KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hadirin sidang salat Jumat yang dirahmati Allah, wabil khusus saudara-saudaraku para pemuda, generasi penerus peradaban Islam yang saya cintai.
Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan abadi kita, Baginda Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istikamah meniti jalan sunnah hingga akhir zaman.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah (ujian), di mana arus informasi begitu deras, dan standar kebenaran seringkali dikaburkan oleh tren sosial media. Tidak sedikit anak muda yang merasa insecure, kehilangan arah, dan bimbang dalam menentukan jati diri keimanannya. Dalam situasi akhir zaman yang serba abu-abu ini, Rasulullah ﷺ memberikan sebuah resep spiritual yang sangat kuat:
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ
“Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surah Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal.” (HR. Muslim No. 809)
Mengapa harus Surah Al-Kahfi? Pesan apa yang disembunyikan Allah dalam sepuluh ayat pertama ini sehingga ia mampu menjadi perisai bagi iman kita? Mari kita tadabburi maknanya dengan merujuk pada penjelasan para ulama salafus saleh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka surah ini dengan firman-Nya:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok; sebagai bimbingan yang lurus…” (QS. Al-Kahf [18]: 1-2)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitabnya Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan makna ayat ini dengan sangat indah. Beliau menyatakan bahwa Allah memuji Diri-Nya sendiri karena anugerah terbesar yang diberikan kepada umat manusia, yaitu Al-Qur’an yang sifatnya mustaqim (lurus), tidak ada kebengkokan (‘iwaj), tidak ada penyimpangan, dan tidak ada kontradiksi di dalamnya.
Al-Qur’an hadir sebagai qayyima, yang menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bermakna sesuatu yang lurus dan memberikan kelurusan bagi hal-hal di sekitarnya.
Saudara-saudaraku, dunia yang kita tinggali saat ini seringkali menyajikan nilai-nilai yang bengkok. Kebohongan dibingkai sebagai kebenaran, kemaksiatan dibungkus dengan nama kebebasan berekspresi.
Pemuda yang menancapkan akar pemikirannya pada Al-Qur’an tidak akan mudah goyah. Jika sebuah tren bertentangan dengan Al-Qur’an, betapapun viralnya, ia tetaplah sebuah kebengkokan.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Pada ayat ke-7, Allah menggeser pandangan kita untuk menyadari hakikat dunia:
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahf [18]: 7)
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, mengutip perkataan para ulama salaf bahwa zinatan laha (perhiasan bumi) mencakup segala gemerlap dunia: harta, tahta, ketenaran, hingga paras rupa.
Namun perhatikanlah, Allah menyebutnya sebagai perhiasan bagi bumi, bukan bagi kemuliaan hakiki jiwa kita. Tujuannya adalah linabluwahum (untuk menguji).
Al-Fudhail bin ‘Iyadh, seorang ulama dan zahid besar, ketika menafsirkan kalimat ahsan ‘amala (amal yang terbaik) dalam ayat ini, beliau berkata: “Amal yang paling ikhlas dan paling benar. Jika amal itu ikhlas tapi tidak benar (sesuai sunnah), tidak diterima. Jika benar tapi tidak ikhlas, juga tidak diterima.”
Inilah standar sukses seorang pemuda Muslim: bukan seberapa viral dirinya, melainkan seberapa ikhlas dan benar amalnya di hadapan Allah.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Pada ayat ke-9 dan 10, Allah memberikan contoh nyata pemuda-pemuda hebat yang dikenal sebagai Ashabul Kahfi. Mereka hidup di bawah pemerintahan raja yang kejam, yang mewajibkan kemusyrikan. Namun, mereka menolak tunduk pada kezaliman sistem. Mereka memilih menyingkir ke dalam gua demi menyelamatkan akidah.
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.” (QS. Al-Kahfi [18]: 10)
Sikap gigih mempertahankan prinsip kebenaran di tengah rusaknya zaman ini tidak hanya milik pemuda di masa lalu, melainkan terus diwarisi oleh para ulama kita.
Keteguhan ini dapat kita temukan dalam jejak rekam sejarah keilmuan Islam, salah satunya terdokumentasi dalam kitab Inba’ al-Ghumr bi Abna’ al-’Umr. Di dalamnya terdapat kisah mengenai sosok Al-Imam Al-Hafizh Waliyuddin Abu Zur’ah Al-Iraqi rahimahullah.
Beliau adalah seorang ulama besar pada era Kesultanan Mamluk, sebuah masa di mana kondisi politik dipenuhi intrik dan kelalaian moral. Ketika beliau diangkat menjadi Qadhi (Hakim Agung), beliau memegang amanah tersebut dengan integritas yang luar biasa teguh, menjalankan hukum dengan penuh kesucian hati dan kehormatan, serta tidak pernah pandang bulu dalam menegakkan keadilan. Sikap lurusnya ini tentu saja membuat gerah dan marah para pejabat negara yang terbiasa dengan korupsi dan manipulasi.
Para pembesar negara yang lalim akhirnya bersatu untuk melawannya dan mencopot jabatannya secara sepihak. Namun, layaknya pemuda Al-Kahfi yang rela meninggalkan kenyamanan istana demi iman, Al-Hafizh Waliyuddin Al-Iraqi tidak sedikitpun menukar kebenaran hukum Allah demi simpati penguasa. Beliau kembali ke “gua” spiritualnya, yakni majelis-majelis ilmu, untuk terus mengajar, mencetak generasi ulama (seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani), dan menulis karya-karya abadi.
Baca juga: Doa: Senjata Orang Beriman
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah.
Kata fityah (pemuda) dalam surah Al-Kahfi melambangkan kekuatan, idealisme, dan keberanian. Baik pemuda Ashabul Kahfi maupun para ulama pewaris nabi seperti Waliyuddin Al-Iraqi mengajarkan satu hal penting: berani tampil beda untuk membela kebenaran Islam adalah lambang ksatria sejati.
Tantangan anak muda hari ini mungkin bukan ancaman pedang penguasa, melainkan algoritma media sosial yang menjauhkan dari masjid, tawaran pekerjaan yang diharamkan syariat, atau lingkungan pergaulan yang merusak akidah. Jadilah pemuda yang teguh pendirian. Jangan malu dianggap “asing” atau “ketinggalan zaman” karena gigih menjaga salat dan menundukkan pandangan.
Semoga Allah senantiasa menjaga hati dan iman kita dari segala fitnah zaman.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Hadirin sidang Jumat yang senantiasa mengharap rida Allah.
Di khutbah kedua ini, khatib kembali mengajak kita semua untuk menguatkan ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla.
Sebagai wujud nyata dari kecintaan kita kepada Al-Qur’an dan bimbingan Baginda Nabi ﷺ, marilah kita jadikan pembacaan Surah Al-Kahfi sebagai tradisi mingguan yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menegaskan sunnahnya membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat maupun malam Jumat, berdasarkan hadits:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
“Barangsiapa yang membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka ia akan disinari oleh cahaya di antara dua Jumat.” (HR. Al-Hakim No. 3392 dan Al-Baihaqi No. 5996, Shahih)
Jadikanlah cahaya Al-Kahfi ini sebagai penerang batin pemuda-pemuda kita agar tidak tersesat dalam gemerlap dunia yang fana. Kini, marilah kita menundukkan kepala dan hati kita sejenak, memohon dengan penuh kekhusyukan kepada Dzat Yang Maha Mendengar.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa para ulama yang telah menjaga kemurnian ajaran-Mu hingga sampai kepada kami.
Ya Allah, Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami dan hati generasi muda kami di atas agama-Mu. Jadikanlah pemuda-pemuda kami laksana pemuda Ashabul Kahfi, yang berani mempertahankan iman di tengah badai godaan. Lindungilah akal mereka dari tontonan yang merusak dan pemikiran yang menyimpang dari jalan-Mu yang lurus.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada para pemimpin kami agar senantiasa berlaku adil. Tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin di manapun mereka berada, berikanlah mereka kesabaran dan kemenangan yang nyata.
رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.










