Beranda / Warta / Jari yang “Melihat” Cahaya: Kisah Haru Tunanetra Menggapai Ridha Ilahi Lewat Al-Qur’an Braille

Jari yang “Melihat” Cahaya: Kisah Haru Tunanetra Menggapai Ridha Ilahi Lewat Al-Qur’an Braille

kisah-tunanetra-tadarus-alquran-braille-ramadan

nidaulquran.id-Di sebuah sudut Masjid Raya Cipinang Muara, Jakarta, suasana hening seketika pecah oleh suara gesekan halus ujung jari di atas kertas tebal yang dipenuhi titik-titik timbul. Tak ada sorot mata yang terpaku pada lembaran putih, namun lantunan ayat suci mengalir begitu fasih.

Bagi ratusan penyandang disabilitas netra yang berkumpul dalam kegiatan Tadarus Nasional Al-Qur’an Braille yang digelar pada Sabtu (7/3/2026), kegelapan fisik bukanlah penghalang untuk menjemput cahaya petunjuk di bulan suci Ramadan.

Menembus Kegelapan dengan Ujung Jari

Bagi seorang tunanetra, membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah, melainkan perjuangan sensorik yang mendalam. Setiap huruf hijaiyah yang diwakili oleh kombinasi enam titik Braille harus diraba dengan kepekaan rasa yang tinggi.

Imam Baroni, salah satu peserta, menceritakan betapa emosionalnya momen ketika ia pertama kali mampu mengeja surat-surat pendek. Butuh waktu hampir satu tahun baginya untuk sekadar mengenali pola-pola dasar tersebut. Namun, rasa lelah itu sirna setiap kali ujung jarinya berhasil menerjemahkan titik-titik mati menjadi untaian doa yang menghidupkan hati.

Pengalaman serupa dirasakan oleh ribuan tunanetra lainnya di seluruh Indonesia. Mereka tidak melihat dunia dengan mata, tetapi mereka “melihat” kebenaran melalui sentuhan. Di balik wajah-wajah khusyuk itu, tersimpan tekad yang kuat untuk tidak membiarkan keterbatasan fisik membatasi kedekatan mereka dengan Sang Pencipta.

Baca juga: Syariat yang Humanis: Keringanan Shalat dan Etika Nabi dalam Memimpin

Perjuangan Melawan Buta Huruf Braille

Meski semangat meluap, realitas di lapangan masih menjadi tantangan besar. Ketua Umum Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI), Yogi Madsuni, mengungkapkan fakta yang cukup menyentuh hati: dari sekitar 3,5 juta penduduk tunanetra Muslim di Indonesia, baru sekitar 10 persen yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an Braille. Kesenjangan literasi ini menjadi alasan utama mengapa kegiatan Tadarus Nasional terus digelar secara konsisten selama lebih dari satu dekade.

Keterbatasan akses terhadap kitab suci Braille dan kurangnya tenaga pengajar menjadi tembok tinggi yang harus didobrak. Melalui wadah ini, ITMI berusaha melakukan evaluasi sekaligus motivasi agar lebih banyak lagi saudara seiman yang mampu mengakses literasi keagamaan secara mandiri.

Program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille bukan sekadar program edukasi, melainkan upaya inklusi agar penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dalam mengejar pahala di bulan Ramadan.

Tadarus Nasional: Saat Keterbatasan Menjadi Kekuatan Bersama

Kegiatan Tadarus Nasional Al-Qur’an Braille tahun ini menjadi istimewa karena melibatkan sekitar seribu peserta, baik yang hadir secara langsung maupun yang terhubung melalui kanal digital dari berbagai pelosok negeri. Kehangatan komunitas sangat terasa; mereka saling mengoreksi bacaan, berbagi teknik meraba yang efektif, hingga saling menguatkan mental.

Baca juga: Menjaga Kesucian Zakat di Tengah Euforia Program MBG

Menghindari “Kebutaan” di Akhirat

Ada sebuah pesan mendalam yang selalu ditekankan dalam setiap pertemuan ini, yakni kutipan dari Surat Thaha ayat 124. Yogi Madsuni mengingatkan bahwa ketunanetraan di dunia adalah takdir yang harus diterima dengan ikhlas, namun kebutaan di akhirat adalah sebuah pilihan yang harus dihindari. “Supaya kita tidak menjadi buta dua kali, Al-Qur’an harus menjadi teman kita,” ujarnya dengan nada yang menggetarkan hati para jemaah.

Filosofi ini menjadi motor penggerak bagi para penyandang disabilitas netra untuk terus belajar. Mereka percaya bahwa meski mata mereka tidak mampu menangkap warna-warni dunia, hati mereka harus mampu menangkap warna-warni hidayah. Dengan Al-Qur’an Braille di tangan, mereka membuktikan bahwa keterbatasan hanyalah persepsi, sementara iman adalah kekuatan tanpa batas.

Ramadan bagi mereka bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang merayakan kemenangan jari-jemari yang berhasil menaklukkan titik-titik Braille demi sebuah khataman. Di akhir kegiatan, air mata haru seringkali menetes, bukan karena kesedihan atas kondisi fisik, melainkan karena rasa syukur yang tak terhingga karena masih diberi kesempatan untuk “membaca” surat cinta dari Tuhan.

Tag: