nidaulquran.id-Kita sering berbicara tentang iman dalam bahasa yang sangat kognitif; percaya, yakin, membenarkan. Jarang kita menyentuh sisi yang lebih dalam dari itu, yaitu soal rasa. Rasulullah Saw. ternyata pernah menyebut iman dengan kata yang sangat indrawi. Beliau menyebutnya halâwah, manisnya iman. Seolah-olah iman bukan hanya soal akal dan tekad, tetapi juga soal perasaan; sesuatu yang bisa dialami langsung, seperti manisnya madu oleh orang yang memang sedang lapar.
Dari Anas bin Malik Ra., Rasulullah Saw. bersabda:
“Tiga hal, barangsiapa ada pada dirinya niscaya ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari No. 16, Muslim No. 43)
Tiga syarat itu tidak berdiri sendiri-sendiri. Syarat pertama menyangkut akar cinta: kepada siapa iman ini pertama-tama dipersembahkan. Syarat kedua menyangkut cabang cinta; bagaimana iman itu kemudian memancar ke dalam hubungan dengan sesama. Syarat ketiga menyangkut keteguhan: seberapa dalam iman itu telah mengakar sehingga tidak mudah digoyahkan oleh godaan apa pun.
Ibnu Battal menjelaskan bahwa makna menemukan manisnya iman adalah ketika seseorang benar-benar menikmati ketaatan, sanggup menanggung beratnya, dan dengan suka hati mendahulukan semua itu di atas kesenangan dunia. Ia mengutip perkataan ‘Utbah al-Ghulam, seorang ulama saleh: “Aku bersusah payah dalam shalat selama dua puluh tahun, kemudian aku menikmatinya sepanjang sisa hidupku.” Rasa itu bukan hadiah instan, ia adalah buah dari perjuangan yang panjang (Ibn Battal 2003a, 67).
Baca juga: Kaidah Quraniyyah dan Sunnah Nabawiyah dalam Mengatasi Perundungan (Bullying)
Cinta yang Paling Utama
Syarat pertama tampak mudah diucapkan: mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segalanya. Namun Al-Qur’an memotret betapa beratnya kenyataan di balik ucapan itu. QS. At-Taubah [9]: 24 turun menjelang ekspedisi Tabuk, sebuah perjalanan yang paling berat dalam sejarah dakwah: jaraknya jauh, cuacanya terik, dan yang dihadapi adalah pasukan Romawi, kekuatan terbesar di dunia saat itu. Banyak yang mencari-cari alasan untuk tidak ikut.
Allah lalu memerintahkan Nabi untuk mengajukan pertanyaan yang langsung ke inti. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merinci satu per satu hal yang menjadi penghalang: bapak, anak, saudara, pasangan, kerabat, harta yang susah payah dikumpulkan, bisnis yang ditakutkan merugi, hingga rumah yang nyaman dan disenangi (Ibn Katsîr 1998, 108).
Ibnu ‘Asyur menambahkan bahwa perincian yang panjang ini disengaja, ia adalah irtiqâ’ fi al-tahdzîr, peringatan yang disampaikan secara bertahap dan semakin dalam. Setiap item dalam daftar itu adalah sesuatu yang sah dicintai. Namun ketika kecintaan pada semua itu menghalangi seseorang memenuhi kewajiban imannya, ia telah menempatkan cinta pada posisi yang keliru. Allah menutup ayat ini dengan ancaman yang sengaja dibiarkan samar, parhatikan redaksi fatarabbashu hattâ ya’tiyallâhu bi amrih. Bagi Ibnu ‘Asyur, kata “amran” sengaja dibiarkan terbuka agar pikiran pembacanya sendiri yang membayangkan (Ibn ‘Ashur 1984a, 153).
Qadi ‘Iyad mengabadikan dialog antara Umar bin Khattab Ra. dan Rasulullah Saw., Umar berkata jujur: “Engkau lebih aku cintai dari segalanya, kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah menjawab: “Imanmu belum sempurna, wahai Umar, sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.”
Nabi belum menyatakan iman Umar sempurna karena Umar masih berhenti di cinta yang belum melampaui dirinya sendiri. Cintanya tulus, namun masih ada satu hal yang lebih ia jaga dari itu, yaitu dirinya sendiri. Dan Nabi tahu persis bahwa cinta yang masih berjaga-jaga seperti itu belum bisa disebut cinta yang sempurna.
Lalu sesuatu bergerak di dalam dada Umar. Ia tidak mendebat, tidak bertanya lebih jauh. Ia duduk bersama sabda itu dan membiarkannya bekerja. Kemudian ia berkata: “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Barulah Nabi berkata dengan tenang, “Al-âna yâ ‘Umar” sekarang, wahai Umar.
Sahl al-Tustari menyimpulkan: siapa yang belum merasakan dirinya sepenuhnya ada dalam genggaman Rasulullah dalam semua keadaan hidupnya, ia belum akan menemukan manisnya iman (Al-Qadi ʻIyad 1986, 44). Kisah Umar mengajarkan bahwa rasa itu tidak bisa diperdebatkan ke dalam hati. Ia hanya bisa diundang masuk.
Persaudaraan yang Melampaui Kepentingan
Syarat kedua adalah mencintai seseorang semata-mata karena Allah. QS. Al-Hujurât [49]: 10 turun bukan dari ruang hampa, melainkan dari pertikaian nyata di antara dua kelompok Anshar. Allah tidak sekadar menegur, tetapi mengingatkan kembali dari mana akar hubungan mereka sebenarnya.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurât [49]: 10).
Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa innamâ di awal ayat ini bukan pembuka biasa. Ia menyatakan bahwa persaudaraan sesama mukmin adalah fakta yang sudah seharusnya disadari, bukan sesuatu yang baru diperkenalkan. Persaudaraan ini tumbuh dari ikatan iman, bukan ikatan darah. Ibnu ‘Asyur menegaskan bahwa ikatan iman tidak boleh dianggap lebih lemah dari ikatan darah, ia adalah nasab al-mûhâ, nasab yang diilhamkan Allah (Ibn ‘Ashur 1984b, 243).
Ibnu Battal menghubungkan syarat ini dengan sabda Nabi tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, salah satunya dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu karena-Nya dan berpisah karena-Nya. Cinta jenis ini tidak bergantung pada manfaat dan tidak retak ketika kepentingan berubah. Nabi sendiri pernah bersabda bahwa seandainya beliau boleh mengambil seorang khalil selain Tuhannya, tentu beliau memilih Abu Bakar. Namun beliau tidak melakukannya, karena persaudaraan Islam sudah melampaui itu semua (Ibn Battal 2003a, 68).
Di zaman kita, persahabatan mudah dibangun dan mudah runtuh. Sebagian besar karena ia berdiri di atas kepentingan, bukan di atas sesuatu yang lebih kokoh. Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan untuk orang-orang yang kita sebut sahabat adalah ini, andaikata semua keuntungan itu tidak ada, apakah kita masih akan duduk bersama mereka?
Baca juga: Tadabbur Ringkas Surah Al-Waqi’ah
Iman yang Tak Tergoda
Syarat ketiga paling dramatis bunyinya: membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana membenci jika dilempar ke dalam api neraka. Ibnu Battal menjelaskan bahwa ini adalah tanda iman yang sudah benar-benar meresap ke dalam qalbu, bukan sekadar tahu bahwa kufur itu salah secara akal, tetapi merasakannya sebagai sesuatu yang secara naluriah ingin dijauhi dengan seluruh diri (Ibn Battal 2003a, 69).
Ibnu Battal mengaitkan syarat ini dengan hadis yang diriwayatkan Khabbab bin al-Arat Ra. Suatu hari Khabbab dan beberapa sahabat mengadu kepada Rasulullah Saw. tentang siksaan yang mereka terima dari kaum musyrikin di Makkah. Nabi ketika itu sedang berbaring, menyandarkan kepalanya pada selimutnya di bawah naungan Ka’bah. Ia lalu menceritakan bagaimana umat-umat terdahulu menghadapi ujian yang jauh lebih berat: ada yang ditanam di dalam tanah lalu tubuhnya dipotong, ada yang disisir dagingnya hingga ke tulang, namun tidak satu pun dari mereka yang berpaling dari agamanya.
