Beranda / Kajian / Tarbawi / Sifat Qana’ah dan Kemunduran Islam: Benarkah Membuat Umat Tertinggal?

Sifat Qana’ah dan Kemunduran Islam: Benarkah Membuat Umat Tertinggal?

Manuskrip Arab 'Al-Jabr' dan sebuah tablet modern yang bersinar samar-samar.

oleh: Muhammad Rizal S.E
(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Internasional Darullghah Wadda’wah)

nidaulquran.id-Di zaman modern yang serba canggih ini, kita tidak terlepas dari pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa kiblat sains dan penemuan terbaru saat ini didominasi oleh ilmuwan Barat. Padahal, banyak pencetus ilmu modern sejatinya berasal dari kalangan ilmuwan dan ulama muslim.

Merekalah yang memberikan sumbangsih penting dalam merumuskan teori-teori dasar sains. Sebut saja Al-Khawarizmi yang ahli aljabar, Ibnu Sina di bidang kedokteran, hingga Ibnu Khaldun yang dijuluki Bapak Ekonomi lewat kitabnya, Al-Muqaddimah. Bahkan, karya-karya mereka masih terus dijadikan rujukan yang relevan oleh ilmuwan Barat hingga kini.

Ironisnya, umat Islam saat ini sering kali hanya bisa meniru tanpa memiliki kreativitas untuk menciptakan inovasi baru. Kondisi ini membuat umat ibarat buih yang terombang-ambing di lautan—lemah, tak berdaya, dan hanya mengikuti arus. Mereka berjumlah besar, tetapi seolah tak punya kekuatan saat melihat saudaranya dizalimi.

Mengapa Umat Islam Mengalami Kemunduran?

Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah kemunduran ini semata-mata karena tragedi hancurnya pusat literasi Islam di masa lalu, seperti pembakaran Baitul Hikmah di Baghdad pada 1258 M atau hancurnya perpustakaan di Andalusia pada akhir abad ke-15 M? Ataukah ada penyebab lain yang justru berakar pada pola pikir (mindset) umat Islam saat ini?

Menurut hemat penulis, kemunduran ini tidak hanya disebabkan oleh hilangnya literatur fisik, melainkan adanya pergeseran pola pikir yang memengaruhi gaya hidup. Gaya hidup yang keliru ini membuat umat menjadi lemah, ragu, takut mencoba, dan tidak kreatif. Salah satu akar masalahnya adalah kesalahan dalam mendefinisikan konsep qana’ah.

Meluruskan Makna Sifat Qana’ah yang Keliru

Ketika mendengar kata qana’ah, apa yang terlintas di benak kita? Acap kali kata ini diartikan sekadar “merasa cukup dengan apa yang dimiliki”—baik itu ilmu, harta, maupun jabatan.

Seseorang cenderung merasa berpuas diri di zona nyamannya karena hal-hal tersebut sudah cukup mendatangkan penghormatan dan pengaruh di masyarakat. Pemaknaan yang sempit ini secara tidak langsung melegitimasi sifat malas, membuat umat enggan berkembang, dan membenarkan kemunduran di balik tameng kata qana’ah. Akibatnya, umat Islam terhenti (stuck) di level yang sama tanpa ada dorongan untuk maju.

Definisi Qana’ah yang Sebenarnya dalam Islam

Lalu, bagaimana definisi qana’ah yang sebenarnya? Sifat qana’ah adalah kerelaan menerima pemberian Allah Swt. dan merasa cukup atasnya setelah melakukan ikhtiar (usaha) semaksimal mungkin. Sikap ini baru muncul sebagai hasil dari perjuangan dan kerja keras yang telah dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Qana’ah berfungsi sebagai benteng dari kerakusan dunia dalam mengelola nikmat Allah—baik berupa ilmu, harta, maupun jabatan. Seorang muslim yang qana’ah akan loyal terhadap agamanya dan mendedikasikan dirinya untuk kemaslahatan umat, serta berusaha menyumbangkan apa yang ia miliki demi kemajuan peradaban.

Baca juga: Menemukan Kedamaian di Era Krisis: Tafsir Al-Qur’an dan Kunci Kesehatan Mental

Teladan Sifat Qana’ah dari Rasulullah dan Para Sahabat

Banyak kisah teladan dari Nabi Muhammad saw. dan para sahabat yang membuktikan bahwa qana’ah justru menjadi fondasi untuk memajukan dan menguatkan umat.

Misalnya, pasca-Perang Hunain, umat Islam mendapatkan ganimah (harta rampasan) berupa ribuan unta dan kambing. Apa yang Rasulullah saw. lakukan dengan harta sebanyak itu? Beliau tidak menumpuknya, melainkan membagikannya kepada para pemuka Quraisy dan kabilah-kabilah Arab yang baru memeluk Islam. Hal ini menggambarkan besarnya loyalitas dan visi beliau untuk melembutkan hati para mualaf sekaligus memperlihatkan kekuatan Islam.

Kebijakan Umar bin Khattab dan Kesederhanaan Ilmuwan Muslim

Begitu pula dengan Khalifah Umar bin Khattab. Saat menjabat, beliau mengelola Baitulmal dengan sangat baik, bukan untuk kepentingan pribadi melainkan untuk kesejahteraan umat. Salah satu kebijakannya adalah memberikan tunjangan dari Baitulmal kepada seluruh masyarakat, bahkan kepada bayi yang baru lahir.

Di sisi lain, cendekiawan muslim seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, dan Al-Khawarizmi tetap memilih hidup sederhana, mendedikasikan ilmu mereka untuk membantu dan membangun peradaban umat. Kisah-kisah tersebut menegaskan bahwa sifat qana’ah yang sejati akan melahirkan loyalitas dan kepedulian terhadap kemaslahatan bersama. Sikap ini memotivasi kita untuk menunjang pendidikan Islam, mengembangkan sains, serta mendukung setiap langkah yang menyejahterakan umat.

Baca juga: Ketika Iman Tidak Hanya Dipahami, Tapi Dirasakan

Kesimpulan: Qana’ah Bukan Berarti Pasrah dan Miskin

Penulis tidak pernah mengatakan bahwa orang yang qana’ah harus hidup miskin atau melarat. Orang yang qana’ah adalah mereka yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa berfoya-foya. Mereka memilih fokus pada kemaslahatan umat alih-alih tamak terhadap harta, kekuasaan, atau ilmu.

Tetaplah semangat dalam belajar, bekerja keras, dan bertanggung jawab atas amanah yang diemban. Namun, jangan lupakan bahwa pada setiap hal yang kita miliki, terdapat hak-hak orang lain. Jadilah orang terbaik di bidang yang Anda tekuni, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tag: