Beranda / Warta / Ma’had ‘Aly Ibnu Abbas Klaten Tegaskan Al-Qur’an sebagai Landasan Membangun Peradaban

Ma’had ‘Aly Ibnu Abbas Klaten Tegaskan Al-Qur’an sebagai Landasan Membangun Peradaban

Seminar Generasi Qur’ani Mahad Aly Ibnu Abbas

nidaulquran.id– Ma’had ‘Aly Ibnu Abbas Klaten menyelenggarakan Seminar Generasi Qur’ani bertema “Peran Al-Qur’an dalam Membimbing Generasi Muda Membangun Peradaban” pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Acara ini digelar di Aula Lantai 3 Kampus 1 PPTQ Ibnu Abbas Klaten dan diikuti oleh mahasantri serta peserta umum yang memiliki perhatian terhadap pembinaan generasi muda berbasis Al-Qur’an.

Dalam sambutannya, Ustadz Budiman Mustofa, selaku Kepala Mahad Aly Ibnu Abbas Klaten, menekankan bahwa persoalan generasi muda tidak cukup diselesaikan hanya dengan pendekatan kategorisasi usia seperti label “Gen Z”. Menurutnya, hal yang lebih mendasar adalah bagaimana membentuk generasi yang kesadaran, nilai, dan orientasi hidupnya benar-benar bersumber dari Al-Qur’an.

“Kita tidak cukup hanya membicarakan generasi berdasarkan kategorisasi usia,” ujar Ustadz Budiman di hadapan peserta.

Ia melanjutkan bahwa interaksi umat dengan Al-Qur’an semestinya tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal semata, melainkan harus meresap ke dalam cara berpikir, sikap, emosi, hingga menjadi penentu arah hidup seseorang. Generasi Qur’ani, menurutnya, bukan sekadar mereka yang fasih membaca dan hafal Al-Qur’an, melainkan generasi yang mampu memahami pesan di dalamnya, menghayatinya, dan membuktikannya lewat perbuatan nyata.

Merujuk pada pemikiran Prof. Dr. Hamka, Ustadz Budiman juga menjelaskan bahwa pembangunan umat memerlukan sinergi lintas generasi: generasi tua menyumbang pengalaman dan kematangan dalam pengambilan keputusan, sementara generasi muda membawa energi, keberanian, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Jika kedua kekuatan itu bertemu dalam satu nilai dan tujuan yang sama, hasilnya dapat menjadi modal besar bagi pembangunan peradaban.

Generasi Qur’ani, Generasi yang Selalu Menyala

Memasuki materi inti, Ustadz Syihabuddin Abdul Mu’iz menyoroti fenomena pengelompokan generasi masa kini, termasuk istilah Gen Z, yang menurutnya sering kali sulit “dinyalakan” semangat dan kesadarannya. Ia menegaskan bahwa Generasi Qur’ani berbeda: generasi ini disebutnya sebagai jailul farid, generasi istimewa yang jiwanya senantiasa menyala karena dipandu langsung oleh petunjuk Allah melalui Al-Qur’an.

Ustadz Syihabuddin menegaskan bahwa kunci utama perubahan besar di masa depan terletak pada generasi muda atau asy-syabab. Karena itu, ia mendorong agar anak muda terus dimotivasi untuk memiliki semangat perubahan yang membara, dengan syarat perubahan tersebut dimulai lebih dahulu dari diri masing-masing sebelum diarahkan keluar.

Kekuatan Doa dan Ketulusan Orang Tua

Salah satu bagian yang menyentuh dari kajian ini adalah penekanan pada kekuatan doa orang tua sebagai bentuk pendidikan tertinggi bagi anak. Ustadz Syihabuddin membagikan kisah seorang ibu yang secara konsisten membaca Al-Fatihah seratus kali setiap hari, tanpa pernah menampakkan wajah kecewa, sebagai bentuk doa untuk putrinya yang sempat menyimpang saat berada di Eropa.

Doa yang terus dipanjatkan itu, menurut kisah yang disampaikan, akhirnya berbuah hidayah — sang anak berhijrah dan menjadi muslimah yang taat.

Kehalalan Rezeki dan Kesabaran Mendidik Anak

Mengutip nasihat ulama kharismatik Mbah Kiai Maimun Zubair, Ustadz Syihabuddin berpesan agar orang tua tidak mendidik anak dengan cara intimidasi atau sikap bermusuhan. Selama nafkah yang dicari orang tua diperoleh dengan cara yang baik dan makanan yang diberikan kepada anak berasal dari sumber yang halal, maka tugas orang tua selanjutnya adalah bersabar sembari terus mendoakan buah hatinya.

Membaca Al-Qur’an sebagai Cara “Meremot” Dunia

Di bagian penutup kajian, Ustadz Syihabuddin menyampaikan bahwa setiap kali seseorang membaca Al-Qur’an, cahaya bacaannya pada hakikatnya langsung naik ke langit. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya meluruskan niat sebelum berinteraksi dengan Al-Qur’an — misalnya dengan berniat membumikan Al-Qur’an di lingkungan sekitar maupun di level negara — sebab niat yang tertanam saat membaca Al-Qur’an akan turut membentuk realitas peradaban puluhan tahun ke depan.

Penutup

Melalui Seminar Generasi Qur’ani ini, Ma’had ‘Aly Ibnu Abbas Klaten berharap kesadaran generasi muda terus tumbuh bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan atau hafalan, melainkan pedoman hidup yang harus dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam keseharian.

Tag: