur kemenangan dari jumlah followers, seberapa viral sebuah konten, atau validasi semu di dunia maya. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kemenangan sejati adalah ketika kita mampu mengendalikan hawa nafsu dan terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Surah Ar-Ra’d ayat 11).
Ramadan kemarin adalah kawah candradimuka. Kita dilatih untuk menunda kesenangan (delaying gratification). Kita menahan makan, minum, dan syahwat yang halal di siang hari demi ketaatan. Ini adalah skill terpenting di era modern, di mana kita terbiasa dengan segala hal yang instan.
Jadikan Idul Fitri ini sebagai titik tolak. Jika selama Ramadan kita bisa fokus beribadah dan meninggalkan tontonan yang tidak bermanfaat, mengapa di bulan Syawal kebiasaan buruk itu harus kembali? Jadilah insan yang produktif, yang waktunya dihabiskan untuk karya, bukan sekadar scrolling tanpa jeda.
Tantangan kedua di era disrupsi adalah banjir informasi atau post-truth. Di mana kebohongan (hoaks) yang diulang-ulang bisa dianggap sebagai kebenaran. Fitnah bertebaran di grup-grup chat keluarga hingga lini masa media sosial.
Sebagai Muslim yang terpelajar, Al-Qur’an telah membekali kita dengan algoritma tercanggih sepanjang masa: algoritma Tabayyun (verifikasi).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum karena ketidaktahuan, yang akhirnya membuat kalian menyesal atas perbuatan itu.” (QS. Al Hujurat: 16).
Pemuda Muslim tidak boleh menjadi “sumbu pendek” yang mudah terprovokasi. Jangan mudah menekan tombol share sebelum kita tahu pasti kebenarannya. Ingatlah sabda Nabi ﷺ yang sangat tegas:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Menyebarkan hoaks atau fitnah di internet tidak hanya merusak nama baik seseorang di dunia, tetapi jejak digital itu akan menjadi amal jariyah keburukan yang akan dihisab di akhirat kelak.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd…
Mari kita belajar dari pemuda cerdas, Muhammad bin Ismail, yang kelak dikenal sebagai Imam Bukhari. Dalam mengumpulkan hadits, beliau berjalan ribuan kilometer dari Bukhara ke berbagai penjuru dunia Islam. Suatu hari, beliau melakukan perjalanan berhari-hari hanya untuk menemui seorang perawi hadits.
Setibanya di sana, Imam Bukhari melihat perawi tersebut sedang memanggil kudanya yang lari dengan mengangkat ujung bajunya seolah-olah ada makanan di dalamnya. Ketika kuda itu mendekat, ternyata tidak ada makanan sama sekali. Melihat hal itu, Imam Bukhari langsung memutar balik kendaraannya dan membatalkan niatnya mengambil hadits dari orang tersebut. Beliau berkata, “Jika kepada hewan saja dia berani berbohong, bagaimana mungkin aku bisa mempercayai riwayatnya tentang Rasulullah ﷺ?”
Lihatlah standar kehati-hatian ulama kita. Jika Imam Bukhari hidup di zaman sekarang, beliau pasti adalah orang yang paling teliti menyaring berita sebelum menyebarkannya. Inilah karakter Rahmatan Lil ‘Alamin—menjaga lisan dan jempol kita dari menyakiti orang lain lewat informasi yang salah.
Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,
Hal ketiga yang menjadi fenomena menyedihkan di era digital adalah hilangnya adab. Keberanian seseorang bersembunyi di balik nama anonim membuat kolom komentar media sosial penuh dengan caci maki, perundungan (cyberbullying), dan saling hujat—bahkan antar sesama Muslim yang berbeda pendapat.
Apakah ini cerminan umat Muhammad ﷺ? Sama sekali bukan. Tujuan utama diutusnya Nabi kita adalah sebagai kasih sayang bagi semesta alam.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Rasulullah ﷺ melarang keras umatnya menjadi pribadi yang beracun (toxic) dan suka melaknat. Beliau ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ
Artinya: “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berkata keji, dan suka berkata kotor.” (HR. Tirmidzi)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd…
Mari kita renungkan kisah ketabahan Rasulullah ﷺ saat berdakwah ke Thaif. Beliau tidak disambut dengan karpet merah, melainkan diusir, dicaci maki, dan dilempari batu oleh para pemuda dan anak-anak Bani Tsaqif hingga darah mengalir dari kaki mulia beliau dan menempel pada sandalnya.
Dalam keadaan lelah, terluka, dan bersedih, Malaikat Penjaga Gunung menawarkan bantuan: “Wahai Muhammad, jika engkau mau, aku akan menimpakan dua gunung di kota ini kepada mereka.”
Jika itu terjadi pada kita yang sedang emosi diserang netizen, mungkin kita akan langsung menyetujuinya. Namun, apa jawaban manusia paling agung ini? Beliau ﷺ justru berdoa: “Jangan! Aku justru berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun.”
Muslim yang Rahmatan Lil ‘Alamin adalah mereka yang bisa membalas kebencian dengan kebaikan, yang meredam api amarah dengan kesejukan akhlak. Jadikan akun media sosial Anda sebagai taman-taman surga yang menebar dakwah yang sejuk, inspirasi, dan motivasi, bukan arena adu domba.
Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,
Di akhir khutbah pertama ini, mari kita ubah paradigma kita. Jangan hanya menjadi konsumen pasif dari teknologi dan perubahan zaman. Jadilah kreator, inovator, dan pemuda yang membawa solusi bagi masalah umat. Allah sangat membanggakan pemuda yang kokoh imannya namun nyata karyanya.
Jadilah Ashabul Kahfi di era modern. Allah mengabadikan kisah mereka dalam Al-Qur’an. Jika Ashabul Kahfi mengasingkan diri ke dalam gua untuk menyelamatkan tauhid mereka dari raja yang zalim, maka pemuda hari ini harus mampu menciptakan “gua-gua” penjagaan di tengah kebebasan dunia maya. Bangun komunitas yang positif, ciptakan aplikasi yang bermanfaat, jadilah pengusaha muda yang jujur, jadilah pelajar yang prestatif.
Rasulullah ﷺ menjanjikan bahwa satu dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan eksklusif dari Allah di Padang Mahsyar, di hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya, adalah:
وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ
Artinya: “…dan seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Tuhannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd…
Hadirin jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah,
Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momen restart. Membersihkan hati dari kebencian, meng-upgrade iman kita dengan sistem operasi takwa yang baru, dan menghapus (uninstall) sifat-sifat buruk dalam diri kita.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima puasa kita, dan menjadikan kita barisan pemuda-pemudi yang kelak dibanggakan oleh Rasulullah ﷺ di telaga Al-Haudh. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
(7x) اللهُ أَكْبَرُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ
فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى. فَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمً
Jamaah shalat Idul Fitri yang berbahagia,
Di khutbah kedua ini, khotib ingin mengajak kita semua untuk mewujudkan nilai Idul Fitri dalam tindakan nyata, mulai hari ini, mulai dari lingkaran terdekat kita.
Kepedulian dan kelembutan hati (rahmatan lil ‘alamin) tidak boleh hanya menjadi status di media sosial, sementara orang tua di rumah diabaikan. Kesalehan digital tidak ada artinya jika lisan kita masih tajam kepada ibu dan ayah.
Maka, setelah shalat Id ini selesai, simpanlah gadget Anda sejenak. Peluklah ayah dan ibu Anda. Ciumlah tangannya. Tataplah wajah mereka yang semakin menua. Ucapkan permohonan maaf yang tulus, bukan sekadar broadcast pesan “Minal Aidin wal Faizin” dari WhatsApp.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah terletak pada murka kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi).
Jadikan bakti kepada orang tua sebagai amalan andalan pemuda Muslim dalam meraih kesuksesan di masa depan.
Mari kita tundukkan kepala sejenak, merendahkan hati, menengadahkan tangan, memohon ampun dan rahmat dari Dzat Yang Maha Mendengar.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَارْضَ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ
“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.”
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِينَ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى
“Ya Allah, perbaikilah keadaan pemuda-pemudi kaum muslimin, tunjukilah mereka jalan keselamatan, dan bimbinglah mereka menuju hal-hal yang Engkau cintai dan ridhai.”
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri dari maksiat, dan kecukupan hati.”
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Download naskah khutbahnya di sini.













