Beranda / Warta / ISA Peace Exhibition 2025: Dari Surakarta, Solidaritas untuk Gaza Menggema

ISA Peace Exhibition 2025: Dari Surakarta, Solidaritas untuk Gaza Menggema

nidaulquran.id-Di tengah luka kemanusiaan yang terus mengalir dari Gaza, sekelompok anak muda di Indonesia memilih untuk tidak hanya bersedih, tetapi bergerak. Melalui ISA Peace Exhibition (IPE) 2025, Institut Al Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA) menghadirkan ruang solidaritas yang mengubah empati menjadi energi kolektif. Pameran ini bukan sekadar dokumentasi penderitaan, tetapi panggilan nurani untuk membangun kesadaran baru tentang arti perjuangan, kepahlawanan, dan kemanusiaan.

Bertempat di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, 10–12 November 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Pilihan waktu ini bukan kebetulan: penyelenggara ingin menegaskan bahwa kepahlawanan tidak berhenti pada catatan sejarah, tetapi terus hidup melalui perjuangan rakyat Gaza yang bertahan dalam situasi terburuk. “Kita ingin menghidupkan semangat pahlawan masa kini — mereka yang berjuang bukan dengan senjata, tapi dengan keberanian, doa, dan solidaritas,” ujar Ketua Panitia, Mutmainah.

ISA Peace Exhibition menjadi momentum refleksi sosial dan spiritual bagi ribuan pengunjung dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga komunitas kemanusiaan. Di dalam ruang pamer, foto dan video dokumenter menggambarkan wajah nyata Gaza: anak-anak yang tersenyum di tengah reruntuhan, keluarga yang menanam bunga di tanah bekas ledakan, dan relawan yang menyalurkan bantuan dengan segala keterbatasan. “Kami ingin pengunjung tidak hanya melihat penderitaan, tetapi juga keteguhan — bahwa di balik puing-puing itu, masih ada kehidupan dan harapan,” jelas Mutmainah.

Rangkaian acara tak berhenti di ruang pamer. Setiap harinya, panggung ISA IPE menjadi ruang interaksi kreatif: dari monolog dan live painting, penampilan angklung, hingga diskusi publik bertema hubungan Indonesia–Palestina. Para narasumber seperti Ustadz Hadi Nur Ramadhan, Ahmad Dzaky Mubarok, dan Harry Satya memantik semangat kolaboratif generasi muda untuk memahami konteks perjuangan Palestina dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan universal. “Kami ingin anak muda Indonesia melihat Gaza bukan sebagai konflik jauh, tapi sebagai cermin moral dunia,” ujar Hadi.

Salah satu sesi paling menyentuh datang dari “Surakarta Berkisah untuk Gaza”, di mana pendongeng anak Kak Bimo menuturkan kisah tentang anak Gaza yang menanam pohon zaitun di tengah hujan bom. Sebuah pelajaran empati yang tak tertulis dalam buku sekolah. Di sudut lain, pojok edukasi keluarga menghadirkan aktivitas interaktif menggambar dan menulis surat untuk anak-anak Palestina. Dari situ, nilai kemanusiaan tumbuh bukan lewat ceramah, melainkan melalui pengalaman.

Lebih dari sekadar event budaya, ISA Peace Exhibition menjadi ruang advokasi sosial yang memantik keterlibatan nyata masyarakat. Di area utama, panitia membuka posko infaq fii sabiilillah dan gerai donasi wakaf air bersih untuk Gaza, mengajak pengunjung untuk berkontribusi langsung. “Solidaritas sejati bukan sekadar simpati. Ia hadir dalam tindakan,” tegas Mutmainah. Ia menambahkan, antusiasme publik membuktikan bahwa kepedulian umat Islam Indonesia tidak pernah padam, bahkan ketika jarak dan waktu memisahkan.

Ketika acara ditutup dengan doa bersama dan refleksi untuk rakyat Gaza, suasana berubah hening. Di tengah lantunan doa, hadir kesadaran kolektif bahwa kemanusiaan adalah bahasa universal. ISA Peace Exhibition tidak hanya mempertemukan mata dan hati, tetapi juga menyalakan api solidaritas lintas generasi — dari Surakarta, semangat kemanusiaan itu kini menyala untuk dunia.

Tag: