Beranda / Quranic / Tadabbur Quran / Tafsir Surat An-Nasr: Setelah Kemenangan Tiba, Lalu Apa?

Tafsir Surat An-Nasr: Setelah Kemenangan Tiba, Lalu Apa?

gerbang keamanan

nidaulquran.id-Surat Al-Nasr terletak di antara surat Al-Kafirun dan surat Al-Masad. Surat Al-Kafirun berisi batas tegas antara keimanan dan kekafiran. Usai membacanya, barangkali kita bertanya-tanya, “lantas apa buah dan konsekuensi dari keduanya? Apa yang didapat oleh orang beriman, berikut juga orang yang ingkar?”

Maka dua surat berikutnya menjawab pertanyaan tersebut. Seorang yang beriman niscaya Allah jaminkan baginya pertolongan dan kemenangan, Al-Nasr merangkum makna ini. Sementara bagi yang ingkar, maka siksa neraka menantinya di akhirat sana. Karenanya surat Abu Lahab bukan untuk Abu Lahab seorang, ia hanyalah ikon dari keangkuhan  dan pembangkangan di hadapan kebenaran.

Kemenangan dan Pembebasan

Mayoritas ulama tafsir menyatakan bahwa ‘al-fath’ yang dimaksud di ayat ini adalah fathu Makkah. Perhatikan bagaimana Allah menggambarkan sebuah kemenangan dengan pilihan diksi ‘al-fath’ yang secara harfiah berarti membuka. 

Seolah Al-Qur’an mengajak kita membayangkan Mekah sebelum islam sebagai ruangan mati: terkunci rapat, pengap, dan berdebu tanpa tersentuh cahaya. Sebuah ruang tidak sehat dengan sanitasi jiwa yang buruk, di mana kesyirikan mengendap menjadi penyakit yang membelenggu kota.

Maka Fathu Makkah adalah momen ketika pintu dan jendela ruangan itu dibuka lebar-lebar: mengalirkan udara segar, membiarkan cahaya kebenaran menerobos masuk, dan membersihkan seluruh kotoran yang menyumbat jiwa.

Tasbih, Tahmid, dan Istighfar

Ada yang menarik dari susunan ayat di surat ini, ia memuat struktur kalimat bersyarat. Mari kita perhatikan awal-akhir surat, dibuka dengan kata إذا (apabila) yang berfungsi untuk menetapkan syarat, sementara kalimat setelah huruf فـ (maka) pada فسبح menjadi jawaban atau konsekuensi logis yang wajib dilakukan ketika syarat tersebut sudah terpenuhi.

Dengan demikian, surat Al-Nasr memandu kita untuk bertasbih, bertahmid, dan beristighfar saat kemenangan datang menyapa.

Memuji Allah saat harapan dan doa-doa yang dilangitkan mendapatkan pembuktiannya merupakan hal yang sangat wajar, sebuah kepatutan yang langsung bisa kita pahami dengan sendirinya. Tapi, tasbih dan istighfar? Apa urgensinya? 

Filosofi Di Balik Tasbih

Secara morfologis, tasbih berakar pada rangkaian huruf (س – ب – ح). Menurut Ibn Faris, kata ini memiliki dua akar makna; jenis ibadah dan jenis bergerak, dari sini lahir kata سباحة — sibāhah yang artinya berenang.

Tasbih sudah barang tentu merujuk pada makna pertama. Tapi menariknya, Fakhruddin Al-Razi mengaitkan tasbih dengan makna kedua juga, seolah ada kaitan makna filosofis di antara keduanya. Begini ulasan beliau:

Saat berada di air, seseorang harus terus berenang agar tetap mengambang. Jika berhenti, ia akan tenggelam. Jika tenggelam, ia akan ternoda dan bergumul dengan kotoran yang mengendap di dasarnya. Sehingga diam membuatnya tenggelam dan tenggelam membuatnya ternoda.

Saat bertasbih, seorang hamba sedang menyucikan Allah dari segala yang tak pantas bagi-Nya, ia mengingat kebesaran-Nya, ia dibuat sadar bahwa segala keberhasilan dan pencapaian sejatinya berasal dari-Nya.

Seolah-olah Al-Razi ingin mengatakan, “bertasbih adalah berenang. Saat bertasbih, hati terus berenang di luasnya samudra kebesaran Allah. Ia dibasuh dari berbagai macam noda dan kotoran, ia hidup dalam kesucian. Maka bertasbih adalah seni menjaga kesucian hati”

Menyucikan Allah, Menyucikan Hati

Kemenangan selalu datang di waktu yang tepat, ia Allah persiapkan di momen terbaiknya. Tapi, sampai ia tiba, di tengah kemelut berkepanjangan, krisis dan luka di sepanjang perjuangan, pikiran liar kerap kali berlalu-lalang sampai sulit dikendalikan, tak jarang sesekali terbesit pertanyaan, “jika aku berada di atas kebenaran, mengapa Engkau tidak menolongku? Mengapa Engkau biarkan orang-orang kafir berkuasa atas diriku?” 

Pertanyaan semacam ini muncul dari anggapan bahwa Allah memiliki kewajiban untuk menolong hamba-Nya, padahal Ia tak pernah punya kewajiban apapun pada siapapun. Maka di sinilah perintah bertasbih menemukan relevansinya. Tasbih berfaedah untuk menyucikan Allah dari prasangka hamba bahwa ia berhak menuntut sesuatu kepada-Nya. Dan pada akhirnya, menyucikan Allah adalah jalan menuju kesucian hatinya.

Istighfar dan Mental Pemenang

Al-Qur’an, lewat surat ini menempa Nabi saw memiliki mental seorang pemenang yang berjiwa besar dan mudah memaafkan. Tapi, berita kemenangan menjadi kurang menyenangkan jika datang bersama dengan larangan tegas membalaskan dendam. Alih-alih menggunakan larangan semacam itu, Al-Qur’an berbincang tentang orang-orang yang masuk islam dengan berbondong-bondong, lalu ditutup dengan perintah memohonkan ampunan bagi mereka.

Permohonan ampunan pastilah ditujukan kepada mereka yang berdosa, dari situ Nabi saw mengetahui bahwa Allah menganjurkannya memberi maaf. Sebab, bagaimana mungkin beliau memohonkan ampunan, tapi kemudian sibuk membalaskan dendam?

Itu yang Allah harapkan, dan itu pula yang Rasul saw lakukan. Saat penaklukan kota Mekah terjadi, kerabat yang dahulu memusuhi, mengerumuninya sambil banyak melontarkan puja dan puji, “engkau adalah saudara mulai, putra dari saudara yang mulia…” 

Mendapat pujian semacam itu, Nabi saw hanya mengutip ungkapan Nabi Yusuf as, “tidak ada cercaan bagi kalian hari ini, semoga Allah mengampuni kalian.” (Q.S Yusuf: 92). Seolah Nabi ingin mengatakan, “Allah memerintahkanku memohonkan ampun untuk kalian, tidak mungkin aku menolaknya!”

Antara Al-Tawwab dan Al-Ghaffar

Di surat Nuh, Allah menutup perintah istighfar dengan pernyataan bahwa Allah Maha Ghaffār. Di surat Al-Nasr, perintah istighfar ditutup dengan pernyataan bahwa Ia Maha Tawwāb. 

Perintah yang sama, maknanya serupa, namun ditutup dengan pilihan diksi yang berbeda. Mengapa?

Ini menunjukkan keistimewaan umat Nabi Muhammad saw yang secara tegas Allah sebut sebagai umat terbaik. Karena Tawwab adalah kata yang juga dapat dilekatkan sebagai sifat untuk hamba-Nya. Ghaffar tidak demikian!

Seolah Allah berfirman, “engkau memiliki kesamaan nama dengan-Ku; engkau mu’min Aku juga Mu’min. Maka bertaubatlah, agar engkau memiliki kesamaan lainnya; engkau tawwab yang selalu bertaubat, dan Aku Tawwab yang senang menerima taubat.”

Seporsi Pelajaran Dari Sebuah Kemenangan

Pada akhirnya, surah Al-Nasr mengajarkan kita cara memandang sebuah pencapaian. Kemenangan, bagi seorang hamba, bukanlah sinyal untuk memulai pesta pora, melampiaskan euforia, atau menabur hura-hura. Al-Qur’an justru mengetuk hati kita untuk kembali bersimpuh. Di balik riuh tepuk tangan dan puja-puji manusia, ada perintah untuk menunduk: bertasbih, bertahmid, dan beristighfar.

Sebab muhasabah bukan hanya milik mereka yang gagal dan tertatih saja. Justru di puncak keberhasilan, ia menemukan urgensi terbesarnya. Sebab titik tertinggi sebuah pencapaian adalah area paling rawan menyusupnya racun keangkuhan, kecongkakan, dan ilusi seolah semua itu lahir dari kehebatan diri sendiri.

Kemenangan yang sejati tidak pernah melahirkan sosok yang tinggi hati. Seperti halnya Rasulullah saw yang memasuki Kota Mekah dengan menundukkan kepala di atas punuk untanya, seraya melafazkan kepasrahan total kepada Allah SWT, seperti itulah sepatutnya mentalitas seorang hamba saat kemenangan menghampirinya; ia semakin sadar akan kekecilannya di hadapan yang Maha Kuasa.

Karena pada akhirnya, setelah kemenangan tiba, ujian sejatinya baru saja dimulai: ujian untuk tetap menjadi hamba!

*Disarikan dari Tafsir Kabir (32/334-347), Fakhruddin Al-Razi, Dar Ihya Al-Turats Al-‘Araby,  cetakan ketiga, 1420 H 

Tag: