Oleh : Abu Syafiq Al Madani
nidaulquran.id-Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan, dan mereka akan melakukan banyak hal untuk bisa mendapatkan kebahagiaan tersebut. Akan tetapi, sebagian manusia mengambil jalan yang salah, yang disebabkan oleh syahwat serta kebodohan mereka. Hingga akhirnya bukan kebahagiaan yang mereka dapatkan, melainkan kecelakaan dan kesengsaraan.
Di dalam Al-Qur’an, Hadits shahih, serta penjelasan para Sahabat radhiyallaahu ‘anhu dan perkataan para Ulama salafus shalih, makna kebahagiaan (as-sa’adah) memiliki hakikat yang sangat berbeda dengan pandangan materialistis. Kebahagiaan di dalam Islam bukanlah sekadar meluapnya emosi kesenangan sesaat karena dorongan syahwat, atau besarnya pencapaian prestasi duniawi, melainkan ketenangan jiwa (thuma’ninah), keberkahan hidup, serta keselamatan di akhirat kelak.
Makna Kebahagiaan dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an menegaskan bahwa kebahagiaan sejati berakar pada ketenteraman batin yang bersumber dari keterikatan hamba dengan Penciptanya. Sebab tiada kebahagiaan, melainkan karena kedekatan dengan yang dicintai dan dirindukan.
Kehidupan yang Baik (Hayatan Thayyibah) :
Allah ﷻ berfirman,
ممَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…” (QS. An-Nahl : 97)
Para mufassir seperti Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu dan Al-Hasan Al-Bashri menjelaskan bahwa hayatan thayyibah dalam ayat ini bermakna rezeki yang halal, rasa qana’ah (merasa cukup), dan manisnya ketaatan di dalam hati.
Ketenangan Hati melalui Tauhid (At-Thuma’ninah) :
Allah ﷻ berfirman,
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d : 28)
Makna Kebahagiaan dalam Hadits Shahih
Rasulullah ﷺ meluruskan pemahaman manusia tentang hakikat kebahagiaan dan kekayaan
Kekayaan dan Kebahagiaan Hakiki Adalah Kekayaan Hati :
“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (kebahagiaan) yang hakiki adalah kaya hati.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Merasa Aman dan Cukup Hari Ini :
“Barangsiapa di antara kalian mendapati harinya dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat jasmaninya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia beserta isinya telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, dishahihkan Al-Albani)
Makna Kebahagiaan Menurut Para Sahabat Nabi
Para sahabat radhiyallaahu ‘anhu memandang kebahagiaan sebagai buah dari ketaqwaan dan keterbebasan hati dari ketergantungan pada dunia. Karena sesungguhnya, hati yang masih menggantungkan kebahagiaannya kepada dunia, maka hatinya dalam keadaan terbelenggu dan terjajah.
Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu : Beliau mendefinisikan taqwa (akar kebahagiaan) dengan kalimat, “Taqwa adalah rasa takut kepada Allah yang Maha Agung, beramal sesuai dengan Al-Qur’an, merasa cukup dengan yang sedikit (al-qana’ah bil-qalil), dan bersiap-siap untuk hari pembalasan.” (Subul us-Salam, karya Imam Ash-Shan’ani jilid 4, hal : 162).
Umar bin Khattab radhiyallaahu ‘anhu : Beliau menegaskan bahwa kebahagiaan tempatnya di dalam batin, “Aku tidak peduli atas keadaan apa aku terbangun, apakah dalam keadaan yang aku sukai atau aku benci, karena aku tidak tahu mana yang lebih baik bagiku (di balik takdir tersebut).” (Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Asfiya’ karya Imam Abu Nu’aim Al-Asfahani).
Makna Kebahagiaan Menurut Ulama Salaf
Ulama generasi salafus shalih menggambarkan kebahagiaan sebagai kenikmatan imaniah yang tak tertandingi oleh kesenangan fisik mana pun. Karena kesenangan fisik belum tentu berpengaruh kepada kesenangan hati, sebaliknya kesenangan hati akan sangat berpengaruh kepada kesenangan fisik. Sebab hakikatnya hati adalah Raja, sedang anggota tubuh adalah bala tentaranya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :
“Sesungguhnya di dunia ini terdapat surga. Barangsiapa yang belum memasukinya, ia tidak akan dapat memasuki surga di akhirat.” (Madaarijus Salikiin karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, jilid 1, hlm : 452).
Para ulama menjelaskan bahwa “surga dunia” yang dimaksud adalah rasa manisnya iman, kemanisan bermunajat, serta kelezatan ma’rifatullah (mengenal Allah).
