nidaulquran.id-Kondisi Masjid Al-Aqsa kini memasuki fase yang sangat kritis menyusul laporan bahwa tempat suci ketiga umat Islam tersebut telah disegel dan ditutup paksa selama lebih dari dua puluh hari. Merespons krisis kemanusiaan dan keagamaan ini, Presiden Persatuan Ulama Muslim Sedunia (IUMS), Syekh Ali Al-Qaradaghi, secara terbuka membunyikan alarm bahaya. Beliau menyerukan tindakan mendesak dari seluruh dunia Islam untuk segera bergerak menghentikan eskalasi penindasan yang terus terjadi di kompleks suci tersebut.
Dalam sebuah pernyataan video yang dirilis baru-baru, Syekh Al-Qaradaghi menyoroti eskalasi penindasan ini sebagai insiden kezaliman yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern Al-Quds. Umat Islam kini sepenuhnya dilarang memasuki area masjid untuk melakukan ibadah apa pun, di mana akses untuk salat berjamaah harian, salat Jumat, hingga salat Id diblokir secara sepihak. Beliau mengingatkan kembali bahwa menghalangi umat untuk menyebut nama Allah di masjid-Nya merupakan bentuk kezaliman yang paling nyata dan tidak dapat dibiarkan begitu saja.
Lebih lanjut, tokoh ulama global ini secara tegas membantah narasi pihak Zionis yang berambisi membangun kuil di atas lokasi Masjid Al-Aqsa. Ia menyatakan bahwa klaim tersebut merupakan fabrikasi sejarah yang sama sekali tidak memiliki landasan validitas, baik dari tinjauan masa lalu maupun literatur suci seperti Al-Quran dan Sunnah.
Syekh Al-Qaradaghi juga memperingatkan adanya skenario terburuk dari penutupan berkepanjangan ini, yakni sebuah rancangan sistematis untuk membiasakan dunia dengan status quo baru. Jika dibiarkan, situasi ini diyakini bisa berujung pada konversi masjid menjadi museum, yang pada puncaknya akan bermuara pada penghancuran total fisik bangunan Masjid Al-Aqsa.
Di tengah berbagai isu global yang sering kali mengalihkan fokus masyarakat dunia, Syekh Al-Qaradaghi menyebut situasi Al-Aqsa saat ini sebagai ujian eksistensi yang mempertaruhkan hidup atau matinya kepedulian umat Islam. Sikap diam dari dunia internasional dinilai hanya akan menyuntikkan keberanian bagi pihak Zionis untuk merealisasikan agenda gelap mereka. Oleh karena itu, ia mendesak adanya langkah konkret dan sinergis dari berbagai lapisan, mulai dari tingkat negara dan pemerintahan yang harus berani mengambil langkah politik serta diplomatik yang tegas.
Di saat yang sama, para cendekiawan dan pendakwah juga dituntut mengambil peran di garis depan untuk membongkar narasi menyesatkan dan terus mengedukasi umat. Tidak ketinggalan, masyarakat di tingkat akar rumput diserukan untuk terus menyuarakan penolakan melalui aksi protes dan demonstrasi yang masif, gigih, dan berkelanjutan guna memberikan tekanan kepada komunitas internasional.
Krisis penutupan Masjid Al-Aqsa hari ini menjadi bukti nyata bahwa ancaman penghancuran tersebut bukan lagi sekadar wacana belaka. Momentum ini adalah panggilan darurat bagi siapa saja, terutama umat Islam di seluruh penjuru dunia, yang masih memiliki nurani dan kepedulian terhadap keadilan serta pelestarian warisan suci peradaban Islam agar segera merapatkan barisan dan mengambil tindakan nyata.













