KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتعِينُهُ وَنَسْتغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
وَقَالَ الله تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, karena hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia maupun di akhirat.
Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan abadi kita, Baginda Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istikamah meniti jalan sunnah hingga akhir zaman.
Saudara-saudara rahimakumullah,
Kita hari ini hidup di sebuah masa yang barangkali tak pernah terbayangkan oleh generasi sebelumnya. Sebuah era di mana dunia ada di genggaman tangan melalui layar smartphone. Berdasarkan laporan We Are Social tahun 2024, pengguna internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 221 juta orang, di mana rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu lebih dari 7 jam sehari di dunia digital.
Namun, di balik kemudahan ini, muncul tantangan baru berupa Globalisasi dan Akal Imitasi (AI). Data menunjukkan bahwa arus informasi yang tak terbendung seringkali membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan syariat. Generasi muda kita saat ini adalah subjek utama dari revolusi ini. Jika karakter mereka tidak kokoh, mereka akan hanyut dalam arus informasi yang tanpa filter, degradasi moral, dan krisis identitas.
Islam tidak pernah mengharamkan teknologi. Namun, Islam menekankan bahwa adab mendahului ilmu. Karakter atau akhlak adalah pembeda utama antara manusia dengan mesin kecerdasan buatan. AI mungkin bisa mengolah data jutaan kali lebih cepat, namun AI tidak memiliki qalbu, tidak memiliki dlomir (suara hati), dan tidak mengenal rasa takut kepada Allah (khasyyah). Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak.” (HR. Ahmad No. 8917)
Karakter Islami bagi pemuda bukan sekadar formalitas, melainkan benteng pertahanan terakhir di tengah gempuran ideologi global. Pentingnya pemahaman mendalam bagi mahasiswa atau pemuda ditekankan agar mereka tidak sekadar tekstual, melainkan mampu melakukan takhrij dan memahami konteks zaman.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Di era di mana arus informasi mengalir tanpa bendungan dan algoritma media sosial seringkali lebih mengenal kita daripada diri kita sendiri, tantangan bagi generasi muda Muslim kian nyata. Kita tidak ingin melahirkan generasi yang cerdas secara digital namun rapuh secara spiritual. Oleh karena itu, setidaknya ada tiga pilar utama yang harus kita bangun kembali dalam jiwa pemuda kita:
Pertama, Akidah yang Kokoh (Al-Aqidah al-Rasikhah).
Akidah bukan sekadar pelajaran di kelas-kelas agama, melainkan jangkar yang menahan kapal agar tidak terseret badai syubhat. Pemuda Muslim harus memiliki keyakinan bahwa Allah SWT adalah pengawas tunggal atas setiap aktivitasnya, baik di dunia nyata maupun di balik layar gawai mereka.
Kedua, Integritas dalam Mencari Informasi (Budaya Tabayyun).
Al-Qur’an telah memberikan protokol yang luar biasa dalam menghadapi limpahan informasi. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)
Ayat ini adalah peringatan keras bagi generasi muda agar tidak menjadi “generasi rapuh,” yang menyebarkan berita tanpa verifikasi atau mengikuti tren tanpa pertimbangan moral. Setiap share dan like adalah rekam jejak digital yang akan menjadi saksi di hadapan Allah kelak.
Ketiga, Menemukan Role Model yang Sejati.
Hadirin sekalian, krisis terbesar generasi saat ini adalah krisis keteladanan. Mereka lebih mengenal kehidupan pribadi para influencer duniawi daripada mengenal arsitek peradaban Islam.
Mari kita tengok dengan saksama kisah Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau adalah sosok yang dijuluki sebagai Habrul Ummah (Samudera Ilmu Umat ini). Sejak belia, Ibnu Abbas tidak membuang waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Beliau memiliki rasa haus akan ilmu yang tak terhingga.
Dikisahkan bahwa beliau tidak menunggu ilmu datang kepadanya, melainkan beliaulah yang mendatangi pintu-pintu rumah para sahabat senior. Beliau pernah bercerita bahwa ketika ingin menanyakan sebuah hadits kepada seorang sahabat, beliau mendapati sahabat tersebut sedang tidur siang. Beliau tidak mengetuk pintunya karena rasa hormat yang tinggi, melainkan beliau membentangkan kainnya dan tidur di depan pintu rumah sahabat tersebut hingga debu-debu jalanan Mekkah menerpa wajahnya.
Ketika sahabat itu keluar dan terkejut melihat sepupu Rasulullah ﷺ berada di depan pintunya, Ibnu Abbas dengan penuh ketegasan dan ketundukan berkata: “Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.”
Inilah potret “Generasi Emas” yang kita dambakan. Ibnu Abbas memadukan kecerdasan intelektual yang luar biasa dengan ketundukan total kepada Allah. Beliau membuktikan bahwa pemuda yang cerdas harus dibimbing oleh karakter yang kuat dan adab yang tinggi. Beliau adalah role model yang nyata—seorang pemuda yang menguasai tafsir, hukum, dan sastra, namun sujudnya tetap rendah di hadapan Sang Pencipta. Sangat jauh berbeda dengan fenomena influencer masa kini yang terkadang mengejar popularitas namun kosong dari nilai-nilai ketuhanan dan kedalaman ilmu.
Maka, tugas kita sebagai orang tua dan pendidik adalah memastikan bahwa generasi muda kita memiliki fondasi seperti Ibnu Abbas: teguh dalam prinsip, gigih dalam menuntut ilmu, dan beradab dalam bertindak. Dengan akidah yang kuat dan teladan yang benar, insyaAllah generasi muda kita akan menjadi pemimpin masa depan yang tidak hanya membawa kemajuan teknologi, tetapi juga membawa keberkahan bagi bumi ini.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، حَمْدًا يَلِيقُ بِجَلَالِ وَجْهِهِ وَعَظِيمِ سُلْطَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ ٱللَّهِ. ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. أَمَّا بَعْدُ،
Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Sebagai penutup, marilah kita menyadari bahwa globalisasi dan AI adalah keniscayaan. Kita tidak bisa lari darinya, namun kita bisa mewarnainya. Wasiat takwa kedua ini kembali menekankan pentingnya menjaga diri dan keluarga:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim [66]: 6)
Pesan konkret untuk kita semua: awasi penggunaan gadget anak-anak kita, arahkan mereka pada konten yang membangun karakter, dan jadilah teladan bagi mereka dalam berinteraksi dengan teknologi. Jadikan AI sebagai alat bantu ibadah, bukan pengganti nilai kemanusiaan dan spiritualitas kita.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِينَ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لِوَالِدِيهِمْ وَأُمَّتِهِمْ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
. اِنَّ اللهَ يَاْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ, اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ, يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ












