nidaulquran.id-Pendidikan hari ini sedang mengalami krisis keteladanan, bukan krisis pengetahuan. Di tengah gencarnya pendidikan karakter, perundungan, penghinaan terhadap guru, dan aksi demi viral terus berulang. Kita sibuk menghukum pelaku, tetapi lupa bertanya mengapa kekerasan terus lahir. Perebutan terbesar hari ini bukan lagi informasi, melainkan karakter anak. Ketika ruang digital lebih mengangkat sensasi daripada integritas, siapa yang sesungguhnya sedang mendidik generasi kita?
Ironisnya, semua itu terjadi ketika pendidikan karakter menjadi agenda utama pendidikan nasional. Berbagai slogan tentang integritas, gotong royong, empati, dan tanggung jawab terpampang di ruang kelas. Namun, nilai-nilai itu sering berhenti sebagai hafalan, belum menjadi kebiasaan.
Pendidikan Karakter Sekadar Slogan, Belum Jadi Kebiasaan
Data memperlihatkan bahwa persoalan di atas tidak bisa dianggap sepele. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap perundungan di sekolah masih menjadi masalah serius, bahkan berkembang ke ruang digital melalui cyberbullying. KPAI menekankan tentang pembentukan karakter tidak mungkin dibebankan kepada sekolah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi keluarga, masyarakat, media, dan satuan pendidikan.
Temuan internasional juga memberikan sinyal yang sama. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan sekitar 30 persen siswa laki-laki dan 25 persen siswa perempuan di Indonesia mengaku mengalami tindakan perundungan sedikitnya beberapa kali dalam sebulan. Jika pendidikan karakter terus diperkuat sementara perundungan tetap tinggi, mungkin yang gagal bukan kurikulumnya, melainkan ekosistem sosial tempat karakter itu dibentuk.
Media sosial telah menggeser pusat rujukan generasi muda. Jika dahulu guru, orang tua, dan buku menjadi pembentuk nilai, kini algoritma menentukan siapa yang paling sering hadir di layar mereka. Yang paling sering muncul justru lebih dipercaya daripada yang paling berpengalaman.
Persoalannya bukan sekadar anak lebih sering bermain media sosial daripada membaca buku, melainkan perebutan perhatian. Dalam ekonomi digital, algoritma dirancang untuk membuat pengguna bertahan selama mungkin. Akibatnya, konten sensasional lebih mudah menarik atensi anak daripada keteladanan. Pendidikan karakter pun harus berhadapan dengan sistem yang lebih menghargai daya tarik daripada makna.
Keteladanan adalah Jantung Pendidikan
Video yang mempermalukan guru dapat ditonton jutaan kali dalam hitungan jam, sementara kisah guru yang mengubah masa depan murid mudah tenggelam. Di era digital, siapa yang menguasai ruang perhatian, dialah yang perlahan membentuk cara berpikir dan karakter anak.
Akibatnya, influencer, selebritas, atau kreator konten lebih mudah membentuk cara berpikir, berbicara, bahkan berperilaku anak dibandingkan guru. Yang berubah bukan semata teknologi, melainkan otoritas moral. Ukuran keteladanan perlahan bergeser dari integritas menuju popularitas. Ketika platform digital lebih menentukan siapa yang didengar daripada kebijaksanaan, sekolah kian sulit menjadi ruang utama pembentukan karakter.
Di sinilah keteladanan menjadi jantung pendidikan. Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan dimulai dari keteladanan. Di tengah derasnya arus informasi digital, pesan itu justru semakin relevan. Keteladanan adalah prinsip dasar pendidikan, bukan sekadar slogan di dinding sekolah. Guru mendidik melalui ucapan dan teladan seperti menepati janji, menghargai perbedaan, mengakui kesalahan, dan berlaku adil kepada setiap peserta didik.
Sayangnya, bangsa ini sedang mengalami krisis figur. Kita tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kekurangan orang yang pantas dijadikan panutan. Anak-anak tumbuh di tengah banjir informasi, tetapi justru kesulitan menemukan contoh nyata tentang integritas, empati, dan tanggung jawab. Ketika keteladanan menghilang, ruang kosong itu segera diisi oleh ekosistem media sosial yang lebih menghargai sensasi daripada kebijaksanaan.
Peran Guru di Era AI: Dari Sumber Pengetahuan Menuju Teladan
Pergeseran otoritas itu semakin nyata ketika AI mulai menggantikan guru sebagai sumber pengetahuan. Namun, AI dapat menjawab hampir semua pertanyaan, tetapi belum mampu menjawab pertanyaan yang paling penting: bagaimana menjadi manusia yang baik.
Di era AI, peran guru justru semakin strategis. Nilai terbesar guru bukan lagi sebagai sumber pengetahuan, melainkan sebagai teladan. Karena itu, krisis karakter tidak cukup diatasi dengan kurikulum atau slogan baru. Persoalan utamanya adalah keteladanan. Anak-anak lebih banyak belajar dari siapa yang mereka lihat, kagumi, dan tiru. Selama ruang publik lebih menghargai sensasi daripada integritas, sekolah akan terus berjuang melawan arus.
Kita boleh terus memperbaiki kurikulum, membangun sekolah yang lebih modern, atau menghadirkan teknologi yang semakin canggih. Namun semua itu akan kehilangan makna apabila anak-anak tumbuh tanpa keteladanan. Sebab pada akhirnya, yang membentuk masa depan sebuah bangsa bukan siapa yang paling banyak berbicara tentang karakter, melainkan siapa yang lebih dahulu menjalaninya.













