nidaulquran.id-Kasus perundungan (bullying) di lembaga pendidikan masih belum teratasi di Negeri ini hingga membuat hati terasa miris ketika mendengarnya. Pada tanggal 12 Agustus 2025 banyak beredar video singkat 48 detik yang mempertontonkan perundungan siswa SMP di Pangandaran. Pun juga di Lampung Selatan, orang tua TK melaporkan ke Polres pada tanggal 23 Agustus 2025. Sementara itu di Pamekasan, kasus perundungan siswa SMP masih berlanjut proses penangananya oleh UPTD PPA.
Aninda (2025) memberikan statement bahwa perundungan adalah masalah sosial yang sangat serius berdampak pada kesehatan mental serta perkembangan psikologis anak. Anak yang menjadi korban perundungan biasanya cenderung menyimpan luka dalam diam, tidak merasa aman, hilangnya kepercayaan diri, bahkan mengalami trauma berkepanjangan yang menghambat tumbuh kembang dari sisi sosial dan emosionalnya.
Fenomena tersebut seharusnya menjadi perhatian khusus bagi lembaga pendidikan, orang tua dan masyarakat. Kemitraan lembaga pendidikan dan orang tua serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah dan mengatasi kasus perundungan ini.
Kemudian, bagaimana kaidah Quraniyyah dan Sunnah Nabawiyyah memberikan solusi dari fenomena perundungan ini?
Momen peringatan kelahiran Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seharusnya menjadi momen istimewa untuk melakukan refleksi. Sejauhmana kita menjalankan dan mengamalkan al-Quran dan sunnah-sunnah beliau dalam berinteraksi di masyarakat.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat al-Isra ayat 9;
إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Artinya:” Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,”.
Dalam surat Al Ahzab 21 Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Berkenaan dengan perundungan, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah memberikan tadzkiroh (peringatan) kepada kitadalam surat al Humazah ayat 1:
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
Artinya: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,”
Dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir dijelaskan bahwa sebuah kehinaan atau adzab diperuntukkan bagi al-humazah, yaitu orang yang mencela di hadapan saudaranya, dan al-lumazah, yakni yang menggibah di belakangnya. Redaksi tafsir yang lain, bahwa al-humazah sebagai orang yang menyakiti rekan-rekan duduknya dengan ucapan yang buruk, sedangkan al-lumazah adalah yang memicingkan matanya atau menunjuk-nunjuk dengan tangan, kepala, atau alis, yang pada intinya sebuah bentuk merendahkan.
Sehingga kaidah Quraniyyah ini cukup menjadi panduan bagi kita kaum muslimin dalam bermasyarakat. Jangan sampai kita termasuk dari golongan orang-orang yang celaka. Jangan sampai lisan dan perbuatan kita menjatuhkan martabat orang lain hingga menyeret kita ke neraka huthamah. Na’udzubillah min dzaalik.
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai teladan terbaik dalam kehidupan telah memberikan kaidah terkait pencegahan perundungan ini:
Hadits pertama;
اِنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا، فَكَيْفَ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ ظَالِمًا؟ قَالَ: تَحْجِزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ، فَإِنَّ ذَاكَ نَصْرُهُ.
“Tolonglah saudaramu, baik saat ia menzalimi maupun dizalimi.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana menolong jika ia menzalimi?” Beliau menjawab, “Kamu mencegahnya dari kezaliman, itulah menolongnya.” (HR.Bukhari).
Best practice yang dapat dilakukan di lembaga pendidikan dan orang tua adalah menanamkan hadits tersebut kepada anak dengan mengajak dialog, “Nak, tolonglah temanmu ketika melihatnya dibully atau sedang membully”.
Kepada yang membully dengan menyampaikan nasehat, “Kak, tidak boleh menyakiti teman kita; ayo segera minta maaf.” Bila belum berani menegur, doronglah untuk melapor kepada guru atau orang dewasa di dekat terjadinya kasus pembullyan. Kepada korban pembullyan, berikanlah penguatan, “Dik, tidak apa-apa, In sya Allah ucapan itu tidak benar. Kamu tidak seperti yang dikatakan itu. Allah mencintai hambanya yang pemaaf. Yuk, maafkan ya”.
