Home / Warta / Ketua Umum Persatuan Islam: Ormas Bukan Stempel Pemerintah, Tapi Penyalur Aspirasi Umat

Ketua Umum Persatuan Islam: Ormas Bukan Stempel Pemerintah, Tapi Penyalur Aspirasi Umat

nidaulquran.id-Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), Ustaz Jeje Zaenudin, menanggapi isu miring yang menyebutkan bahwa para tokoh ormas Islam yang hadir ke Istana Presiden hanya menjadi “stempel” atau sekadar “pemadam kebakaran” kebijakan pemerintah. Ia menolak anggapan itu dan menegaskan bahwa pertemuan tersebut justru menjadi ruang penting untuk menyalurkan aspirasi umat secara langsung.

dilansir oleh persis.or.id, Ustaz Jeje menerangkan bahwa pertemuan antara pemerintah dengan ormas Islam bukanlah formalitas, melainkan bentuk mediasi. Ormas, kata dia, memainkan peran strategis untuk menjembatani suara masyarakat dengan para pengambil kebijakan. “Dalam dialog itu peran ormas sangat penting untuk memediasi komunikasi masyarakat dengan pemerintah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, melalui forum itu, tokoh-tokoh ormas dapat menyampaikan kegelisahan, harapan, bahkan kritik masyarakat kepada Presiden. Sebaliknya, Presiden bisa menjelaskan secara lebih rinci alasan logis dari kebijakan yang diambil. Dengan demikian, informasi yang sampai kepada umat menjadi lebih utuh dan tidak hanya potongan-potongan yang bisa menimbulkan salah paham.

Lebih jauh, Ustaz Jeje menekankan bahwa forum dialog seperti ini memberi kesempatan bagi ormas untuk menyampaikan masukan secara langsung, tertutup, dan konstruktif. “Sesuai kaidah Islam berdasar Al-Quran dan Hadits, masukan dan koreksi kepada kebijakan pemimpin harus disampaikan dengan cara yang santun, beretika, jelas, lugas, penuh hikmah,” tegasnya.

Ia pun menolak tudingan bahwa pertemuan itu hanya sekadar upaya meredam gejolak. Bagi Ustaz Jeje, kritik yang disampaikan ormas tidak bisa disamakan dengan gaya demonstrasi. “Kalau mau gayanya seperti itu, ya itu namanya demonstrasi, bukan dialog silaturahmi dan silatulfikri,” ucapnya.

Dalam pandangan Ustaz Jeje, jalur dialog jauh lebih produktif. Ia menegaskan bahwa pimpinan ormas keagamaan dari berbagai latar belakang—baik Islam, non-Islam, buruh, maupun kepemudaan—semuanya hadir memberi masukan yang jelas demi kepentingan bersama. Mereka bukan datang untuk memberikan “cek kosong” dukungan, melainkan menyampaikan pandangan kritis secara langsung.

“Semua pimpinan ormas keagamaan baik dari muslim, non muslim, organisasi buruh, dan organisasi kepemudaan, semuanya menyampaikan masukan dan usulan yang sangat jelas bagi kepentingan umat, tidak sekedar dukungan,” pungkasnya.

Tag: