KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin jamaah salat Jumat yang dirahmati Allah,
Segala puji marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang senantiasa melimpahkan nikmat iman, Islam, serta kesehatan kepada kita semua. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad ﷺ, sang pendidik sejati yang telah mengubah wajah dunia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam yang terang benderang.
Di mimbar yang mulia ini, khatib wasiatkan kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian: Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dengan sebenar-benar takwa. Jalankan segala perintah-Nya dan jauhilah segala larangan-Nya, di mana pun kita berada, kapan pun jua.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mari kita renungkan sejenak sebuah pertanyaan mendasar tentang kehidupan dan keluarga kita. Kita mengirim anak-anak kita ke sekolah setiap pagi, membekali mereka dengan fasilitas terbaik, membayar biaya pendidikan yang tidak murah, hingga mereka duduk di bangku perguruan tinggi. Namun, tahukah kita apa muara dari semua itu?
Sebuah paradoks pendidikan modern di Indonesia saat ini terjadi: durasi sekolah semakin panjang, namun tingkat kemandirian dan kejelasan visi hidup siswa justru menurun. Banyak lulusan perguruan tinggi yang, setelah menghabiskan waktu sekitar 18 tahun di bangku sekolah, masih kebingungan dan bertanya pada dirinya sendiri: “Saya harus jadi apa?” atau “Apa makna hidup saya?”. Fenomena ini sangat memprihatinkan dan menuntut kita sebagai Muslim untuk mengevaluasi kembali arah pendidikan generasi kita.
Jamaah yang budiman,
Mengapa fenomena “sarjana bingung” ini bisa terjadi? Masalah utamanya terletak pada apa yang disebut sebagai Loss of Adab (hilangnya adab) dan Confusion of Knowledge (kekacauan ilmu). Sistem pendidikan saat ini sering kali terlalu pragmatis dan materialistis. Keberhasilan seorang anak didik hanya diukur dari besaran gaji yang akan ia terima nanti, atau dari keberhasilannya menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit. Di sisi lain, integritas moral dan pengenalan terhadap Sang Pencipta justru dikesampingkan.
Padahal, dalam Islam, pendidikan bukanlah sekadar proses transfer informasi demi kelulusan ujian. Pendidikan sejati adalah proses penanaman nilai-nilai kebaikan ke dalam diri manusia. Tanpa adanya adab, ilmu setinggi apa pun hanya akan melahirkan individu yang pintar namun berkarakter jahat, atau orang yang pintar tetapi tidak tahu diri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang pentingnya menanamkan tauhid dan adab sebelum hal-hal lain, sebagaimana diabadikan dalam nasihat Luqman kepada anaknya:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (QS. Luqman [31]: 13)
Hakikat adab adalah kemampuan untuk menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang semestinya, dan ini termasuk hal yang paling luhur: menempatkan Allah sebagai pusat dari seluruh aspek kehidupan kita. Apabila fondasi tauhid dan adab ini hancur, maka akan timbul kekacauan ilmu. Banyak siswa dan mahasiswa kita mati-matian mengejar ilmu Fardhu Kifayah (seperti kedokteran, teknik, dan ekonomi) secara sangat mendalam, namun mereka buta terhadap ilmu Fardhu Ain (seperti ilmu tauhid, dasar-dasar ibadah, dan akhlak). Akibatnya, terjadi kekosongan jiwa di dalam diri generasi muda kita.
Rasulullah ﷺ bersabda terkait bahayanya ilmu yang tidak membawa manfaat bagi jiwa dan kedekatan kepada Allah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim No. 2722)
Hadirin, sungguh tepat ungkapan yang menyatakan: “Masalah besar kita adalah Loss of Adab. Orang pintar banyak, tapi orang yang tahu diri dan tahu Tuhannya semakin langka”. Adab mendahului ilmu; ini adalah prinsip mutlak yang dipegang erat oleh para ulama salaf kita.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Pertanyaan berikutnya yang perlu kita jawab adalah: mengapa anak-anak muda kita terkesan rapuh dan lambat mandiri?
Sistem pendidikan modern secara tidak langsung mengadopsi sistem kolonial yang tujuannya adalah mencetak buruh atau pegawai, bukan mencetak pemimpin atau manusia yang beradab. Sistem Barat ini menciptakan konsep “remaja” yang memperpanjang masa kanak-kanak, memaksa mereka tetap menjadi “anak-anak” yang bergantung hingga memasuki usia 20-an tahun. Fenomena ini dikenal dengan krisis kedewasaan.
Bandingkan dengan konsep kedewasaan di dalam Islam. Islam tidak mengenal fase “remaja yang bebas dari tanggung jawab”. Dalam sejarah dan syariat Islam, usia 15 tahun dipandang sebagai usia kemandirian, di mana seorang anak sudah dianggap dewasa (baligh/mukallaf). Di usia ini, mereka sudah dituntut untuk bertanggung jawab penuh, memikul beban syariat, dan memiliki peran sosial yang nyata di tengah masyarakat.
