Mohammad Rifai
(Pondok Pesantren Modern Al Umanaa Sukabumi)
اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ أُوْصِيْكُمْ وإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تعالى فىِ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hadirin sidang shalat jum’at yang dirahmati Allah
Pertama-tama, marilah kita bertakwa kepada Allah SWT., karena takwa menjadikan kita pribadi yang mulia. Pribadi yang ta’dzim, mengayomi dan tidak semena-mena. Subhanallah, hanya orang yang bertakwa yang layak disebut sebagai pribadi yang mulia. Siapa yang paling bertakwa, dialah yang paling mulia di sisi Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat : 13)
Hadirin yang dirahmati Allah!
Perihal takwa, ia memiliki banyak makna. Di antaranya adalah bermakna berhati-hati, waspada; menjaga sesuatu dari apa yang menyakiti, mencederai, dan membahayakan; menjaga diri dari perbuatan buruk; juga bermakna memelihara kewajiban dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Berbicara tentang takwa, apabila dikaitkan dengan kepemimpinan, maka bertakwa adalah syarat mutlak yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari dan harapan kita di masa depan, kita diperintahkan untuk berdoa agar kita dan generasi kita dapat menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah:
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
Artinya: Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (Al Furqan: 74)
Perihal takwa, dikisahkan bahwa Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang takwa. Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu menjawab, “Pernahkah engkau melewati jalan yang penuh dengan duri?” Umar Radhiyallahu anhu menjawab, “Pernah.” Ubay bertanya kembali, “lalu apa yang engkau lakukan?” Umar menjawab, “aku singsingkan lengan bajuku dan aku berhati-hati dalam melewatinya.”
Pemimpin yang Bertakwa: Selalu Berhati-hati
Hadirin sidang shalat jum’at yang dirahmati Allah!
Dari kisah di atas, khatib ingin menarik benang merah tentang makna takwa yang berarti berhati-hati. Yakni berhati-hati dan menjaga diri dari hal-hal yang mendekati dosa. Berhati-hati dari perkara yang tidak jelas. Berhati-hati dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sikap berhati-hati ini dapat mengarahkan kita pada ketelitian dan menjadikan kita pribadi yang bertanggung jawab atas segala tindakan.
Seorang pemimpin yang bertakwa harus bisa menjadikan anggotanya juga berada di jalur takwa. Memerintahkan untuk selalu melakukan perbuatan ma’ruf dan mencegah melakukan perbuatan buruk. Seorang pemimpin yang bertakwa tidak hanya selalu berhati-hati atas dirinya, melainkan juga memastikan anggotanya agar ikut berhati-hati dan tidak terjerumus dalam bahaya.
Kalau kita kaitkan kepemimpinan atau seorang pemimpin dengan kisah Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka’ab tentang ilustrasi takwa, maka bagi seorang pemimpin yang bertakwa, ia tidak hanya menyingsingkan baju dan berhati-hati saat melewati duri. Pemimpin yang bertakwa adalah ia yang akan bertindak mengambil duri tersebut dan membuangnya jauh-jauh dari jalan, agar para anggota atau generasi setelahnya bisa dengan selamat dan tanpa halangan saat melewati perjalanan.
Artinya pemimpin yang bertakwa selalu menjaga keamanan dan keselamatan anggotanya, pemimpin yang bertakwa selalu mencoba memberikan kemudahan dan tidak mempersulit keadaan. Pemimpin yang bertakwa selalu menjaga hati dan memastikan anggotanya tidak sakit hati. Pemimpin yang bertakwa selalu memberikan petunjuk dan tidak asal main tunjuk.
Allah Swt. berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَىِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْاۗ وَكَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يُوْقِنُوْنَ
Artinya: Kami menjadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar. Mereka selalu meyakini ayat-ayat Kami. (As-Sajdah: 24)
Dalam kehidupan ini, kerap kali kita menemukan seseorang yang katanya disebut sebagai pimpinan justru malah mendatangkan ketidaktenangan terhadap karyawan. Seorang ketua justru mengancam dan membuat anggotanya dalam bahaya.
Contoh kasus di Purworejo yang pernah terjadi di akhir tahun 2024. Salah satu pimpinan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) terlibat saling tusuk dengan karyawannya karena dipicu oleh persoalan kasbon hingga akhirnya keduanya dilarikan ke rumah sakit.
Kasus lain yang juga terjadi di akhir tahun 2024, pimpinan PT Totalindo Eka Persada Tbk, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi ditahan oleh KPK lantaran kasus korupsi pengadaan tanah dan proyek perumahan DP 0 Rupiah. Sementara di sisi lain, pimpinan tersebut dituntut oleh karyawannya karena 3 tahun berturut-turut tidak menunaikan hak tunjangan karyawannya.
Hadirin sekalian, dua kasus di atas merupakan sebagian kecil contoh pemimpin yang yang tidak berhati-hati. Bahkan ia sengaja meletakkan duri-duri sehingga anggotanya terluka dan sakit hati.
Pemimpin yang Bertakwa: Memberikan Pengabdian Tiada Henti
Hadirin yang dirahmati Allah!
Perihal takwa, ia juga bermakna melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Artinya takwa adalah melakukan ibadah atau pengabdian tiada henti kepada Allah Swt dengan segala bentuk kebaikan dalam hidup, kapanpun dan dimanapun kita berada.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dengan ibadah dan melaksanakan semua perintah-Nya, dan carilah wasilah, jalan yang paling tepat, untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah, di jalan-Nya agar kamu beruntung (Al Maidah: 35)
Dalam sebuah hadis disebutkan:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ جُنْدَبِ بْنِ جُنَادَةَ، وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.” (رواه الترمذ)
Artinya: Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman Mu’az bin Jabal ra, keduanya berkata; Rasulullah Saw bersabda; Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada. Iringilah kesalahanmu dengan berbuat baik, niscaya kebaikan itu menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji.
Melalui kedua dalil di atas, dapat dikatakan bahwa seorang pemimpin yang bertakwa adalah ia yang melakukan pengabdian di jalan Allah Swt dalam bentuk apapun yang bernilai kebaikan. Pengabdian ini merupakan aktivitas memberikan pelayanan dengan kesetiaan dan penuh cinta kepada siapapun. Maka, apabila pengabdian itu ditujukan kepada Allah, berarti seorang pemimpin harus menjalankan hidup dengan moralitas yang tinggi dan penuh ketaatan. Apabila pengabdian itu ditujukan kepada masyarakat, berarti seorang pemimpin harus membantu masyarakat dengan ikhlas dan memberikan pelayanan yang paripurna tak terbatas. Apabila pengabdian itu ditujukan kepada lembaga pendidikan, maka seorang pemimpin harus dengan kaffah memberikan pelayanan demi terwujudnya lembaga pendidikan yang berkualitas dan bernilai ibadah di sisi Allah.
Artinya, pemimpin yang bertakwa selalu melayani dengan aktif, tidak pasif, apalagi berpikiran minta dilayani secara eksekutif. Pemimpin yang bertakwa adalah ia yang taat dan berbakti, bukan yang gila hormat dan selalu minta dihargai.
Hadirin sekalian, kerap kita dengar dan temukan berbagai kasus pemimpin yang justru bertolak belakang dari fitrah seorang pemimpin. Ia justru menyengsarakan rakyat dengan berbagai kebijakan dan tindakan yang tidak tepat. Indonesia Corruption Watch (ICW) mengungkap ada 61 pimpinan atau kepala daerah yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi dalam kurun 2021 hingga 2023. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI) juga menyatakan ada sebanyak 167 kepala daerah di Indonesia yang terjerat kasus korupsi sepanjang 2004-2024. Artinya terdapat kurang lebih 8 kepala daerah setiap tahunnya yang menyalahgunakan anggaran belanja daerah untuk kepentingan pribadi. Yang mana seharusnya anggaran tersebut digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan kodrat seorang pemimpin yang seharusnya memberikan pelayanan terbaik terhadap rakyat. Tentu juga hal ini terjadi karena para pemimpin tersebut bukan golongan pemimpin yang bertakwa.
Selanjutnya mari kita renungkan, kenapa kita harus bertakwa? Kenapa pemimpin itu harus bertakwa? Kenapa di setiap kesempatan khutbah selalu disampaikan pesan takwa? Takwa, takwa, dan takwa. Ternyata inilah satu-satunya bekal yang paling berharga bagi kita semua. Bekal yang tidak bisa diperjual belikan di toko manapun. Bekal yang tidak akan habis selama perjalanan. Bekal yang akan sangat bermanfaat di dunia dan di akhirat kelak. Itulah bekal takwa. Sebagaimana firman Allah SWT:
وتزودوا فإن خير الزاد التقوى واتقون يا أولي الألباب
“Berbekallah kalian (dengan takwa), karena sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepadaKu, wahai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah: ayat 197)
Akhirnya, di penghujung khutbah ini, mari kita mulai menata diri dengan baik untuk menjadi pribadi yang bertakwa, untuk menjadi pemimpin yang bertakwa sesuai posisi kepemimpinan kita masing-masing. Sebagai seorang guru atau ustadz/ah, misalnya, maka kita harus bisa melayani para santri dengan memberikan berbagai pendampingan yang positif dalam menjalankan pendidikan. Menggiring mereka kepada jalan keselamatan, dan menjauhkan mereka dari hal-hal yang membahayakan. Mengajak mereka untuk selalu berhati-hati dalam bertindak agar terhindar dari duri-duri yang merusak. Menghibur mereka di kala mereka merasa suntuk, dan saat khutbah dibacakan, membangunkan mereka agar tidak mengantuk.
Sebagai seorang pemimpin yang santri, maka kita harus memberikan pengabdian yang tiada henti. Ta’dzim kepada guru, kepada tamu dan memberikan contoh yang layak ditiru. Mengajak kepada amar ma’ruf nahyi munkar dan menghindari segala perbuatan yang berpotensi melanggar peraturan.
Kita berdoa kepada Allah, semoga kita semua bisa menjadi pemimpin-pemimpin yang bertakwa dari sekarang dan untuk masa depan. Aamin aamin Yā Mujibassāilin….
بارك الله لي ولكم فى القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته، إنه هوالسميع العليم، أقول قولى هذا وأستغفر الله لى ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات من كل ذنب، فاستغفروه فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ، إنه هو الغفورالرحيم