Kemudian Nabi bersabda dengan penuh keyakinan: “Demi Allah, urusan ini pasti akan sempurna, hingga seorang pengendara bisa melakukan perjalanan dari Shan’a ke Hadramaut tanpa rasa takut kecuali kepada Allah” (Ibn Battal 2003b, 294). Kisah ini bukan tentang kepahlawanan fisik. Ini tentang jiwa yang telah sedemikian penuh dengan iman, sehingga kehilangan dunia terasa jauh lebih ringan daripada kehilangan iman.
Di zaman kita, tidak ada yang menyodorkan siksaan semacam itu. Namun ada yang lebih halus dari itu: godaan untuk sedikit bergeser, sedikit berkompromi, sedikit menurunkan standar. Dan yang berbahaya dari kompromi kecil adalah ia tidak terasa seperti kufur. Ia terasa seperti akal sehat. Maka syarat ketiga ini menjadi cermin yang paling jujur: apakah kita masih merasakan sesuatu bergolak di dalam dada ketika diminta melangkah mundur dari iman? Atau rasa itu sudah lama membeku tanpa kita sadari?
Penutup
Tiga syarat yang disebutkan Nabi itu sesungguhnya satu kesatuan. Seseorang yang benar-benar menempatkan Allah di atas segalanya akan mencintai orang lain dengan cinta yang berakar pada Allah, bukan pada kepentingan. Dan ketika hati sudah terisi dengan cinta semacam itu, kufur akan terasa asing dengan sendirinya.
Ibnu Battal mengutip ungkapan seorang ulama saleh tentang hakikat cinta kepada Allah: muwâtha’atul qalbi li murâdil rabb; hati yang selaras dengan apa yang dikehendaki Tuhannya, mencintai apa yang Allah cintai dan membenci apa yang Allah benci.
Mahmud al-Warraq pernah meringkasnya dalam bait yang sederhana namun menancap: bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai Allah sementara ia mendurhakai-Nya? Jika cintanya sungguh-sungguh, tentu ia taat, karena orang yang mencintai selalu tunduk kepada yang dicintainya (Ibn Battal 2003a, 67).
Rasa manis itu tidak datang dengan sendirinya. Ia tumbuh dari perjuangan yang panjang dan sunyi, seperti ‘Utbah al-Ghulam yang bersusah payah dua puluh tahun sebelum shalat terasa nikmat. Mungkin kita belum sampai di sana. Namun kabar baiknya, pintu menuju rasa itu masih terbuka, selama kita mau terus melangkah ke arahnya. Wallahu a’lam.
Referensi
Al-Qadi ʻIyad, ʻIyad ibn Musa al-Yahshubi al-Andalusi. 1986. 2 Al-Syifa bi Taʻrif Huquq al-Musthafa. 2 ed. Amman: Dar al-Fayha.
Ibn ‘Ashur, Muḥammad al-Ṭāhir. 1984a. 10 Al-Tahrir wa Al-Tanwir. Tunis: Dār al-Tūnisiyyah li al-Nash.
Ibn ‘Ashur, Muḥammad al-Ṭāhir. 1984b. 26 Al-Tahrir wa Al-Tanwir. Tunis: Dār al-Tūnisiyyah li al-Nash.
Ibn Battal, Abu al-Hasan Ali ibn Khalaf ibn Abd al-Malik. 2003a. 1 Syarh Shahih al-Bukhari li Ibn Battal. 2 ed. Riyadh: Maktabah al-Rusyd.Ibn Battal, Abu al-Hasan Ali ibn Khalaf ibn Abd al-Malik. 2003b. 8 Syarh Shahih al-Bukhari li Ibn Battal. 2 ed. Riyadh: Maktabah al-Rusyd.Ibn Katsîr, Abû al-Fidâ’ Ismâ’îl bin ’Umar. 1998. 2 Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm. Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah.











