Muhammad Arsyad
Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Antasari
nidaulquran.id-Di era digital yang serba instan ini, kita dihadapkan pada tantangan besar dalam menjalani kehidupan. Media sosial terus membombardir kita dengan gaya hidup hedonis dan konsumtif, unboxing barang mewah, wisata ke destinasi eksotis, makanan di restoran high-end, dan berbagai bentuk kemewahan lainnya yang seolah menjadi standar kebahagiaan baru.
Di samping itu, fenomena “FOMO” (Fear of Missing Out) mendorong banyak orang untuk terus mengejar tren dan lifestyle yang sebenarnya di luar kemampuan mereka. Ironisnya, di tengah kemudahan akses informasi dan hiburan yang berlimpah, tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup justru menurun. Banyak orang terjebak dalam siklus yang tidak berujung seperti membeli, memamerkan dan membandingkan, lalu merasa tidak puas dan kembali membelinya. Bukankah hal tersebut bertentangan dengan ajaran Islam tentang qanaah (kepuasan hati) dan kesederhanaan?
Hedonisme di Era Digital: Tantangan Baru Umat
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.”
Menurut Ash-Shabuni dalam (Shafwatut Tafasir, juz 1/hlm. 170), kata “زُيِّنَ” (zuyyina) bermakna dihias atau diperindah dalam pandangan manusia. “الشهوات” (syahwat) merujuk pada segala keinginan nafsu, sementara “القناطير” (qanatir) adalah harta berlimpah yang tak terhitung. Kata “المقنطرة” (al-muqantharah) menekankan makna penggandaan harta, seperti ungkapan “ribuan yang berlipat” – menggambarkan obsesi manusia pada akumulasi kekayaan tanpa batas.
Ibnu Ashur dalam (At-Tahrir wat Tanwir, juz 3/hlm. 178–180), menjelaskan bahwa ayat ini merupakan peringatan bagi umat Islam agar tidak silau oleh gemerlap dunia orang-orang. “التزيين” di sini bukan sekadar hiasan fisik, tetapi proses psikologis di mana syahwat. seperti wanita, harta, dan tahta terlihat memesona meski sarat risiko. Beliau mengibaratkannya seperti perang yang awalnya tampak indah bagi orang bodoh, padahal penuh bahaya.
Syahwat Digital: Antara Fitrah dan Ujian
Konsep Ibnu Ashur tentang syahwat membuka jendela pemahaman yang mendalam tentang fitrah manusia di era digital. حب الشهوات (cinta syahwat) bukanlah sekadar keinginan yang harus ditolak, melainkan potensi spiritual yang menunggu untuk disadarkan.
Dalam pandangan Ibnu Ashur, syahwat adalah anugerah Allah yang memiliki dimensi transendental. Ia bukan kutukan, melainkan ujian. Setiap keinginan manusia – baik nafsu materi, sosial, atau digital – mengandung potensi ibadah jika disadarkan melalui perspektif spiritual.
Di era digital, syahwat mengalami metamorfosis yang kompleks. Bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan materi, melainkan konstruksi identitas melalui validasi sosial. Likes, followers, dan metrik digital menjadi mata uang baru eksistensi, mengubah manusia dari subjek spiritual menjadi objek konsumsi.
Algoritma media sosial beroperasi sebagai medium modern تزيين الشيطان (hiasan setan). Ia tidak sekadar memikat, tetapi menciptakan ekosistem ilusi – membangun arsitektur kebahagiaan instan yang terpisah dari makna substantif. Setiap scroll adalah perjalanan spiritual yang berpotensi membelokkan fitrah.
Hal ini relevan apa yang disabdakan Rasulullah SAW: “Dua hal yang paling dikhawatirkan atas umatku: syahwat perut dan syahwat mata” menjadi peringatan fundamental. Di mana era digital, “syahwat mata” tidak lagi sekadar soal pandangan fisik, melainkan konsumsi visual yang menciptakan ruang halusinasi kolektif.
Dalam Ihya Ulumuddin (Al-Ghazali, juz 3/hlm. 80), Al-Ghazali menguraikan bahwa kehancuran terbesar bagi manusia adalah syahwat perut. Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga karena tak mampu menahan syahwat makan mereka. Syahwat perut ini menjadi sumber dari berbagai syahwat lainnya, seperti syahwat seksual, keinginan terhadap kekuasaan, harta, dan kemewahan duniawi. Dalam perspektif Al-Ghazali, syahwat perut adalah pintu gerbang utama kerusakan spiritual manusia. Bukan sekadar soal makan, melainkan kompleksitas nafsu yang melahirkan serangkaian penyakit hati.
Menurutnya, ketika seseorang mengikuti syahwat ini tanpa kendali, maka akan muncul penyakit hati seperti riya, sombong, dengki, hingga permusuhan. Al-Ghazali mencatat pentingnya mengendalikan diri melalui lapar dan pengendalian syahwat agar hati tunduk pada ketaatan kepada Allah.
Syahwat Digital: Antara Ujub dan Kesadaran Spiritual
Dalam bayangan Al-Ghazali, ujub bukanlah sekadar kesombongan, melainkan perangkap halus yang membutakan manusia dari esensi dirinya. Di era digital, perangkap ini dipoles dengan kemilau algoritma dan validasi sosial yang membuai.
Media sosial mengkonstruksi konsep ujub tradisional. Bukan lagi soal kekuatan fisik atau kebanggaan keturunan, melainkan kekuatan representasi – seberapa sempurna kita mampu merekayasa citra diri. Filters adalah medium modern untuk menutupi kerentanan, likes menjadi pengganti spiritual, dan followers menggeser makna kemuliaan.
Namun, dibalik kilauan layar, terdapat peringatan fundamental: syahwat digital adalah ujian fitrah. Ia bukan sekadar godaan eksternal, tetapi interaksi intim antara nafsu dan kesadaran spiritual. Setiap Scroll, like dan share adalah momen pengambilan keputusan etis. Apakah kita memilih autentisitas atau ilusi?
Kesadaran sebagai Resistensi
Hedonisme digital bukan sekadar fenomena teknologi, melainkan ujian keimanan paling canggih. Kita tidak sekadar mengonsumsi konten, tetapi dibentuk olehnya. Kesadaran spiritual menjadi benteng terakhir melawan algoritma yang dirancang untuk mendekonstruksi fitrah. Tantangannya bukan menolak teknologi, melainkan menjalaninya dengan kesadaran mendalam.
Beberapa langkah praktis dapat dilakukan untuk menjaga diri dari jebakan hedonisme digital:
- Digital Detox: Mengatur waktu penggunaan media sosial dan memberikan jeda untuk refleksi diri.
- Konsumsi Konten Positif: Memilih konten yang membangun nilai-nilai spiritual dan memperkaya ilmu.
- Menguatkan Qanaah: Mengingat kembali pentingnya merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan tidak terjebak dalam siklus konsumtif.
- Refleksi Harian: Menjadikan setiap interaksi digital sebagai ruang untuk mengevaluasi niat dan tujuan hidup.
Penutup
Kesadaran sebagai Resistensi Hedonisme digital bukan sekadar fenomena teknologi, melainkan ujian keimanan paling canggih. Kita tidak sekadar mengonsumsi konten, tetapi dibentuk olehnya. Kesadaran spiritual menjadi benteng terakhir melawan algoritma yang dirancang untuk mendekonstruksi fitrah. Tantangannya bukan menolak teknologi, melainkan menjalaninya dengan kesadaran mendalam. Setiap momen digital adalah ruang untuk menegaskan pilihan: antara syahwat yang membuta atau spiritualitas yang mencerahkan. Wallahu a’lam bish-shawab.













