Beranda / Warta / Konferensi Hadis PERSIS 2025, Jembatan Antara Tradisi Keilmuan dan Inovasi Digital

Konferensi Hadis PERSIS 2025, Jembatan Antara Tradisi Keilmuan dan Inovasi Digital

nidaulquran.id-Persatuan Islam (PERSIS) mengambil langkah progresif dalam dunia pendidikan Islam. Melalui Konferensi Hadis Nasional 2025, organisasi ini berupaya menjawab tantangan zaman dengan menggabungkan warisan keilmuan klasik dan kecanggihan teknologi modern.

Mengutip persis.or.id, kegiatan yang digelar di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) DKI Jakarta ini diselenggarakan oleh Dewan Hisbah dan Badan Pendidikan dan Latihan (Badiklat) Kader PERSIS pada 7–9 November 2025. Forum ini menjadi panggung bagi para ulama, akademisi, dan santri untuk berdiskusi mengenai masa depan studi hadis di era kecerdasan buatan (AI).

Ketua Panitia, Wahyu AS, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar daurah ilmiah, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk mencetak ulama digital. “Kami ingin kader-kader Islam memahami metodologi hadis dengan pendekatan baru. Teknologi harus menjadi alat untuk mempercepat dakwah dan memperkuat akurasi ilmiah,” ujarnya.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui penggunaan software hadis berbasis AI seperti Maktabah Syamilah, Gawāmi‘ al-Kalim, dan Jāmi‘ Khādim al-Haramain yang diintegrasikan dengan platform alminasa.ai. Aplikasi ini memungkinkan peserta menelusuri sanad dan matan hadis secara cepat dan sistematis. Langkah ini disebut Wahyu sebagai “revolusi digital dalam ilmu hadis” — tanpa menghapus keaslian metodologi klasik para muhaddits.

Wakil Ketua Dewan Hisbah PP PERSIS, Ustaz Rahmat Najieb, dalam sesi pembukaan konferensi mengingatkan bahwa teknologi hanyalah sarana, bukan pengganti tradisi keilmuan. Ia menelusuri sejarah penulisan hadis sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga inisiatif Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menandai kodifikasi awal hadis. “Teknologi boleh berkembang, tetapi semangat para ulama terdahulu dalam meneliti dan memverifikasi hadis harus tetap diwariskan,” ujarnya dengan nada tegas.

Rahmat juga menyoroti pentingnya etika ilmiah dalam pemanfaatan kecerdasan buatan. Ia mengingatkan para peserta agar tidak hanya mengandalkan aplikasi, tetapi tetap menelaah kitab-kitab induk sebagai rujukan utama. “Kita boleh menggunakan AI, tetapi jangan kehilangan ruh keilmuan. Ulama sejati bukan yang cepat mencari hadis, tapi yang sabar memahami maknanya,” katanya, mengutip pesan Imam Syafi’i, “Jika engkau temukan pendapatku bertentangan dengan sunnah Rasul, maka ambillah sunnah itu dan tinggalkan pendapatku.”

Dengan semangat ini, PERSIS berharap lahirnya generasi ulama digital yang tidak hanya ahli dalam teknologi, tetapi juga menjaga sanad keilmuan dan integritas moral para pendahulunya. Konferensi Hadis Nasional 2025 bukan hanya ruang belajar, melainkan laboratorium peradaban — tempat di mana ilmu, iman, dan inovasi berjalan beriringan menuju Islam yang rahmatan lil ‘alamin dalam bingkai NKRI.

Tag: