Beranda / Hikmah / Tarikh / Pasca-1967: Lahirnya Gelombang Kritik terhadap Turats Arab-Islam

Pasca-1967: Lahirnya Gelombang Kritik terhadap Turats Arab-Islam

Gelombang Kritik terhadap Turats Arab-Islam dan Dampaknya terhadap Identitas Peradaban Islam

nidaulquran.id-Pada era ini, menjadi penilaian di banyak kalangan yang disebut sebagai “intelektual” ataupun “akademisi” pada diskusi pemikiran islam seakan akan tidak lengkap tanpa menyampaikan kritik tajam terhadap turats (warisan intelektual), yang sering kali didasari oleh ketidaktahuan yang mendalam.

Turats kini hampir selalu tertuding dan dibebani berbagai tuduhan sebagai penyebab kemunduran dunia Arab dan Islam. Padahal, akar krisis dan persoalan yang sebenarnya justru mungkin terletak pada apa yang diklaim oleh “intelektual baru” itu sendiri, yakni penyimpangan dan distorsi terhadap turats, khususnya turats Islam.

Melalui turats itulah kita mengenal jati diri, kekuatan, dan mampu memandang masa depan, serta menginspirasi untuk tumbuh optimis dalam menjalani hidup. Hal ini berlaku bagi seluruh peradaban umat. Bahkan dapat dikatakan sebagai syarat utama bagi keberlangsungan dan perkembangan peradaban secara sehat.

Pengertian Turats dalam Peradaban Islam

Turats adalah warisan intelektual yang identik dengan agama, dan memiliki karakter sebagai rujukan inspirasi untuk “the creation of various models” sesuai dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter asli suatu peradaban itu sendiri. Turast bukan berupa bangunan monumen fisik saja, melainkan sebuah kekeayaan gagasan nonmaterial yang ditulis oleh para cendekiawan dan pemikir muslim kemudian ditinggalkan oleh generasi terdahulu kepada generasi berikutnya.

Banyak antropolog berpendapat bahwa turats merupakan akumulasi pengalaman manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama manusia, baik individu maupun kelompok. Dengan demikian, turats adalah hasil perjalanan sejarah manusia yang mencakup pengalaman masa lalu, kehidupan masa kini, dan orientasi masa depan. Ia menjadi sandaran spiritual umat karena dari sanalah mereka memperoleh akar dan keasliannya, lalu menambahkan unsur-unsur baru dalam perjalanan peradabannya.

Turats merupakan warisan intelektual dan budaya umat Islam yang lahir dari berbagai tradisi pemikiran sepanjang sejarah dan berfungsi sebagai penjaga identitas umat. Oleh karena itu, turats tidak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga perlu dikaji ulang, direinterpretasi, dan dikembangkan melalui ijtihad agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

Fungsi turats bukan untuk mengangkat umat pada masa lalu, melainkan untuk menjadi sumber inspirasi dalam membangun masa depan. Sebagai produk peradaban yang berlandaskan nilai-nilai dan tujuan utama Islam, turats memiliki karakter khas yang membedakannya dari berbagai sistem pemikiran modern yang kekhasannya tidak meletakkan wahyu dan syariat sebagai sumber utama pengetahuan dan pedoman hidup.

Peneliti Christine Temple dalam bukunya The Human Brain: An Introduction to the Study of Psychology and Behavior menyatakan bahwa memori memungkinkan manusia memahami dunia dengan menghubungkan pengalaman saat ini dengan pengetahuan masa lalu. Dalam konteks ini, fungsi memori yang dimaksud  juga berlaku bagi turats.

Turats menjaga identitas dan memungkinkan kreativitas serta inovasi terus berkembang. Oleh sebab itu, setiap upaya untuk menghapus atau meremehkan turats suatu peradaban atau kelompok pada hakikatnya merupakan upaya membatasi kreativitas dan pengetahuannya. Jika upaya tersebut berhasil, maka yang terjadi adalah penghapusan suatu model kemanusiaan dan peleburan seluruh manusia ke dalam satu bentuk yang seragam, sebagaimana kecenderungan saat ini yang mengarah pada penyatuan dunia dalam satu sistem dan satu narasi sejarah sebagaimana dikemukakan oleh Burhan Ghalioun( 1945).

Baca juga: Mengenang Zaman Keemasan Islam di Zaman Dinasti Abbasiyah

Mengapa Kritik terhadap Turats Islam Muncul Setelah 1967?

Sejak lama, terutama Pasca kekalahan Arab pada tahun 1967, banyak intelektual mulai mengkritik turats Islam, Secara historis, kritik terhadap turats setelah 1967 banyak dikemukakan oleh tokoh-tokoh seperti Mohammed Abed al-Jabri, Hassan Hanafi, dan Mohammed Arkoun. Mereka tidak selalu menolak turats, tetapi mengusulkan pembacaan ulang secara kritis agar warisan tersebut dapat berfungsi sebagai sumber pembaruan, bukan sekadar objek pelestarian.

Mereka menilai bahwa cara umat Islam memahami dan memperlakukan warisan intelektual masa lalu sering kali menghambat pembaruan pemikiran dan kemajuan masyarakat. Karena itu, muncul berbagai seruan untuk meninjau kembali turats secara kritis agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, banyak pihak melancarkan kritik keras terhadap turats Islam dengan menganggapnya sebagai penyebab utama krisis dunia Islam.

Pandangan ini merupakan tindakan yang terlalu berani dalam mengkritik tajam terhadap prinsip-prinsip analisis intelektual yang objektif, karena banyak dipengaruhi oleh penelitian-penelitian Barat yang mendukung neoliberalisme dan menyerukan pemutusan hubungan dengan seluruh warisan masa lalu yang dianggap sudah usang. Di sinilah letak persoalannya.

Selain itu, banyak “intelektual” yang salah memahami turats dengan menyamakannya dengan sikap romantis terhadap masa lalu (madhawiyyah), padahal keduanya tidak sama. Mereka tidak menyadari pentingnya turats. Setiap umat memiliki unsur rasional dalam warisannya, meskipun kadar rasionalitas itu berbeda-beda. Yang terpenting adalah tidak menafikan atau menghancurkan warisan suatu kelompok demi kepentingan kelompok lain.

Turats sebagai Penjaga Identitas dan Memori Kolektif Umat

Dalam karyanya The Idea of an Anthropology of Islam (1986), Talal Asad mengkritik pandangan sebagian sarjana Barat yang memandang tradisi sebagai sesuatu yang statis dan menjadi penghambat kemajuan. Menurutnya, tradisi Islam justru merupakan proses yang hidup dan terus berkembang melalui penafsiran, pembelajaran, dan transmisi antargenerasi yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Ia menyatakan,

“A tradition consists essentially of discourses that seek to instruct practitioners regarding the correct form and purpose of a given practice.” Suatu tradisi pada dasarnya terdiri dari serangkaian diskursus yang bertujuan membimbing para penganutnya mengenai bentuk dan tujuan yang benar dari suatu praktik.

Berdasarkan pandangan tersebut, turats Islam tidak boleh dipahami sebagai kumpulan warisan masa lalu yang membelenggu umat, melainkan sebagai tradisi intelektual yang terus hidup dan diperbarui melalui proses ijtihad, dialog, dan reinterpretasi. Dengan demikian, keberlangsungan turats menjadi syarat penting bagi terjaganya identitas, otoritas keilmuan, dan kesinambungan peradaban Islam. Hilangnya hubungan dengan turats akan menyebabkan terputusnya mata rantai pengetahuan yang selama berabad-abad membentuk karakter dan pandangan hidup umat Islam.

Pernyataan Talal Asad ini juga membantu menjawab dan “meng-counter” kelompok-kelompok etnosentris selama berabad-abad, yang menguasai ilmu pengetahuan dan wacana intelektual dengan memengaruhi para “intelektual” dari kelompok lain dengan cara menanamkan pola pikir yang sesuai dengan kepentingan mereka. Yang lebih berbahaya, mereka membuat kelompok lain itu sendiri yang akhirnya mengkritik dan meremehkan warisan budayanya sendiri, padahal warisan tersebut merupakan mekanisme utama dalam menjaga identitas mereka.

Malek Bennabi dan Konsep Kebangkitan Peradaban dari Dalam

Bentuk awal pemutusan hubungan dengan turats yang kemudian berkembang menjadi sikap meremehkan warisan muncul setelah negara-negara Arab memperoleh kemerdekaan. Pada masa itu, suara para politikus dan pemikir yang terpengaruh pemikiran modernis dan pencerahan Barat semakin menguat. Mereka sangat mengagumi model reformasi dan kebangkitan Barat. Di sinilah akar persoalan bermula.

Malek Bennabi (1905–1973) adalah seorang filsuf, pemikir Islam, dan teoritikus peradaban asal Aljazair berkata:

“لا يمكن لحضارة أن تُستورد، وإنما تُبنى من داخل المجتمع نفسه.”

“Suatu peradaban tidak dapat diimpor, melainkan harus dibangun dari dalam masyarakat itu sendiri.”