Ibrahim bin Adham (seorang Ulama zuhud) :
“Seandainya para raja dan putra-putra raja itu mengetahui kebahagiaan dan kelezatan yang kami rasakan (dalam ketaatan), niscaya mereka akan merebutnya dari kami dengan tebasan pedang.” Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Asfiya’ karya Imam Abu Nu’aim Al-Asfahani, Jilid 7, hlm : 370.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah :
Beliau menegaskan bahwa puncak kebahagiaan adalah ketika hati hamba sepenuhnya tertuju pada Allah T, “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, dan kenikmatan bagi hati melainkan jika ia mengenal Penciptanya, mencintai-Nya, merasa tenang saat mengingat-Nya, dan ridha kepada-Nya.” (Ighātsatul Lahfān min Masā’idasy-Syaithān, jilid 1, bab ke-6)
Ringkasan hakikat kebahagiaan menurut para salaf yaitu, bahwa kebahagiaan dalam pandangan Islam bukan berarti hidup tanpa ujian, melainkan tentang bagaimana hati ini tetap mampu untuk tenang dan lapang dalam menghadapi segala takdir Allah, baik di saat keadaan lapang dengan bersyukur, maupun di saat keadaan sempit dengan bersabar, karena mengetahui bahwa sesungguhnya tujuan akhir dari semua ini adalah keridhaan Allah T dan surga di akhirat nantinya.
Di sini kami tuliskan rangkuman pilar-pilar kebahagiaan yang bisa menjadi beberapa landasan utama untuk kita meraih kebahagiaan yang hakiki :
1. Keimanan dan Amal Saleh (Hayatan Thayyibah)
Landasan utama kebahagiaan adalah memadukan tauhid yang lurus dengan amal kebajikan. Allah ﷻ berfirman,
ممَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (hayatan thayyibah)…” (QS. An-Nahl : 97)
Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini merupakan janji Allah ﷻ kepada setiap hamba-Nya, tanpa membedakan laki-laki maupun perempuan, yang menggabungkan dua hal utama, yaitu Iman dan Amal Saleh. Allah T berjanji akan memberikan balasan berupa kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) di dunia dan pahala yang jauh lebih tinggi di akhirat kelak.
Imam Ibnu Katsir menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hayatan thayyibah mencakup segala bentuk kenyamanan dan kelapangan hidup dari berbagai aspek, dan beliau juga menjelaskan bahwa kehidupan yang baik tidak selalu identik dengan limpahan harta kekayaan fisik yang melimpah. Seseorang yang mendapatkan rezeki yang cukup, namun diberi hati yang qana’ah dan merasa tenang dalam ketaatan, maka ia telah meraih hayatan thayyibah. Dan puncak dari hayatan thayyibah (kebahagiaan hidup) di dunia adalah tergabungkannya ketenangan batin, rezeki yang halal, sifat qana’ah, dan kelezatan beribadah, yang kemudian akan disempurnakan dengan surga di akhirat. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Imam Ibnu Katsir).
2. Empat Tumpuan Sikap Hati (Pilar Ibnul Qayyim)
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan bahwa poros kebahagiaan seorang hamba berputar pada empat hal (Al-Wābil ash-Ṣayyib min al-Kalim at-Ṭayyib karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah) :
- Bersyukur saat mendapat nikmat, yaitu mengakui nikmat dengan hati, memuji dengan lisan, dan menggunakannya untuk ketaatan.
- Bersabar saat tertimpa ujian, yaitu dengan menahan diri dan lisan kita dari mengeluh serta ridha atas takdir Allah ﷻ.
- Beristighfar saat berbuat dosa, yaitu dengan segera bertaubat, mengucapkan istighfar, dan kemudian kembali kepada Allah ﷻ.
- Ikhlas dan Muti’ah (Ketaatan), yaitu dengan menjadikan ibadah sebagai wasilah untuk mencari keridhaan Allah ﷻ semata.
3. Qana’ah (Kaya Hati)
Rasulullah S menegaskan bahwa hakikatnya kebahagiaan material itu bersifat semu, jika tanpa adanya kelapangan hati. Rasulullah S bersabda,
“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (kebahagiaan) yang hakiki adalah kaya hati (merasa cukup).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sahabat Umar bin Khattab radhiyallaahu ‘anhu juga berkata,
“Zuhud di dunia adalah ketenangan bagi hati dan badan.” (Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Asfiya’ karya Imam Abu Nu’aim Al-Asfahani).
4. Dzikrullah dan Keterikatan dengan Al-Qur’an
Ketenangan batin yang menjadi inti kebahagiaan hanya didapat melalui hubungan yang erat dengan Allah. Allah ﷻ berfirman,
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d : 28)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hati orang-orang beriman akan merasakan kelapangan, kedamaian, dan hilangnya rasa cemas serta kegelisahan ketika mereka mengingat Allah (dzikrullah). Hati mereka merasa ridha dan tenang karena menyadari bahwa Allah adalah Pelindung, Pengatur, dan Penolong mereka. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Imam Ibnu Katsir).
Al-Hasan Al-Bashri (seorang ulama tabi’in) menceritakan,
“Carilah kemanisannya kebahagiaan dalam tiga hal: dalam shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir. Jika kalian menemukannya, maka teruslah. Namun jika tidak, ketahuilah bahwa pintumu sedang terkunci.” (Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Asfiya’ karya Imam Abu Nu’aim Al-Asfahani, jilid 2, hlm : 154)
5. Fasilitas Duniawi yang Membantu Ketaatan
Islam tidak menafikan faktor fisik/ duniawi selama hal itu menunjang kebaikan. Dalam hadits shahih dari Sa’ad bin Abi Waqqas radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah S bersabda,
“Empat perkara yang termasuk kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang shalih, dan kendaraan yang nyaman.” (HR. Ibn Hibban, dishahihkan Al-Albani)
Para ulama seperti Al-Mundziri, Al-Manawi (Faidh al-Qadir), dan Syaikh Al-Utsaimin menguraikan hikmah di balik masing-masing empat perkara ini :
Istri yang Shalihah
Merupakan pilar tertinggi dari kebahagiaan duniawi.
- Maknanya : Istri yang apabila dipandang menyenangkan hati, apabila diperintah menaati, dan apabila suami pergi ia menjaga kehormatan diri serta harta suaminya.
- Hikmah : Istri shalihah membantu suami dalam urusan akhirat, menjaga ketenteraman rumah tangga (sakinah), serta mendidik anak-anak menjadi generasi yang bertakwa.
Tempat Tinggal yang Lapang
- Maknanya : Kelapangan rumah tidak hanya diukur dari fisik luasnya meter persegi, tetapi juga kelapangan jiwa para penghuninya, ketenangan dari gangguan, serta kecukupan fasilitas untuk menjalankan ketaatan dan menerima tamu.
- Hikmah : Rumah yang lapang memberi ruang gerak yang nyaman untuk beribadah, menjaga privasi keluarga, serta memberikan kenyamanan psikologis (thuma’ninah) setelah beraktivitas di luar.
Tetangga yang Shalih
- Maknanya : Tetangga yang beriman, memiliki akhlak yang baik, tidak menyakiti, serta saling tolong-menolong dalam kebaikan.
- Hikmah : Tetangga adalah lingkungan terdekat. Memiliki tetangga yang shalih memberikan rasa aman bagi harta dan keluarga ketika ditinggal pergi, serta saling mengingatkan dalam kebaikan dan ibadah. Ada pepatah Arab klasik yang selaras dengan ini : “Pilihlah tetangga sebelum memilih rumah” (Al-Jār qabl ad-Dār).
Kendaraan yang Nyaman
- Maknanya : Kendaraan yang selamat, cepat, tidak sering rusak/merepotkan, serta mampu mengantarkan pemiliknya ke tempat tujuan dengan aman dan tenang. (Di zaman modern mencakup mobil, sepeda motor, atau alat transportasi pribadi lainnya).
- Hikmah : Kendaraan yang nyaman menghindarkan seseorang dari rasa kesal, emosi di jalan, dan kelambatan, sehingga memudahkan mobilitas dalam mencari rezeki yang halal, silaturahmi, serta menuntut ilmu.
6. Kehadiran “Surga Dunia” (Cinta dan Ma’rifatullah)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menggambarkan kebahagiaan jiwa para ulama salaf saat berada dalam ketaatan, “Sesungguhnya di dunia ini terdapat surga. Barangsiapa yang belum memasukinya, ia tidak akan dapat memasuki surga di akhirat.” (Madaarijus Salikiin karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, jilid 1, hlm : 452).
Para ulama menjelaskan bahwa “surga dunia” yang dimaksud adalah rasa manisnya iman, kemanisan bermunajat, serta kelezatan ma’rifatullah (mengenal Allah). (Madaarijus Salikiin karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, jilid 1, hlm : 452-455).
Maka kesimpulan dari seluruh pilar kebahagiaan tersebut adalah bahwa kebahagiaan sejati (as-sa’adah) dalam Islam tidak diukur dari kemewahan materi atau nihilnya ujian hidup, melainkan dari ketenangan jiwa (thuma’ninatul qalb), manisnya iman, dan keridhaan Allah yang berujung pada keselamatan di akhirat. Dan Islam bersifat seimbang (wasathiyah) dengan tidak mengharamkan kenyamanan duniawi. Kenikmatan fisik, seperti pasangan yang shalih/ shalihah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman, diakui sebagai pilar kebahagiaan sekunder yang berfungsi sebagai sarana penunjang agar ibadah dan ketaatan kepada Allah berjalan tanpa hambatan. Wallaahu a’lam.













