Beranda / Quranic / Kebijaksanaan Syekh Mahfudz At-Tarmasi: Memprioritaskan Menjaga Akidah di Atas Perdebatan Intelektual

Kebijaksanaan Syekh Mahfudz At-Tarmasi: Memprioritaskan Menjaga Akidah di Atas Perdebatan Intelektual

KH. Abdul Qoyyum Mansur (Gus Qoyyum)

nidaulquran.id-Kurikulum pesantren klasik di Nusantara menyimpan kebijaksanaan mendalam, terutama dalam upaya menjaga kemurnian akidah para santri. Ulama kharismatik dari Rembang, KH. Abdul Qoyyum Mansur, yang lebih dikenal sebagai Gus Qoyyum, mengungkapkan alasan utama mengapa kiai-kiai zaman dahulu secara sengaja tidak mengajarkan materi perbandingan mazhab dan perbandingan agama.

Hal tersebut disoroti melalui metode pengajaran Syekh Mahfudz At-Tarmasi, guru dari para ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syansuri. Keputusan untuk membatasi kurikulum perdebatan diambil sebagai bentuk kehati-hatian tingkat tinggi demi melindungi iman Ahlussunnah Wal Jamaah para santri.

Baca juga: Nahdlatut Turats: Gerakan Menjaga Warisan Intelektual Ulama Nusantara

Fokus pada Satu Mazhab

Dalam video ceramahnya yang ditayangkan kanal YouTube Pondok Balaitengahan Kudus, Gus Qoyyum menjelaskan bahwa meskipun Syekh Mahfudz At-Tarmasi merupakan sosok yang sangat alim dan ahli fikih, beliau tidak pernah mengajarkan kitab-kitab perbandingan mazhab seperti Mizanul Kubra atau Rahmatul Ummah.

Beliau lebih memilih fokus mengajarkan kitab fikih mazhab Syafi’i secara mendalam, seperti Tuhfatul Muhtaj dan Fathul Wahhab. Langkah ini bertujuan agar para santri dapat konsisten beribadah pada satu mazhab tanpa kebingungan. Hal ini mencegah terjadinya pencampuradukkan tata cara ibadah, seperti kerancuan dalam urutan rukun wudu.

Kehati-hatian yang sama juga diterapkan dalam pengajaran ilmu tafsir. Syekh Mahfudz At-Tarmasi diketahui tidak mengajarkan Tafsir Al-Kasyaf. Meskipun tafsir tersebut diakui memiliki penjelasan sastra (balaghah) Al-Qur’an yang sangat detail, latar belakang penulisannya yang lekat dengan akidah Muktazilah dinilai berisiko bagi pemahaman santri.

Baca juga: Sebab Terjadinya Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama

Menghindari Perdebatan Antaragama

Selain membatasi perbandingan mazhab, pesantren klasik juga tidak memasukkan ilmu perbandingan agama atau kristologi ke dalam kurikulum mereka. Kitab-kitab perdebatan Islam-Kristen, seperti Izharul Haq karya Rahmatullah Al-Hindi, tidak diajarkan secara umum.

Gus Qoyyum memaparkan adanya alasan keamanan akidah di balik kebijakan tersebut. Para kiai khawatir jika materi perdebatan agama diberikan kepada santri yang pemahamannya belum matang.

Ditakutkan, santri justru lebih mudah memahami argumen dari pihak agamawan lain, tetapi gagal mencerna jawaban bantahan dari ulamanya sendiri. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya bagi fondasi keimanan para pelajar.

Bagi kiai-kiai terdahulu, menjaga akidah jauh lebih penting daripada sekadar memamerkan kecerdasan atau membuka ruang perdebatan intelektual yang berpotensi membingungkan. Meskipun kurikulum pesantren terkesan sederhana, metode ini terbukti sukses menjaga keyakinan umat di jalan Ahlussunnah Wal Jamaah.

Sebagai penutup, Gus Qoyyum berpesan agar masyarakat tidak meremehkan kurikulum pendidikan ulama terdahulu. Meskipun terkesan kurang mengedepankan perdebatan intelektual, langkah tersebut adalah tameng utama dalam menyelamatkan akidah generasi penerus.

Tag: