nidaulquran.id-Diskusi Temu Ilmiah Akhir Tahun INSISTS di Kalibata, Jakarta, Sabtu (6/12/2025), tidak hanya menjadi forum akademik tahunan, tetapi juga panggung evaluasi besar-besaran terhadap arah pendidikan global. Lebih dari 150 peserta hadir menyimak pandangan kritis Direktur INSISTS, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, yang menilai bahwa krisis pendidikan modern lahir dari hilangnya orientasi moral dan keterputusan manusia dari tujuan hidup yang transenden.
Dalam paparan bertajuk “Pendidikan Holistik Pondok Pesantren”, Prof Hamid menjelaskan bahwa konsep pendidikan holistik yang dipromosikan Jepang, Barat, maupun Australia sebenarnya belum menyelesaikan akar persoalan moral generasi modern. Di Jepang, pendidikan karakter hanya berhenti pada kegiatan fisik seperti menyapu kelas atau bercocok tanam. Di Barat, konsep holistik ala Miller dan Forbes memasukkan unsur “spiritual”, tetapi tanpa agama, tanpa hukum moral, dan terjebak pada teknik relaksasi. Di Australia, pembinaan mental memang kuat, tetapi tidak menyentuh dimensi ketauhidan dan ibadah.
Prof Hamid menilai seluruh pendekatan tersebut gagal menjawab masalah paling mendasar dalam pendidikan: membentuk manusia yang tahu untuk apa ia hidup dan kepada siapa ia bertanggung jawab. “Spiritualitas mereka berhenti pada relaksasi, bukan amal,” ujarnya, menyebutnya sebagai cacat epistemologis pendidikan modern.
Berbeda dengan pendekatan itu, Prof Hamid menekankan bahwa pondok pesantren menawarkan model pendidikan alternatif yang menjawab krisis tersebut melalui sistem holistik yang berlangsung 24 jam. Di pesantren, kurikulum tidak dibatasi oleh mata pelajaran, tetapi mencakup totalitas pengalaman santri—kelas, ibadah, kebiasaan sehari-hari, hingga organisasi. Pesantren, menurut Hamid, menyatukan akal, hati, jasad, adab, dan tindakan nyata dalam bingkai tauhid, bukan sekadar etika humanis.
Ia menggambarkan integrasi itu melalui praktik harian: penerapan fikih dalam wudhu dan shalat, pengelolaan dapur sebagai latihan amanah, organisasi santri sebagai pembentukan kepemimpinan, serta pengaturan pakaian ibadah sebagai bagian dari adab. Tidak ada dikotomi antara sains dan agama; semua tunduk pada pandangan hidup Islam.
Prof Hamid menutup pemaparannya dengan kritik tegas: pendidikan yang tidak menghubungkan manusia dengan Allah dan tugas kekhalifahannya “hanyalah setengah holistik”. Temu ilmiah tersebut memperlihatkan kecenderungan baru bahwa komunitas akademik Islam semakin melihat pesantren sebagai jawaban struktural terhadap krisis pendidikan modern, bukan hanya sebagai lembaga tradisional, tetapi sebagai model alternatif masa depan.










