Beranda / Warta / Gencatan Senjata di Gaza: Hening yang Tak Pernah Benar-Benar Tenang

Gencatan Senjata di Gaza: Hening yang Tak Pernah Benar-Benar Tenang

nidaulquran.id-Ketika dentuman artileri berhenti dan langit Gaza sejenak hening, dunia menyebutnya gencatan senjata. Namun bagi jutaan warga sipil di wilayah yang luluh lantak ini, jeda itu bukanlah tanda damai—melainkan waktu yang terlalu singkat untuk sekadar bernapas, mencari air, atau memastikan bahwa keluarga mereka masih hidup.

Analisis Muhammad Husein Gaza yang diunggah ke kanal YouTubenya, menjelaskan bahwa gencatan senjata lebih terasa sebagai “napas pendek di antara badai”. Dalam tayangan tersebut, terlihat warga berbondong-bondong menuruni reruntuhan bangunan, menyusuri jalan berdebu sambil membawa jeriken kosong—mencari air bersih di tengah kota yang porak-poranda.

Bagi seorang ibu muda di kamp Jabalia, jeda perang berarti bisa menyalakan tungku darurat untuk memasak sisa tepung bagi anak-anaknya. “Setiap menit tanpa suara bom adalah keajaiban yang menakutkan, Kami tahu jeda ini bisa berakhir kapan saja,” ujarnya. Bagi banyak warga, jeda bukan soal politik atau strategi militer—melainkan perjuangan untuk tetap hidup di tengah puing dan ketakutan.

Namun di balik upaya bertahan itu, bantuan kemanusiaan sering kali tersendat oleh pemeriksaan militer dan kecurigaan. Laporan dari para relawan internasional memperlihatkan antrean panjang truk bantuan di perbatasan Rafah yang tak kunjung diizinkan masuk. “Kami tidak memikirkan strategi perang,” ujar salah satu tenaga medis asing yang tampil di tayangan. “Yang kami pikirkan hanyalah bagaimana menyalakan alat bantu napas bagi bayi yang lahir di tengah suara sirene.”

Selama gencatan senjata hanya digunakan sebagai alat rotasi pasukan atau taktik militer, warga Gaza akan terus menjadi korban perang yang tak mereka pilih. Dalam setiap jeda, ada keluarga yang memeluk satu sama lain dengan campuran doa dan ketakutan. Seperti yang diucapkan Husein dalam penutup laporannya, “Di Gaza, bahkan hening pun menakutkan—tapi justru di dalam hening itu, harapan masih berbisik untuk hidup.”

Tayangan lengkap video analisisnya bisa disimak melalui tautan berikut ini.

Tag: