nidaulquran.id– Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah mematangkan peluncuran Sa’adatuna, sebuah ekosistem digital yang dirancang untuk menghubungkan warga Nahdlatul Ulama (NU) hingga ke tingkat akar rumput. Platform ini dijadwalkan diluncurkan setelah pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU.
Seperti dilansir oleh nu.or.id, Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mengungkapkan bahwa Sa’adatuna merupakan salah satu inisiatif strategis organisasi dalam memanfaatkan teknologi digital untuk memperkuat jaringan dan pelayanan kepada warga Nahdliyin di seluruh Indonesia.
“Insyaallah dalam waktu dekat kami akan meluncurkan sebuah inisiatif bernama Sa’adatuna. Seluruh persiapannya sedang kami selesaikan dan berbagai sistem aplikasinya telah siap untuk diperkenalkan setelah Muktamar Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Yahya saat membuka pelatihan Community Emergency Response Partnership (CERP) di Jakarta.
Menurut Gus Yahya, nama Sa’adatuna berasal dari bahasa Arab yang berarti kebahagiaan kita. Nama tersebut juga merupakan akronim dari Satu Alam Digital untuk Nahdlatul Ulama, yang menggambarkan visi PBNU dalam membangun ruang digital yang mampu mengintegrasikan berbagai kebutuhan organisasi dan masyarakat Nahdliyin.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan platform digital tersebut telah dimulai sejak 2023. Awalnya, sistem tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan internal organisasi. Kini, PBNU menyiapkan pengembangannya agar dapat menjangkau seluruh warga NU hingga tingkat ranting dan masyarakat akar rumput.
Lebih lanjut, Gus Yahya menegaskan bahwa sejak berdirinya NU, semangat utama organisasi adalah membangun sistem yang memungkinkan masyarakat saling membantu melalui koordinasi yang kuat. Semangat itu, menurutnya, pernah diwujudkan dalam gerakan Mabadi’ Khaira Ummah yang digagas KH Mahfudz Siddiq pada 1939.
Gerakan tersebut dibangun di atas lima prinsip utama, yakni As-Shidq (kejujuran), Al-Wafa bil ‘Ahdi (menepati janji), Al-Amanah (dapat dipercaya), Al-‘Adl (keadilan), dan At-Ta’awun (tolong-menolong). Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang saling menguatkan.
“Gagasannya adalah menghubungkan masyarakat agar mereka mengetahui kebutuhan satu sama lain, sehingga setiap orang dapat membantu sesuai kemampuan yang dimilikinya,” jelasnya.
PBNU menilai tantangan tersebut kini semakin besar seiring bertambahnya jumlah warga Nahdliyin. Berdasarkan berbagai hasil survei, sekitar 57 persen umat Islam di Indonesia mengidentifikasi diri sebagai bagian dari NU, dengan jumlah yang diperkirakan mencapai lebih dari 120 juta orang.
Karena itu, menurut Gus Yahya, transformasi digital menjadi langkah strategis agar organisasi mampu menjangkau seluruh warga NU secara lebih efektif sekaligus memperkuat kolaborasi antarsesama Nahdliyin.
“Perkembangan teknologi digital memberi peluang besar bagi NU untuk menghubungkan seluruh warga sehingga mereka dapat saling membantu kapan pun diperlukan,” pungkasnya.













