KH Hasyim Asy’ari, Progenitor Toleransi Nusantara

 KH Hasyim Asy’ari, Progenitor Toleransi Nusantara

Source: Peci Hitam

Nidaul Quran | KH Hasyim Asy’ari adalah tokoh besar pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, serta Nahdlatul Ulama (NU), yang merupakan ormas terbesar di Indonesia. KH Hasyim Asy’ari juga sering disebut sebagai pejuang dan pembaharu karena kontribusinya tidak hanya untuk Islam, tetapi juga untuk Indonesia. Seperti diketahui, beliau adalah pahlawan nasional yang menjadi tokoh penting dalam gerakan 10 November di Surabaya. Belum lama ini, nama KH Hasyim Asy’ari menjadi sorotan lantaran hilang dari Kamus Sejarah Jilid I yang disusun Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud). Lantas, bagaimana sebenarnya asal-usul KH Hasyim Asy’ari dan perjuangannya untuk Indonesia? 

KH Hasyim Asy’ari lahir di Gedang, Kabupaten Jombang pada 14 Februari 1871. Beliau adalah putra ketiga dari 11 bersaudara, anak dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah. KH Hasyim Asy’ari merupakan campuran dua darah atau trah, yaitu darah biru (ningrat, priyayi, keraton), dan darah putih (kalangan tokoh agama, kiai, santri). 

Namanya tidak dapat dipisahkan dari riwayat Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Demak. Dari silsilah keturunan ayahnya, nasab KH Hasyim Asy’ari bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Bagir. Sedangkan dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada pemimpin Kerajaan Majapahit, Raja Brawijaya VI, yang berputra Karebet atau Jaka Tingkir. KH Hasyim Asy’ari menikah tujuh kali dan semua istrinya adalah putri dari ulama. Salah satu putranya, KH Abdul Wahid Hasyim adalah salah satu perumus Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Menteri Agama. Sementara cucunya, Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur yang menjadi Presiden keempat Indonesia. 

Baca juga: Muslimah Nusantara Penerima Gelar Kehormatan dari Al Azhar Mesir

Di bidang pendidikan, KH Hasyim Asy’ari terkenal memiliki keinginan kuat untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. Sejak kecil hingga berusia 14 tahun, beliau mendapatkan pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, Kiai Usman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Setelah itu KH Hasyim Asy’ari menimba ilmu dari berbagai pesantren di Jawa dan melanjutkan pendidikannya ke Mekah pada 1892. 

Adapun guru KH Hasyim Asy’ari di antaranya, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmatullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, Sayyid Husein Al-Habsyi, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Shata, dan Sheikh Daghastani. Di dalam masa pendidikannya, KH Hasyim Asy’ari juga bersahabat dengan KH Ahmad Darwis yang berganti nama menjadi KH Ahmad Dahlan pendiri dan tokoh besar dalam ormas Muhammadiyah. 

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari untuk Islam dimulai ketika mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng pada 1899. Pesantren ini awalnya sangat kecil, hingga akhirnya berkembang dan menjadi pesantren terbesar di Jawa pada awal abad ke-20. Kemudian pada 31 Januari 1926, KH Hasyim Asy’ari dan beberapa ulama mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Berdirinya NU dilatarbelakangi oleh situasi dunia Islam kala itu yang sedang dilanda pertentangan paham. NU hadir dengan pemikiran lebih moderat sehingga membuat interaksi dan komunikasi dunia Islam menjadi lebih mudah. 

Perjuangan lain yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari yaitu mengubah stereotip dan pandangan warga masyarakat sekitar pondok pesantren-nya. Awal mula pendirian Pondok Pesantren ini tidak serta merta berjalan lancar, hal itu terhalang oleh adanya aktivitas masyarakat kala itu yang jauh dari nilai dan norma agama Islam. Dan seperti yang diketahui, lokasi pesantren tersebut hanya berjarak 5 mil dari pabrik gula Cukir yang didirikan oleh pemerintah kolonial pada 1835. 

Pesantren Tebuireng merupakan bentuk perlawanan atas modernisasi dan industrialisasi penjajah untuk memeras rakyat. Beliau juga dengan tegas menolak medali kehormatan dari Belanda dan mengeluarkan fatwa haram bagi rakyat Indonesia yang pergi haji dengan fasilitas dari Belanda. Karena sikap kerasnya, KH. Hasyim Asy’ari pernah akan dibunuh dan pesantrennya dibakar habis. Sementara pada masa pendudukan Jepang, beliau pernah ditangkap karena menolak melakukan penghormatan ke arah Tokyo setiap pagi. 

Baca juga: Menanamkan Tauhid adalah yang Pertama dan Utama

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari untuk Indonesia berlanjut saat Belanda membonceng NICA dengan maksud  kembali menjajah nusantara. KH Hasyim Asy’ari bersama para ulama mengeluarkan resolusi jihad yang berhasil memunculkan gerakan perlawanan terhadap Belanda dan sekutu. Salah satunya pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945. 

KH Hasyim Asy’ari wafat pada 21 Juli 1947, dan pada 1964 beliau ditetapkan sebagai pahlawan pergerakan nasional. Warisan yang diberikan oleh KH Hasyim Asy’ari ialah jiwa semangat nasionalisme dan sikap toleransinya yang tinggi. Warisan ini dapat kita lihat dari sikap putra beliau, KH Abdul Wahid Hasyim saat menjabat Menteri Agama. Ia memasukan kurikulum pembelajaran mata pelajaran modern di pesantren, misal Matematika, Bahasa Inggris, IPA, IPS, dll.  Dan beliau memiliki sikap yang terbuka terhadap perubahan serta menjunjung tinggi warisan budaya peninggalan nenek moyang serta leluhur. 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Semoga KH Hasyim Asy’ari bisa menjadi sosok pahlawan nasional yang menginspirasi kita untuk dapat hidup berbangsa dan bernegara dengan rukun serta memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap keragaman kebudayaan masyarakat Indonesia. Aamin, Wallahu’alam bisshawab.[]

Redaktur: Luthfi Nur Azizah

Jatmiko Suryo Gumilang, M.Sos

Jatmiko Suryo Gumilang, M.Sos

Peminat Kajian Ilmu Sosial

Klik
Konsultasi Syari'ah
Assalamualaikum, ingin konsultasi syariah di sini? Klik bawah ini