Oleh : Abu Muhammad Ilyas
Aktivis Dakwah dan Arsitek
Setiap Ramadan, masjid hampir selalu mengalami peningkatan jumlah jamaah. Shaf salat bertambah panjang dan berbagai kegiatan keagamaan berlangsung lebih semarak. Tadarus, kajian, buka puasa, dan sedekah menjadi bagian kehidupan masyarakat.
Namun, suasana tersebut sering berubah setelah Idulfitri. Masjid kembali sepi dan sebagian kegiatan keagamaan mulai berkurang. Fenomena ini perlu dilihat sebagai persoalan pembinaan umat, bukan sekadar persoalan kemalasan.
Allah menjelaskan tujuan puasa dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, yaitu agar manusia mencapai ketakwaan. Penjelasan tersebut dapat ditemukan dalam Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, Lentera Hati, 2002.
Dengan demikian, Ramadan seharusnya menjadi madrasah bagi kehidupan seorang muslim. Ukuran keberhasilannya bukan hanya ramainya masjid selama Ramadan. Ukurannya adalah perubahan amal setelah Ramadan berakhir.
Di sinilah konsep pembinaan berkelanjutan menjadi sangat penting. Salah satu contoh praktik yang dapat dikaji adalah program dakwah Jamaah Tabligh.
Dalam tradisi Jamaah Tabligh, terdapat kegiatan ta’lim, musyawarah, jaulah, dan pengorbanan waktu melalui khuruj fi sabilillah. Kegiatan tersebut diarahkan sebagai tarbiyah untuk memperbaiki iman, amal, akhlak, dan penghambaan kepada Allah.
Khuruj dalam konteks tersebut bukan sekadar perjalanan berpindah tempat. Ia dipahami sebagai sarana latihan diri agar seseorang belajar menghidupkan amal dan dakwah dalam kehidupan sehari-hari.
Gagasan mengenai pembinaan melalui amal, lingkungan, dan kebersamaan juga memiliki dasar kuat dalam literatur dakwah. Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi menjelaskan berbagai aspek usaha dakwah dalam Fadhail A’mal, edisi Urdu, Maktaba Al-Shaykh, 1970-an.
Prinsip kesinambungan amal juga dikenal dalam hadis Nabi. Dalam Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus.
Dari sini terdapat pelajaran penting bagi pengelolaan masjid. Ramadan seharusnya tidak diperlakukan sebagai puncak kegiatan yang kemudian selesai. Ramadan harus menjadi momentum membangun kebiasaan yang berlangsung sepanjang tahun.
Praktik ta’lim setelah salat, misalnya, dapat menjadi sarana menjaga hubungan jamaah dengan ilmu. Musyawarah dapat membangun kepedulian terhadap kondisi masjid dan masyarakat.
Jaulah juga dapat menjadi sarana menghubungkan kembali masjid dengan masyarakat. Jamaah tidak hanya menunggu orang datang ke masjid, tetapi berusaha mendekati masyarakat dengan cara yang bijaksana.
Sementara itu, khuruj dapat dipandang sebagai salah satu bentuk latihan pengorbanan waktu. Tujuannya adalah membangun kesadaran bahwa agama membutuhkan perhatian, tenaga, waktu, dan kesungguhan.
Tentu, setiap metode dakwah memiliki karakteristik dan konteks masing-masing. Karena itu, praktik Jamaah Tabligh tidak harus disalin secara keseluruhan oleh setiap masjid.
Namun, semangat pembinaan berkelanjutannya layak menjadi bahan pembelajaran. Masjid membutuhkan aktivitas yang menghubungkan Ramadan dengan kehidupan sebelas bulan berikutnya.
Penelitian tentang manajemen masjid juga menunjukkan pentingnya perencanaan dan pengorganisasian kegiatan. Jimmi Hendrik dan kawan-kawan membahas hal tersebut dalam ULIL ALBAB: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2023.
Artinya, masjid perlu mempunyai kalender pembinaan setelah Ramadan. Ta’lim rutin, kajian keluarga, pembinaan pemuda, kegiatan sosial, dan program dakwah dapat disusun secara teratur.
Jika Ramadan hanya menghasilkan keramaian sementara, maka energi besar tersebut akan cepat menghilang. Sebaliknya, jika Ramadan menghasilkan kebiasaan, jamaah akan memiliki fondasi untuk mempertahankan amal.
Karena itu, pertanyaan penting bagi pengurus masjid bukan sekadar bagaimana membuat masjid ramai. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana membuat jamaah terus terikat dengan masjid.
Ramadan memang berakhir, tetapi proses tarbiyah tidak boleh berhenti. Masjid harus menjadi tempat manusia belajar, beribadah, berdakwah, bersaudara, dan mengabdi kepada masyarakat.
Ramadan seharusnya bukan musim ibadah, tetapi titik awal perubahan. Masjid seharusnya bukan hanya ramai pada Ramadan, tetapi hidup sepanjang tahun.













