nidaulquran.id-Kota Bekasi kini memiliki museum bertema genosida bertajuk The Unbreakable Story of Palestine. Lembaga filantropi Qudwah Indonesia meresmikan Museum Genosida ini di Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, pada Rabu (14/10/2026).
Museum ini dihadirkan sebagai sarana edukasi sejarah visual untuk mengenalkan perjuangan rakyat Palestina kepada masyarakat luas. Selain itu, museum diharapkan menjadi ruang refleksi bagi publik untuk memahami tragedi kemanusiaan dan pentingnya perlindungan hak asasi manusia (HAM).
Milad ke-9 Qudwah Indonesia
Peresmian museum menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-9 Qudwah Indonesia. Dalam rangkaian yang sama, lembaga ini menggelar gelar wicara interaktif melalui podcast. Pembahasannya mencakup perjuangan Palestina, dinamika dunia filantropi, dan pentingnya membangun pemahaman generasi muda terhadap isu kemanusiaan.
Lukman Hakim, pimpinan Qudwah Indonesia, menjelaskan bahwa museum ini bertujuan memperluas pemahaman masyarakat tentang genosida, termasuk dampaknya terhadap korban, keluarga, dan komunitas yang terdampak.
Menurutnya, museum ini tidak hanya menjadi tempat mengenang peristiwa sejarah, tetapi juga menyampaikan kisah kemanusiaan, khususnya yang berkaitan dengan Palestina.
“Tentu Museum ini dapat menjadi edukasi ke masyarakat, selain menjadi ingatan dari awal sampai akhir, menceritakan kisah dari bumi Palestina,” kata Lukman.
Melalui penyajian informasi dan dokumentasi sejarah, pengunjung diharapkan memahami faktor-faktor yang dapat memicu kekerasan massal. Faktor tersebut antara lain diskriminasi, penyebaran kebencian, dan tindakan yang merendahkan martabat kelompok tertentu.
Selain mengenang para korban, museum ini diharapkan menjadi ruang belajar bagi generasi muda. Dengan begitu, mereka dapat memahami sejarah sekaligus mengenali tanda-tanda awal kekerasan berbasis identitas.
Pemahaman terhadap sejarah dinilai penting untuk membangun kesadaran akan bahaya diskriminasi dan kekerasan. Kesadaran itu sekaligus mendorong upaya pencegahan agar tragedi serupa tidak terulang.
Museum ini juga diharapkan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap berbagai krisis kemanusiaan di dunia. Nilai-nilai yang diangkat meliputi penghormatan terhadap HAM, perlindungan warga sipil, dan penolakan terhadap segala bentuk diskriminasi serta kekerasan terhadap kelompok masyarakat. Dalam konteks ini, tragedi kemanusiaan di berbagai wilayah, termasuk Palestina, menjadi bagian dari pembelajaran tentang penderitaan warga sipil dan pentingnya perlindungan kemanusiaan.
Edukasi Palestina harus berkelanjutan
Lukman menegaskan bahwa edukasi tentang Palestina perlu dilakukan secara berkelanjutan. Upaya tersebut, katanya, membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan, agar pemahaman tentang Palestina menjangkau generasi muda.
“Bagaimana membangun kekuatan pemahaman, bagaimana pentingnya mendukung. Bahkan kami secara bersama dengan stakeholder secara masif memasukkan kurikulum kepalestinaan ke dalam ajaran (sekolah),” ujarnya dalam Podcast Titik Tengah, Rabu (14/10/2026).
Lukman juga mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan Qudwah Indonesia. Lembaga ini bermula dari kegiatan di tingkat lokal, lalu berkembang hingga menjalin kerja sama dengan pihak luar negeri.
“Alhamdulillah, ternyata dari kiprah yang hanya di Kota Bekasi, dari supporting konser saja, menjadi lembaga yang kiprahnya diakui di Kota Bekasi, Jawa Barat, bahkan sudah menjalin kerja sama dengan mancanegara,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, mantan jurnalis internasional Anadolu, Pizarro Gozali, turut menyoroti perubahan lanskap informasi mengenai Palestina.
Terbuka untuk umum setiap hari
Qudwah Indonesia berharap Museum Genosida dapat dikembangkan sebagai sarana edukasi publik yang mendorong masyarakat mempelajari sejarah secara kritis, menumbuhkan empati, dan memperkuat komitmen terhadap perdamaian. Peresmian di Bekasi Selatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi tentang genosida dan pelajaran kemanusiaan yang bisa dipetik darinya.
Bagi masyarakat yang ingin berkunjung, Lukman memastikan museum terbuka untuk umum. Namun, pengelola akan mengatur kunjungan karena keterbatasan kapasitas tempat.
“Masyarakat umum bisa datang, dibuka setiap hari, tapi tentu akan kita atur mengingat keterbatasan tempat,” pungkasnya.













