Khairunissa
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Antasari Banjarmasin
nidaulquran.id-McKinsey menerbitkan sebuah laporan pada 13 Mei 2024 yang berjudul “In Search of Self and Something Bigger: A Spiritual Health Exploration”, laporan ini menunjukkan bahwa tingkat spiritualitas dalam diri berbanding lurus dengan kesehatan mental dan kinerja dalam melakukan sesuatu. Dalam Islam, spiritualitas erat kaitannya dengan kepercayaan yang sungguh-sungguh dan berhubungan dengan praktik khusyuk yang dijalani seseorang.
Khusyuk dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 45-46
Dalam Islam, konsep spiritualitas yang berkaitan dengan fokus dan ketenangan batin sering dijelaskan melalui istilah “khusyuk dalam shalat.” Al-Baqarah ayat 45-46 memberikan panduan penting tentang bagaimana khusyuk tidak hanya membawa ketenangan, tetapi juga membantu seseorang menghadapi tantangan kehidupan.
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
Artinya: “Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah SWTnya dan hanya kepada-Nya mereka kembali.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 45-46)
Quraish Shihab menerangkan dalam Tafsir Al-Mishbah bahwa ayat ini memerintahkan kepada manusia untuk meminta pertolongan dengan sabar, yakni menahan diri dan dengan shalat, yakni menghubungkan jiwa dengan Allah SWT. serta memohon kepada-Nya untuk menghadapi segala kesulitan serta memikul segala beban. Khusyuk artinya ketenangan hati dan keengganannya mengarah kepada kedurhakaan.
Orang-orang yang khusyuk yang dimaksud dalam ayat ini merupakan orang-orang yang memiliki sifat:
- menekan kehendak nafsunya;
- membiasakan diri menerima dan merasa tenang menghadapi ketentuan Allah; dan
- senantiasa mengharapkan kesudahan yang baik.
Ayat ini berpesan kepada manusia agar meminta pertolongan kepada Allah dengan jalan sabar mengahadapi segala tantangan bersama dengan shalat sebagai sarana untuk meraih segala macam kebajikan dengan doa dan permohonan kepada Allah.
Sesungguhnya shalat adalah hubungan dan pertemuan antara hamba dan Allah SWT. Hubungan yang dapat menguatkan hati, hubungan yang dirasakan oleh ruh, hubungan yang dengannya jiwa mendapat bekal dalam menghadapi realitas kehidupan.
Orang yang sabar dan shalatnya menyatu, akan jernih hati dan besar jiwanya dan tidak akan jatuh saat ditimpa perkara-perkara kecil karena sabarnya sebagai benteng dan shalat menjadikan jiwanya selalu dekat kepada Allah SWT. Ayat ini tidak membatasi kekhusyukan hanya dalam shalat, tetapi menyangkut segala aktivitas manusia.
Hal ini menujukkan bahwa nilai dari khusyuk tidak hanya terbatas tercermin pada shalat, tetapi juga berpengaruh dalam sikap hidup sehari-hari karena perasaan tenang, tunduk, dan memiliki fokus terhadap tujuan yang tinggi.
Spiritualitas Memengaruhi Kinerja dan Kesehatan Mental
McKinsey dalam laporannya menyebutkan bahwa mereka yang mampu mengembangkan kesehatan spiritual akan memperoleh tumpang tindih yang positif dengan dimensi kesehatan lainnya. Lebih dari 80% responden di Brazil, Indonesia, Nigeria, dan Vietnam mengatakan bahwa kesehatan spiritual sangat penting dalam kehidupan. Individu yang memiliki kesehatan spiritual yang baik tampaknya melakukannya dengan baik di semua dimensi.
Bahkan laporan ini menunjukkan bahwa skor spiritualitas yang lebih tinggi berdampak pada lebih sedikitnya gejala depresi. Dalam sebuah studi yang dilakukan pada 2017, ditemukan bahwa para manula di Iran yang memiliki per ilaku spiritual dan kesehatan sosial yang baik akan cenderung memiliki kapasitas dalam melakukan perawatan diri.
Kesehatan spiritual dapat dibingkai sebagai bagian dari kesejahteraan individu secara keseluruhan. Senada dengan kesehatan fisik, mental, dan sosial yang memerlukan perhatian, kesehatan spiritual juga memerlukan pengelolaan yang berkelanjutan. Mencari tujuan dan makna dalam hidup, terhubung dengan hal-hal yang dianggap penting, serta bertindak dengan niat yang jelas, adalah bagian dari perjalanan spiritual yang berlangsung seumur hidup.
Ketika seseorang mampu menemukan makna yang lebih dalam dalam kehidupannya, baik melalui pekerjaan atau kegiatan lainnya, hal ini berdampak positif pada keseimbangan emosional, ketenangan pikiran, dan performa kerja. Dalam Islam, khusyuk sebagai bentuk tertinggi dari kesadaran spiritual, memberikan ketenangan hati dan kestabilan emosi, yang memungkinkan individu tetap fokus dan produktif di tempat kerja.
Khusyuk dalam Kehidupan
Buya Hamka dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang bisa memadukan antara sabar dan shalatnya, maka akan jernih hati dan jiwanya, dan tidak akan kesulitan dengan hal-hal kecil (Tafsir Al-Azhar, 1/183).
Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang memadukan sabar dan shalatnya akan mampu melihat kehidupan dalam sudut pandang yang lebih luas, tidak terjebak dalam urusan yang remeh, dan lebih fokus pada hal-hal penting yang lebih bermakna.
Temuan dan hubungan dengan Q.S. Al-Baqarah [2]: 45-46 menunjukkan bahwa spiritualitas tinggi, khususnya melalui praktik khusyuk, tidak hanya berperan dalam memperkuat hubungan individu dengan Allah SWT, tetapi juga membawa dampak positif dalam kehidupan profesional dan kesehatan mental.
Dalam konteks masyarakat modern, khusyuk bisa menjadi jalan untuk mencapai performa yang lebih baik, sekaligus menjaga kesehatan batin. Spiritualitas bukan hanya sebagai elemen pribadi, tetapi juga sebagai pondasi kesejahteraan mental dan performa kerja. Sebagaimana yang sudah dijelaskan, khusyuk mengajarkan kita untuk menemukan ketenangan dan fokus dalam menghadapi setiap tantangan.













