NidaulQuran.ID–Pagi ini, seperti biasa, sebagian besar seorang remaja membuka ponselnya sebelum meninggalkan tempat tidur. Bukan untuk mengecek berita atau pesan dari keluarga, tetapi untuk menonton video singkat tentang “Doa agar hati tenang.” Dalam waktu tiga menit, ia merasa lebih religius dan lebih dekat dengan Tuhan—setidaknya, itulah yang dirasakannya. Fenomena ini bukanlah hal yang terisolasi. Generasi muda Muslim saat ini membangun pengalaman keberagamaan mereka melalui layar: ceramah singkat, kutipan motivasi yang disertai ayat, potongan tafsir satu menit, hingga video hijrah dari influencer yang baru saja mengubah gaya hidup mereka.
Arus informasi yang deras ini memberikan efek ganda: pengetahuan agama semakin mudah diakses, tetapi sering kali kualitas kedalaman spiritual tidak sebanding dengan kuantitas konsumsi konten. Banyak studi internasional menunjukkan bahwa keimanan berbasis media meningkat dari segi identitas dan perasaan religius, namun tidak selalu memperkuat lapisan spiritual yang lebih dalam—seperti proses kontemplatif, transformasi diri, dan hubungan batin yang konsisten (Douglass et al., 2022; Zaid, 2022).
Sosiolog digital seperti Larsson dan Willander (2024) mencatat bahwa algoritma media sosial telah membentuk ulang peta otoritas keagamaan—bukan lagi dominan di tangan ulama tradisional, tetapi didistribusikan kepada kreator konten yang paling menarik secara visual (Larsson & Willander, 2024). Pembelajaran agama kini berubah menjadi feed tanpa kurikulum: kombinasi ceramah ringan, komentar emosional, dan estetika spiritual. Hal ini menciptakan keimanan yang aktif secara sosial namun kurang mendalam secara ruhani (Wahid, 2024).
Secara empiris, data survei menunjukkan bagaimana media menjadi arena utama beragama. APJII dan DataReportal melaporkan bahwa anak muda Indonesia kini menghabiskan lebih dari separuh waktu daring mereka untuk mengakses media sosial; konten agama menjadi salah satu kategori yang paling sering ditonton (APJII 2022–2024; DataReportal, 2023). Pew Research dan Arab Barometer mencatat fenomena serupa: identitas keagamaan tetap kuat, tetapi kedalaman spiritual menurun atau terfragmentasi dalam lanskap digital yang serba cepat (Pew Research Center; Arab Barometer, 2022).
Sementara itu, penelitian nasional menegaskan realitas ini. Studi oleh Rohmawati (2024), Hannan (2024), Prasetyo dkk. (2024), Rahmah dkk. (2024), hingga Muslim (2024) menemukan bahwa media sosial memang mendorong pengetahuan agama secara cepat dan luas—tetapi jarang menyediakan ruang bagi tahapan spiritual yang memerlukan kesunyian, pendampingan, dan kedisiplinan praktik. Anak muda lebih mengenal agama sebagai tontonan inspiratif daripada jalan panjang pembentukan batin.
Namun untuk benar-benar memahami gejala ini, kita perlu membawanya ke meja teori. Bagi para ahli psikologi komunikasi, keberagamaan digital generasi muda bukanlah fenomena unik—ia konsisten dengan cara manusia berinteraksi dengan media.
Dalam kerangka Uses and Gratifications (Katz, Blumler, & Gurevitch, 1974), media tidak membentuk kebutuhan pengguna; penggunalah yang memilih media untuk memenuhi kebutuhan psikologis tertentu: identitas, hiburan, pelarian, atau koneksi sosial. Itulah mengapa konten agama yang paling populer justru yang paling ringan, paling menarik, dan paling sesuai dengan suasana hati. Bagi banyak remaja, agama di media sosial berfungsi seperti kopi pagi: cepat, hangat, menenangkan—tetapi tidak menggantikan nutrisi rohani yang lebih mendalam. Pilihan konten yang serba “short-form” membentuk gaya beragama yang sporadis, bukan sistematis.
Menurut Bandura (1977), manusia belajar dengan meniru model yang mereka anggap kredibel, menarik, dan mudah diikuti. Influencer religius memenuhi semua kriteria tersebut. Anak muda meniru cara berpakaian, gaya bicara, bentuk konten, bahkan lirik-lirik zikir yang dipopulerkan oleh para kreator. Namun, imitasi visual tidak otomatis berujung pada transformasi etis atau spiritual. Bandura mengingatkan bahwa tanpa reinforcement (penguatan lingkungan) dan praktik langsung, hasilnya hanya perilaku permukaan. Maka tak heran jika keimanan yang tumbuh dari scrolling sering terasa manis di awal dan hilang di tengah jalan.
Fenomena parasocial interaction (Horton & Wohl, 1956) membantu menjelaskan sesuatu yang menarik: anak muda merasa “dekat” dengan ustaz digital mereka, seakan-akan hubungan itu nyata. Relasi semu ini menciptakan rasa nyaman dan identitas sosial, tetapi tidak menyediakan mekanisme koreksi seperti dalam hubungan murid-guru tradisional. Akibatnya, ajaran diterima secara emosional, bukan intelektual. Mereka mencintai figur, tetapi tidak selalu memahami ilmunya.
Dalam teori kognitif-skematik yang diusung oleh Rumelhart (1980), pengetahuan yang baik seharusnya terjalin dengan baik, membentuk struktur makna yang kuat. Namun, media sosial justru memecah informasi menjadi potongan-potongan pendek yang terpisah: sedikit tentang akhlak, sedikit tentang fiqh, sedikit motivasi, dan sedikit tafsir—tanpa adanya struktur yang utuh. Akibatnya, muncul apa yang disebut sebagai fragmented faith schema: banyak tahu tetapi tidak mendalam, cepat menghafal tetapi tidak kokoh. Keimanan yang seperti ini mudah runtuh ketika menghadapi ujian, karena tidak pernah memiliki akar yang kuat.
Pada perspektif Mediatization Theory (Hjarvard, 2011; Couldry & Hepp, 2017), media tidak hanya berfungsi sebagai saluran untuk menyampaikan agama—media telah menjadi lingkungan di mana agama itu sendiri berkembang. Dakwah kini mengikuti logika algoritma: harus singkat, menarik, dan mudah untuk dibagikan. Spiritualitas terjepit antara kebutuhan untuk tampil dan kebutuhan untuk merenung. Inilah paradoksnya: keimanan semakin terlihat di ruang publik, tetapi batin sering kali menjadi semakin privat dan kosong.
Kita tidak sedang menyalahkan media sosial. Ia hanyalah panggung dan cermin yang memperkuat apa yang sudah ada—kecenderungan identitas, kebutuhan emosional, dan kerinduan akan ketenangan. Namun, spiritualitas bukanlah sekadar konten. Ia adalah sebuah latihan yang panjang. Di sinilah tantangannya: bagaimana menjembatani antara keimanan digital yang tumbuh pesat dengan spiritualitas yang damai dan berkembang perlahan.
Para peneliti menyarankan pendekatan yang saling mengisi: menggabungkan jalur online dan offline. Media sosial bisa menjadi pintu masuk, sementara praktik spiritual harus menjadi fondasi. Halaqah, kajian kitab, pendampingan guru, dan tradisi tafakur—semua ini perlu dihidupkan kembali, bukan sebagai penantang dunia digital, tetapi sebagai pendalaman dari apa yang sudah mulai ada.
Generasi ini bukanlah generasi yang tidak menginginkan spiritualitas. Mereka hanya belum diberikan ruang untuk merasakannya. Pintu sudah terbuka melalui layar—kita hanya perlu menunjukkan jalan menuju kedalaman.[]













