Beranda / Warta / Ratusan Siswa Tunanetra Bandung Raya Khatamkan Al-Quran Braille dalam Program Ramadan Inklusif

Ratusan Siswa Tunanetra Bandung Raya Khatamkan Al-Quran Braille dalam Program Ramadan Inklusif

nidaulquran.id-Suasana haru dan penuh kekhusyukan menyelimuti Masjid Ibnu Umi Maktum yang berlokasi di SLB Negeri A Pajajaran, Kota Bandung, pada pertengahan Maret 2026. Ratusan siswa tunanetra dari berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) di wilayah Bandung Raya berkumpul untuk melaksanakan kegiatan Khotmul Qur’an atau khataman Al-Quran Braille secara massal.

Keberhasilan para siswa dalam menuntaskan pembacaan 30 juz Al-Quran menggunakan huruf Braille ini dipandang sebagai sebuah prestasi luar biasa. Hal ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik, khususnya penglihatan, bukanlah penghalang bagi seseorang untuk mendalami kitab suci. Momentum ini juga menjadi sarana bagi masyarakat luas untuk melihat kegigihan para santri disabilitas dalam menjalankan ibadah tadarus selama Ramadan.

Kolaborasi Lintas Lembaga dan Partisipasi Peserta

Mengutip dari website republika.co.id, kegiatan khataman massal ini melibatkan partisipasi yang luas dari berbagai elemen masyarakat dan pendidikan. Tercatat sebanyak 300 siswa-siswi SLB dari wilayah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, hingga Cimahi turut serta. Tidak hanya siswa, acara ini juga didukung oleh kehadiran 200 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang bertugas di SLB se-Bandung Raya serta 200 anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Kota Bandung.

Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama, M. Munir, menyatakan bahwa para siswa SLB adalah anak-anak istimewa yang memiliki kekhususan di mata Tuhan, sehingga sudah sepatutnya mendapatkan perhatian dan layanan pendidikan yang optimal.

Peran para guru PAI di SLB juga mendapatkan apresiasi tinggi karena kesabaran dan kapabilitas ekstra mereka dalam mendampingi siswa berkebutuhan khusus. Kehadiran para pengajar, baik yang difabel maupun non-difabel, menjadi kunci keberhasilan proses pembelajaran Al-Quran Braille yang menuntut ketekunan tinggi.

Pesan Kesetaraan dan Literasi Al-Quran Braille

Membaca Al-Quran Braille bukanlah perkara mudah. Metode ini mengharuskan pembacanya memiliki kepekaan sensorik pada ujung jari untuk mengenali titik-titik timbul yang merepresentasikan huruf hijaiyah.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno, dalam sambutannya menekankan pentingnya semangat batin di atas penglihatan fisik. Beliau menyampaikan pesan motivasi bahwa seseorang boleh saja tidak melihat dengan mata, namun tidak boleh buta dalam hati dan semangat untuk mempelajari agama.

Keberhasilan khataman ini merupakan bukti nyata dari inklusi pendidikan agama. Program ini dirancang untuk memastikan bahwa cahaya Al-Quran dapat diakses oleh siapa pun tanpa batas. Melalui penggunaan mushaf Braille yang standar, para siswa mampu mengikuti ritme pembacaan secara seragam, yang pada akhirnya menumbuhkan rasa percaya diri dan kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta.

Hal ini juga menjadi pengingat bagi publik akan pentingnya penyediaan fasilitas keagamaan yang ramah disabilitas di berbagai tempat ibadah.

Baca juga: Jari yang “Melihat” Cahaya: Kisah Haru Tunanetra Menggapai Ridha Ilahi Lewat Al-Qur’an Braille

Komitmen Pemerintah terhadap Pendidikan Inklusi

Kementerian Agama menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan program madrasah dan sekolah inklusi sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Sejalan dengan arahan Menteri Agama, tidak boleh ada perbedaan layanan pendidikan antara anak disabilitas dan anak pada umumnya.

Setiap anak Indonesia berhak mendapatkan layanan pendidikan yang setara dan berkualitas, termasuk dalam bidang keagamaan. Program ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi pemicu bagi kebijakan yang lebih inklusif di masa depan.

Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama yang turut memberikan apresiasi, diharapkan literasi Al-Quran Braille dapat terus berkembang di seluruh pelosok negeri. Kegiatan di Bandung ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk menyelenggarakan program serupa, guna mewujudkan masyarakat yang lebih peduli dan inklusif terhadap hak-hak penyandang disabilitas.

Tag: