nidaulquran.id-Kita hidup di zaman yang hampir semua hal tidak bisa lepas dari mesin. Saat berangkat bekerja ke kantor, mengantar anak ke sekolah, hingga para petani yang hendak pergi ke sawah, sebagian besar di antaranya pulang dan pergi mengendarai kendaraan bermesin seperti sepeda motor atau mobil.
Kalau zaman dahulu, zaman kakek nenek atau buyut kita, mereka pergi kemanapun mayoritas masih dengan berjalan kaki. Tidak jarang ada kakek-kakek atau nenek-nenek yang usianya sudah lanjut tetapi masih kuat pergi menempuh jarak puluhan kilometer dengan berjalan kaki.
Memang benar, kemajuan ilmu dan teknologi yang melahirkan alat transportasi berbasis mesin telah banyak memberikan kemudahan bagi manusia dalam beraktivitas. Jarak yang jauh bisa ditempuh dalam waktu yang relatif singkat dan mudah.
Transformasi Nilai dan Fungsi Kendaraan
Kendaraan bermesin seperti motor atau mobil saat ini bagi sebagian masyarakat (tidak semua orang) bukan hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi telah menjelma menjadi alat untuk unjuk gengsi. Baik itu unjuk pencapaian demi mengejar validasi kesuksesan maupun unjuk keberanian dan kemampuan ketika mengendarai kendaraan di jalan.
Memiliki motor bagus atau mobil mewah adalah hal yang sah-sah saja dan tidak ada salahnya sama sekali bagi setiap orang. Begitu pula memilih naik kendaraan yang biasa saja juga tidak ada salahnya. Semua sesuai kebutuhan masing-masing.
Baca juga: Mengenal Kriteria Pasangan Till Jannah untuk Kebahagiaan Dunia Akhirat
Menghormati Sesama Pengguna Jalan
Ada satu hal penting yang patut diterapkan bagi setiap pengguna kendaraan, baik kendaraan yang level biasa saja, menengah, maupun level mewah. Satu hal penting itu adalah sikap saling menghormati kepada sesama pengguna jalan.
Saat kita melakukan perjalanan ke tempat kerja, kita bisa melihat secara umum bagaimana sikap-sikap pengguna jalan. Ada yang berkendara dengan “memakan” jalur yang berlawanan, ada yang menggeber-geber motornya hingga menimbulkan suara yang bising, ada yang tiba-tiba belok tanpa menyalakan lampu sein, ada yang tidak sabaran di lampu merah seperti membunyikan klakson terus menerus padahal lampu lalu lintas baru saja berganti dari merah ke hijau sedetik yang lalu, dan berbagai sikap pengguna jalan lainnya.
Baca juga: Menemukan Kedamaian di Era Krisis
Zaman kakek nenek atau buyut kita yang saat itu pergi kemana-mana masih berjalan kaki, mungkin jarang didapati sikap-sikap seperti pengguna jalan zaman sekarang yang serba tidak sabaran dan ugal-ugalan.
Selain menyehatkan tubuh, pergi dengan berjalan kaki juga membuat seseorang lebih teliti memperhatikan hal-hal yang ada di sekitarnya. Pejalan kaki bisa berbincang-bincang atau mengobrol dengan pejalan kaki lainnya yang searah dengannya, dari sinilah tumbuh ikatan sosial yang kuat dan kepedulian yang tinggi seperti berbagi air minum maupun bekal di jalan.
Lalu, apakah zaman sekarang kita harus meninggalkan alat transportasi modern dan kembali berjalan kaki kemanapun kita pergi? Tentu saja tidak. Tidak ada orang yang ingin kembali ke zaman dahulu yang alat transportasinya masih serba terbatas.
Hidup di zaman ini bukan berarti kita boleh meninggalkan nilai-nilai baik yang telah diwariskan oleh kakek nenek atau buyut kita. Dalam Islam ada istilah al-muhafadzatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (melestarikan hal-hal baik yang terdahulu sembari mengambil hal-hal baru yang lebih baik). Artinya berbagai kebaikan yang telah dicontohkan dan dipraktikkan oleh para pendahulu sangat perlu kita lestarikan sekaligus berusaha untuk memperkayanya dengan hal-hal baik yang baru.
Urgensi Keselamatan Berkendara
Saling menghormati hak sesama pengguna jalan adalah wujud nyata rasa peduli kepada sesama. Saat di jalan raya kita harus menyadari bahwa bukan hanya kita yang memiliki urusan penting yang harus segera ditunaikan.
Ada orang yang berangkat kerja untuk mencari nafkah bagi keluarganya di rumah, ada orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah untuk meraih masa depan yang cerah, ada orang yang pergi menjenguk saudaranya yang sakit, ada pedagang yang berangkat ke pasar untuk berjualan, dan berbagai macam kepentingan lainnya yang dimiliki para pengguna jalan.
Sekali lagi, bukan hanya diri kita yang memiliki kepentingan, jalan raya ini dibangun bukan untuk kita pribadi. Sikap saling menghormati antar sesama pengguna jalan jika benar-benar dipraktikkan akan menumbuhkan rasa saling menyayangi. Saling menyayangi kepada sesama adalah salah satu ajaran Islam yang saat ini mulai jarang dipraktikkan di jalan raya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam pernah bersabda:
مَنْ لاَ يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
Artinya: “Siapa yang tidak berkasih sayang, dia pun tidak akan mendapatkan kasih sayang”. (HR. Abu Dawud).
Apabila setiap pengguna jalan memiliki rasa kasih sayang yang tinggi kepada sesamanya tentu mereka akan semakin berhati-hati saat berkendara di jalan raya. Mereka akan berfikir ribuan kali jika hendak berkendara secara ugal-ugalan serta melanggar aturan yang dapat mencelakai dirinya sendiri dan orang lain.