Hadits yang lain, menegaskan pentingnya menjaga lisan seraya mengaitkannya dengan iman kepada Allah dan hari akhir:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam“(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan agar lisan kita hanya digunakan untuk perkataan yang bermanfaaat, bila tidak bisa, maka diam adalah lebih selamat bagi diri dan orang lain. Keimanan kita tidak sempurna bila lisan dibiarkan menyakiti, termasuk melalui perilaku membully. Hadits berikutnya mempertegas standar akhlak seorang muslim:
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“ Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sunnah nabawiyah tersebut memberikan tadzkiroh (peringatan) untuk kita memastikan setiap muslim tidak menyakiti saudara muslim lainnya dengan ucapan lisan dan perbuatan.
Lisan bisa berupa ucapan verbal secara langsung atau dengan tulisan melalui pesan atau status di media sosial; caci maki di depan atau di belakang, fitnah, ghibah, namimah (adu domba), merendahkan fisik seperti gendut, kerempeng, item banget, pesek dan ujaran kebencian lainnya.
Tangan bisa berupa perundungan dengan tangan secara langsung berupa pukulan, tendangan, merusak, merampas, atau perundungan secara fisik dan psikis lainya.
Di tengah maraknya perundungan, Islam menawarkan panduan komprehensif; Al-Qur’an menunjukkan jalan paling lurus dan memperingatkan bahaya “humazah–lumazah”. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan bahwa lisan dan tangan kita harus membuat orang lain aman.
Oleh karena itu, orang tua dan lembaga pendidikan perlu berkolaborasi menanamkan adab “berkata baik atau diam”, menolong yang dizalimi sekaligus mencegah yang zalim, serta menerapkan protokol pemulihan yang tegas dan adil dan kasih sayang.
Berbekal kaidah Quraniyyah dan sunnah nabawiyyah, mari bersama sama kita menghidupkannya dalam amal shalih yang nyata dengan mengikuti teladan agung kita Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam bermasyarakat.
Membangun budaya aman anti perundungan agar setiap anak belajar tanpa takut dan tumbuh sebagai generasi beriman, Qurani, beradab, dan berdaya. Yaa Rabbii mampukan kami dalam menta’diib anak anak kami mengamalkan al-Quran dalam kehidupan (‘Aamilul Quran wa Sunnah Nabawiyyah). Jauhkan anak anak kami dari kasus perundungan; baik menjadi pelaku ataupun korban.
اللهم إنك تعلم أن اجتهدت في تأديب أولادي فلم أستطيع فأدبوهم لي
Ya Allah sesungguhnya kami telah bersungguh-sungguh dalam mendidik anak anak kami, akan tetapi kami tidak sanggup, maka didiklah mereka untukku.
Referensi:
DetikNews. (2025, 12 Agustus). Viral siswa SMP di Pangandaran jadi korban bullying, polisi turun tangan. https://news.detik.com/berita/d-8056605/viral-siswa-smp-di-pangandaran-jadi-korban-bullying-polisi-turun-tangan
Radar Lampung. (2025, 23 Agustus). Anak TK diduga dibully istri kades, orang tua lapor ke polisi. https://radarlampung.bacakoran.co/read/25094/anak-tk-diduga-dibully-istri-kades-orang-tua-laporan-ke-polisi
Antara Jatim. (2025). UPTD PPA Pamekasan fasilitasi kasus perundungan dengan diversi. https://jatim.antaranews.com/berita/964789/uptd-ppa-pamekasan-fasilitasi-kasus-perundungan-dengan-diversi
TafsirWeb. (n.d.). Surat Al-Humazah ayat 1 — Zubdatut Tafsir min Fatḥ al-Qadīr. https://tafsirweb.com/13020-surat-al-humazah-ayat-1.html
Putri, Cintiya Amelia, Fauziah Amelia Siregar, and Aulia rasyicha Lubis. “Liberosis: Jurnal Psikologi Dan Bimbingan Konseling.” Liberosis : Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling 1, no. 1 (2025): 1–19.
Candrawati, R. and Setyawan, A., 2023. Analisis perilaku bullying terhadap motivasi belajar siswa sekolah dasar. Pandu: Jurnal Pendidikan Anak dan Pendidikan Umum, 1(2), pp.64-68.