Perkataan Malek Bennabi ini menjelaskan bahwa kemunduran dunia Islam bukan semata-mata disebabkan oleh kolonialisme atau ketertinggalan teknologi, tetapi juga oleh hilangnya kemampuan umat untuk membangun peradabannya berdasarkan nilai-nilai dan sumber dayanya sendiri. Karena itu, ia menolak gagasan bahwa kemajuan dapat dicapai hanya dengan meniru model politik, ekonomi, atau sosial dari Barat.

Menurutnya, setiap peradaban lahir dari interaksi antara manusia, ide, dan lingkungan budaya yang khas. Oleh sebab itu, proyek kebangkitan Islam harus berangkat dari warisan intelektual dan budaya umat sendiri, termasuk turats Islam, yang kemudian direaktualisasikan untuk menjawab tantangan zaman.

Pentingnya Reinterpretasi Turats Tanpa Kehilangan Jati Diri

Pada dekade 1980-an, gagasan untuk mengkritik turats dan mengadopsi model-model asing mulai diajarkan kepada mahasiswa dan peneliti. Lama-kelamaan, pandangan tersebut tertanam dalam kesadaran generasi baru sebagai satu-satunya jalan menuju perubahan dan reformasi. Namun yang terjadi bukan sekadar kritik, melainkan peremehan terhadap turats. Tujuannya perlahan mengarah pada penghapusan referensi Islam dan mendorongnya menuju kepunahan. Ironisnya, sikap seperti ini justru dianggap sebagai tanda keunggulan intelektual.

Proses meremehkan turats Islam oleh sebagian intelektual kontemporer telah mendorong banyak orang menerima segala sesuatu yang datang dari luar budaya mereka, sekaligus menolak akar identitas mereka sendiri. Padahal tanpa akar tersebut, mereka tidak akan mampu memandang masa depan secara benar maupun menentukan identitas mereka dengan jelas. Inilah yang kini tampak dalam berbagai masyarakat kita.

Tidak diragukan lagi bahwa arus distorsi dan dekontruksi terhadap turats Islam yang disebarkan melalui media, penelitian, teori, dan berbagai produk intelektual lainnya telah menimbulkan sejumlah dampak serius, di antaranya:

  1. Mempromosikan pandangan bahwa seluruh pencapaian sejarah umat Islam tidak lebih dari produk kekerasan, tradisionalisme, metafisika atau pemahaman agama hanyalah dogma. Hingga lahirnya ditengah Masyarakat kita fenomena “Bosan Beragama”.
  2. Menyebarkan arus model kehidupan yang bersumber dari prinsip-prinsip neoliberalisme yang bertujuan menyeragamkan manusia demi memudahkan kontrol dan dominasi global.
  3. Menyebabkan krisis identitas yang semestinya dibanggakan, membuat masyarakat kehilangan arah dan kompas peradabannya, sehingga keterbelakangan dan absurditas menjadi ciri yang menonjol di berbagai bidang kehidupan.

Turats merupakan pilar utama bangsa dan unsur pokok identitas. Tanpa kehadirannya dalam proses pendidikan dan sosialisasi yang menumbuhkan rasa bangga terhadapnya, mustahil identitas suatu umat dapat dipertahankan. Yang dimaksud dengan turats di sini bukanlah seluruh peninggalan masa lalu tanpa pengecualian, melainkan akumulasi nilai-nilai positif dan fundamental yang telah terbukti membangun peradaban.

Dalam konteks umat Islam, turats yang sehat dan lurus adalah warisan yang menjadikan Islam sebagai peradaban ilmu pengetahuan dan peradaban kemanusiaan. Melalui warisan itulah umat dapat membangun masa depan yang kuat dan stabil, sebagaimana dilakukan oleh berbagai bangsa yang berhasil menjadikan warisan intelektual mereka sebagai sumber reformasi dan kemajuan.

Baca juga: Hijrah dan Perubahan Sosial

Kesimpulan

Pada kesimpulannya, kita bisa menilai bahwa umat yang kehilangan turatsnya ibarat seseorang yang kehilangan ingatan. Ia tidak lagi mengetahui jalan pulang ke rumahnya sendiri. Jika demikian, bagaimana mungkin ia dapat membangun masa depannya?

Karena itu, setiap orang saat ini dituntut untuk menjawab persoalan besar ini. Kita telah mengalami keterasingan dari warisan kita sendiri, bahkan memandangnya tak mulia akibat berbagai narasi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Pada saat yang sama, kita semakin larut dalam sistem global baru yang secara tidak langsung berupaya menyeragamkan dunia dan menghapus keberagaman, dengan memasukkan seluruh bangsa ke dalam satu sistem yang berada di bawah kendali ekonomi, politik, sosial, dan budaya tertentu.

Tag: