Beranda / Hikmah / Tarikh / Jejak Sejarah Situs Bongal Tapanuli Tengah: Dari Koin Umayyah-Abbasiyah hingga Hubungan Diplomatik Sriwijaya

Jejak Sejarah Situs Bongal Tapanuli Tengah: Dari Koin Umayyah-Abbasiyah hingga Hubungan Diplomatik Sriwijaya

Dinar Abbasiyah Koleksi Museum Abad Satu Hijriyah

nidaulquran.id-Situs Bongal yang terletak di Desa Jago-Jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, kini menjadi pusat perhatian para sejarawan dan arkeolog. Ekskavasi di kawasan yang berada di tepi Sungai Lumut dengan muara Teluk Sibolga ini berhasil menyingkap berbagai bukti konkret hubungan perdagangan maritim internasional antara Nusantara dan dunia Islam pada abad ke-7 hingga ke-9 Masehi.

Melansir dari republika.co.id, temuan-temuan artefaktual di situs ini berpotensi menggeser narasi arus utama (mainstream) yang selama ini menyebutkan bahwa Islam baru masuk dan berkembang di Kepulauan Nusantara pada abad ke-12 atau ke-13 Masehi.

Kronologi Penemuan dan Asal-usul Desa Jago-Jago

Nama Desa Jago-Jago berasal dari bahasa pesisir yang berarti ‘jaga-jaga’ atau tempat untuk berjaga, merujuk pada fungsinya sebagai pos jaga pada masa kolonial. Sebelum dibukanya jalan raya, masyarakat menggunakan Sungai Lumut sebagai jalur lintas transportasi utama, sebagaimana terekam dalam peta kolonial tahun 1943.

Setelah kawasan pemukiman dibuka pada tahun 1980, warga mulai menggarap kaki Bukit Bongal untuk perkebunan dan persawahan. Pada dekade 1980-an pula, kabar mengenai kandungan emas di Bukit Bongal mulai diketahui warga. Namun, pada tahun 1990-an, aktivitas pertanian berkurang karena sebagian warga menjual tanah mereka dan beralih profesi menjadi nelayan.

Berdasarkan data tahun 2001, Desa Jago-jago masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Lumut (sebelum dimekarkan menjadi Kecamatan Badiri) yang memiliki luas 207,81 kilometer persegi dengan populasi 30.326 jiwa.

Penemuan Arca Ganesha hingga Koin Kuno

Penelitian arkeologis di kawasan ini dimulai pada tahun 2001 ketika tim Balai Arkeologi Sumatera Utara yang dipimpin oleh Ery Soedewo melakukan survei. Berdasarkan laporan warga, tim berhasil mengidentifikasi sebuah arca Ganesha yang tidak utuh (kehilangan bagian kepala dan sandaran) di lereng Bukit Bongal.

Setelah sempat meredup, aktivitas di kaki bukit kembali dibuka pada tahun 2009 untuk perkebunan jeruk dan palawija. Puncaknya terjadi pada tahun 2019, ketika aktivitas penambangan emas oleh warga secara tidak sengaja menyingkap kepingan koin kuno dan artefak lainnya. Pada awal tahun 2020, penelitian lanjutan mengonfirmasi bahwa koin-koin tersebut merupakan mata uang dirham dari era Kekhalifahan Bani Umayyah dan Abbasiyah.

Jejak Hubungan Diplomatik dan Perdagangan Global

Temuan koin kuno di Situs Bongal memberikan bukti fisik yang selama ini dinilai minim oleh para sejarawan Barat. Sebelumnya, sarjana seperti Pijnapel, Snouck Hurgronje, hingga J.P. Moquette merumuskan teori bahwa Islam di Nusantara berasal dari Gujarat dan Malabar (India) berdasarkan penanggalan batu nisan di Pasai dan Gresik dari abad ke-15 Masehi.

Namun, dalam artikel ilmiah bertajuk ‘Abbasid Coins in North Sumatra: Evidence of Interactions With Islamic Civilization in The 8th-9th Century AD’ yang ditulis oleh Ery Soedewo dan Nur Ahmad di jurnal Amerta (Volume 40, Nomor 1, 2022), dijelaskan bahwa koin perak (dirham) Abbasiyah dari abad ke-8 hingga ke-9 Masehi di Situs Bongal membuktikan adanya interaksi langsung dengan Asia Barat (Timur Tengah) jauh sebelum abad ke-12 Masehi.

Korespondensi Sriwijaya dengan Khalifah Timur Tengah

Hubungan langsung ini juga diperkuat oleh dokumen-dokumen klasik yang pernah diulas oleh sejarawan Prof. Azyumardi Azra (almarhum). Dokumen tertulis seperti Kitab al-Hayawan karya al-Jahizh (783–869 M) dan al-‘Iqd al-Farid karya Ibn ‘Abd al-Rabbih (860–940 M) mencatat adanya surat-menyurat diplomatik antara ‘Maharaja Hind’ dengan Khalifah Mu’awiyah bin Abu Sufyan serta Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz (717–720 M).

Pada masa tersebut, satu-satunya penguasa di Nusantara yang menyandang gelar Maharaja adalah penguasa Kerajaan Sriwijaya. Catatan pendukung lainnya meliputi laporan petualang Buzurg ibn Syahriar al-Ramhurmuzi dalam ‘Ajaib al-Hind’ (sekitar 1000 M) mengenai komunitas Muslim di wilayah Zabaj (Sriwijaya), serta catatan biksu Yijing (I-Tsing) pada abad ke-7 Masehi tentang kapal-kapal pedagang Ta-shi (Arab/Persia) yang melayari rute Guangzhou hingga Sumatra. Penemuan artefak fisik di Situs Bongal kini menjadi bukti lapangan yang memperjelas peta historiografi hubungan awal Nusantara dengan pusat peradaban Islam di Timur Tengah sejak masa awal Hijriyah.