nidaulquran.id – Dua lembaga filantropi Indonesia, Rumah Zakat dan Dompet Dhuafa, mengirim delegasi ke Global Sumud Congress yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Oktober 2026. Forum internasional ini mempertemukan para aktivis dari puluhan negara untuk memperkuat solidaritas, membangun kerja sama lintas negara, dan merumuskan langkah bersama dalam membela rakyat Palestina.
Rumah Zakat diwakili oleh Andi Angga Prasadewa dan Hakam Ahmad Firas. Kehadiran mereka disebut sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat solidaritas kemanusiaan dan memperluas jejaring internasional, sekaligus ikut membahas strategi dan rencana aksi bersama untuk Palestina.
Sementara itu, dari Dompet Dhuafa ada Herman Budianto hadir sebagai salah satu delegasi yang mewakili lembaga tersebut.
Koalisi Solidaritas Internasional Berkumpul
Menurut laporan Republika.co.id, kongres berlangsung pada 9–13 Oktober 2026 dan dihadiri ratusan aktivis dari lebih dari 40 negara. Adapun Dompet Dhuafa menyebut kongres berlangsung pada 9–14 Oktober 2026, dengan sekitar 300 aktivis Global Sumud Flotilla dari 50 negara. Mereka datang dari kawasan Amerika, Eropa, Asia, Afrika, Australia, dan Arab.
Forum ini menghimpun beragam koalisi dan gerakan solidaritas dunia, di antaranya Sumud Maghreb, Sumud Nusantara, People’s Flotilla, Global Movement to Gaza (GMTG), dan Sumud Turkic. Para peserta berbeda latar belakang budaya, agama, dan bahasa, tetapi bersatu dalam satu visi: mendukung kebebasan Palestina.
Agenda Kongres: Dari Visi hingga Rencana Aksi 2027
Rangkaian kongres dimulai dari aksi solidaritas dan pembukaan, dilanjutkan pembahasan visi, misi, nilai, struktur, dan program Global Sumud. Hasil pembahasan itu menjadi landasan penyusunan rencana strategis gerakan, termasuk perencanaan aksi bersama untuk Palestina pada 2027.
Dalam pertemuan ini, peserta juga mematangkan persiapan Global Sumud Flotilla (GSF) 3.0 untuk memperkuat gerakan pembelaan terhadap Palestina.
Kongres diharapkan menjadi ruang konsolidasi sehingga dukungan kepada Palestina tidak berhenti pada kecaman dan pernyataan sikap, tetapi diwujudkan lewat koordinasi, kolaborasi, dan langkah nyata yang berkelanjutan.
Gaza Terus Hancur, Konflik Meluas ke Tepi Barat
Konsolidasi lintas negara dan lembaga dinilai krusial. Gaza terus mengalami kehancuran, sementara eskalasi konflik meluas ke Tepi Barat. Misi pelayaran internasional Global Sumud Flotilla disebut menjadi bagian penting dari perlawanan nonmiliter melalui jalur kemanusiaan dan tekanan internasional.
Herman Budianto menggambarkan kondisi terkini di Palestina.
“Palestina masih terus mengalami penjajahan, genosida, dan blokade. Banyak rakyat Palestina, khususnya di Gaza dan beberapa wilayah Tepi Barat, kesulitan mendapatkan bantuan untuk kebutuhan pokok. Penangkapan, pembunuhan, dan penyiksaan masih terus terjadi. Perampasan tanah, kebun, dan rumah juga terus terjadi. Kita tidak akan pernah berhenti berjuang untuk mereka,” ujarnya.
Komitmen Rumah Zakat
Rumah Zakat menyatakan partisipasinya sejalan dengan komitmen untuk terus berperan dalam kerja kemanusiaan bagi Palestina. Lembaga ini menilai solidaritas lintas negara tetap penting untuk menjaga keberlanjutan dukungan.
Sejak eskalasi konflik dan dimulainya genosida pada Oktober 2023 hingga Oktober 2026, Rumah Zakat mengklaim telah menyalurkan berbagai bentuk bantuan kemanusiaan yang diamanahkan masyarakat Indonesia kepada 1,4 juta penerima manfaat di Palestina.
Rekam Jejak Dompet Dhuafa di Global Sumud Flotilla
Dompet Dhuafa menyatakan komitmennya mendukung Palestina merdeka lewat program kesehatan, dapur umum, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi. Lembaga ini juga terlibat dalam gerakan Global Sumud Flotilla sejak 2025.
- GSF 1.0 (2025): Dompet Dhuafa memberangkatkan tim kemanusiaan ke Tunisia pada 2 September 2025 di bawah pimpinan Ketua Pengurus Ahmad Juwaini. Tim ini mengawal misi bantuan menuju Gaza. Dua relawan lainnya bergabung dalam armada laut menuju Gaza, sedangkan anggota tim yang lain melanjutkan perjalanan ke Yordania untuk menjangkau pengungsi Palestina dan menyalurkan bantuan.
- GSF 2.0 (2026): Pada 28 April 2026, Dompet Dhuafa memberangkatkan Herman Budianto dan Ronggo Wirasanu ke Turki bersama Global Peace Convoy Indonesia. Keduanya bergabung dalam kontingen laut. Pada misi konvoi darat, delegasi Imam Alfaruq menghadapi hambatan di Libya. Ia sempat ditahan hingga tujuh hari sebelum dipulangkan ke Indonesia pada akhir Mei 2026.
Dompet Dhuafa berharap gerakan ini menjadi salah satu ikhtiar masyarakat dunia untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Menurut lembaga tersebut, Palestina mengalami penjajahan, genosida, dan blokade sejak 1948.