Anak usia 15 tahun dalam Islam itu sudah dewasa; mereka jangan terus diperlakukan seperti anak kecil yang hanya memikirkan uang jajan dan asyik bermain game.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ada sebuah kisah yang sangat inspiratif dari lembaran sirah Nabawiyah.
Menjelang akhir hayat Rasulullah ﷺ, beliau membentuk sebuah pasukan besar untuk menghadapi pasukan Romawi, kekuatan adidaya terbesar saat itu. Siapakah yang ditunjuk oleh Nabi ﷺ menjadi panglima pasukan ini? Apakah Abu Bakar? Umar? Ataukah Khalid bin Walid sang Pedang Allah?
Bukan. Rasulullah ﷺ menunjuk Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma.
Tahukah hadirin berapa usia Usamah saat diangkat menjadi panglima perang yang membawahi para sahabat senior? Usianya baru menginjak 18 tahun! Di usia belasan tahun, Usamah tidak lagi memikirkan kesenangan duniawi yang semu.
Ia memiliki visi yang sangat jelas: membela kalimat Allah dan memimpin pasukan kaum Muslimin. Ia telah menjadi seorang mukallaf sejati yang matang secara spiritual, emosional, dan kepemimpinan. Inilah hasil dari kurikulum pendidikan madrasah kenabian yang mengutamakan penanaman tauhid dan adab sebelum pemberian keahlian duniawi.
Hadirin jamaah yang berbahagia,
Kegagalan pendidikan formal hari ini sering kali bermula dari kegagalannya dalam mendefinisikan apa itu “manusia sukses”. Apakah sukses itu berarti memiliki gelar berderet, bekerja di perusahaan multinasional, dan bermobil mewah?
Dalam Islam, sukses adalah menjadi Insan Kamil (manusia yang sempurna dan beradab), bukan sekadar memiliki sebuah pekerjaan bergengsi. Ingatlah selalu bahwa “Pendidikan itu bukan sekadar cari kerja, tapi cari ridha Allah. Kalau ridha Allah sudah didapat, dunia akan mengikuti”.
Pendidikan sejati bertujuan untuk mewujudkan firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)
Oleh karena itu, janganlah kita memulai pendidikan anak-anak kita dengan pertanyaan yang salah, seperti “Nanti mau kerja apa?”. Seharusnya, visi hidup mereka dibangun di atas landasan Ubudiyah kepada Allah, dengan pertanyaan: “Bagaimana saya bisa bermanfaat bagi agama dan sesama manusia melalui potensi yang saya miliki?”.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sebagai kesimpulan pada khutbah pertama ini: Mari kita evaluasi arah pendidikan generasi penerus kita. Jangan biarkan anak-anak kita menghabiskan waktu belasan tahun hanya untuk mengejar ijazah duniawi, namun kosong jiwanya, rapuh mentalnya, dan buta terhadap Tuhannya.
Ajarkan mereka adab sebelum ilmu. Tanamkan ilmu Fardhu Ain yang kokoh sebelum mereka tenggelam dalam ilmu Fardhu Kifayah. Bangunlah kedewasaan mereka sejak dini.
Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua agar mampu mendidik generasi yang beradab, berjiwa ksatria, dan siap memikul amanah agama serta bangsa ini.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي كُلِّ زَمَانِ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Melengkapi apa yang telah khatib sampaikan pada khutbah pertama, marilah kita melakukan perombakan orientasi pendidikan kita—dari sekadar sarana mencari ijazah menjadi jalan untuk mencari rida Allah dan kemanfaatan bagi umat manusia.
Untuk itu, ada beberapa langkah praktis yang harus kita terapkan di dalam keluarga kita:
- Perbaiki Adab Sebelum Kuliah: Wahai para orang tua dan siswa, pastikanlah bahwa karakter dan pemahaman agama dasar (Fardhu Ain) sudah kokoh terbentuk sebelum anak-anak terjun memperdalam spesialisasi ilmu di bangku perguruan tinggi.
- Percepat Kemandirian Anak: Doronglah anak-anak yang telah menginjak usia 15 tahun (setingkat SMA) untuk mulai berpikir secara mandiri. Mereka harus bertanggung jawab atas ibadahnya sendiri, dan memiliki peran sosial di lingkungannya, bukan sekadar hidup hanya untuk belajar menghadapi ujian sekolah.
- Tingkatkan Literasi Worldview Islam: Bekali anak-anak dengan pemahaman sejarah dan pemikiran Islam. Hal ini sangat krusial agar kelak saat mereka masuk ke dunia kerja, jiwa mereka tidak mudah terombang-ambing oleh arus ideologi sekuler atau materialisme yang mendominasi saat ini.
- Tentukan Visi Hidup Berbasis Ubudiyah: Arahkan setiap langkah pendidikan mereka untuk selalu memprioritaskan kebermanfaatan bagi agama dan sesama dengan memaksimalkan potensi diri yang dianugerahkan Allah.
Marilah kita doakan bersama agar Allah melimpahkan rahmat dan kesalehan bagi generasi penerus kita, dan menyatukan hati kita dalam membimbing mereka menuju jalan yang lurus.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.













