nidaulquran.id-Kota Surakarta kembali menjadi pusat perhatian publik setelah ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat memadati jalanan utama pada Sabtu, 2 Mei 2026. Aksi massa yang bertajuk “Al-Quds Memanggil” ini merupakan inisiatif kolektif sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina. Kegiatan yang berlangsung tertib ini menggabungkan semangat kemanusiaan dengan pesan perdamaian global yang disuarakan dari jantung Surakarta.
Lautan manusia yang membawa berbagai atribut, mulai dari bendera Palestina hingga poster tuntutan kemerdekaan, menciptakan pemandangan yang mencolok di sepanjang rute aksi. Acara ini dikoordinasikan oleh Solo Peace Convoy (SPC), sebuah gerakan yang berada di bawah naungan Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), yang berhasil menghimpun partisipasi luas dari berbagai organisasi Islam di wilayah Solo Raya.
Sinergi Elemen Masyarakat dalam Solo Peace Convoy
Solo Peace Convoy tahun ini dirancang bukan sekadar sebagai parade biasa, melainkan sebagai wadah aspirasi bagi masyarakat yang peduli terhadap isu-isu internasional, khususnya krisis kemanusiaan di Timur Tengah. Kehadiran ribuan peserta dari berbagai latar belakang menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional dan dukungan moral warga Solo terhadap isu Palestina.
Rute Strategis dan Partisipasi Massa
Aksi dimulai sejak pagi hari dengan titik kumpul utama di depan Masjid Nurul Huda, Manahan. Dari lokasi tersebut, massa melakukan konvoi panjang melewati sejumlah ruas jalan strategis kota. Sepanjang perjalanan, peserta meneriakkan yel-yel dukungan dan membagikan selebaran edukasi kepada warga yang melintas di pinggir jalan. Konvoi ini berakhir di depan Lapangan Sriwedari, yang menjadi titik puncak kegiatan orasi dan doa bersama.
Koordinator aksi, Muhammad Alief Rifai, menyatakan bahwa partisipasi massa melampaui ekspektasi awal. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap isu kemanusiaan di Al-Quds tetap tinggi di tengah berbagai dinamika politik global. Kedisiplinan peserta selama di jalan juga mendapat apresiasi, karena aksi tetap berjalan kondusif tanpa mengganggu arus lalu lintas secara signifikan.
Pesan Kemanusiaan dan Edukasi Publik
Selain sebagai bentuk unjuk rasa, aksi “Al-Quds Memanggil” memiliki misi utama untuk memberikan edukasi kepada publik. Penyelenggara menekankan pentingnya memahami sejarah dan kondisi terkini di Masjid Al-Aqsa sebagai situs suci yang harus dijaga keberadaannya. Melalui poster-poster yang dibawa, massa menyampaikan informasi mengenai blokade yang masih terjadi serta pentingnya dukungan internasional untuk menghentikan kekerasan.
Fokus pada Al-Quds dan Penghormatan Pasukan Perdamaian
Salah satu poin penting dalam aksi kali ini adalah penghormatan khusus kepada para penjaga perdamaian. Dalam orasinya, Muhammad Alief Rifai menyampaikan duka mendalam atas gugurnya empat tentara anggota UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) saat menjalankan tugas di Lebanon. Peristiwa ini diangkat sebagai pengingat bahwa konflik yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada warga sipil, tetapi juga pada mereka yang berupaya menjaga stabilitas kawasan.
Isu mengenai perlindungan tempat suci di Al-Quds dan hak-hak dasar warga Palestina menjadi narasi utama yang terus digaungkan. Panitia berharap bahwa pesan dari Solo ini dapat terdengar hingga ke level nasional dan internasional, memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina berdasarkan amanat konstitusi.
Kegiatan ini ditutup dengan khidmat melalui doa bersama yang dipimpin oleh Ustaz Muzayyin. Dalam doa tersebut, para peserta memohon perlindungan bagi warga di Gaza dan Tepi Barat, serta berharap agar perdamaian abadi segera terwujud di tanah Palestina. Aksi berakhir dengan tertib saat massa mulai membubarkan diri menjelang waktu salat, meninggalkan pesan kuat tentang solidaritas tanpa batas dari Kota Solo.












