Beranda / Quranic / Tadabbur Quran / Benarkah Kisah Terbaik Al-Quran Adalah Kisah Nabi Yusuf? Begini Kata Ibn ‘Āsyūr!

Benarkah Kisah Terbaik Al-Quran Adalah Kisah Nabi Yusuf? Begini Kata Ibn ‘Āsyūr!

nidaulquran.id-Di sebuah surat di dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik.” Sebuah narasi menarik seolah bertujuan untuk membuat para pembaca tertawan untuk melanjutkan bacaannya, seolah Allah berfirman, “stt… ada kisah keren nih, kamu mau tahu gak? Swipe to next the part!”

Ungkapan ini disebutkan di awal surat Yūsuf, tepatnya di ayat ketiga. Itu mengapa ada banyak orang menganggap bahwa kisah terbaik yang Allah maksud di ayat ini adalah kisah Nabi Yusuf as. Sebagian orang bahkan mencoba mencari alasan dibaliknya, katanya, “kisah Nabi Yusuf as disebut sebagai kisah terbaik, karena ia dimuali dengan mimpi dan diakhiri dengan terealisasinya setiap mimpi.”

Benarkah demikian? Bukankah ada banyak mimpi yang diceritakan di kisah Nabi Yusuf as ini? Jika terealisasinya mimpi Nabi Yusuf as dinilai sebuah kebaikan, bagaimana dengan salah satu dari kedua teman penjaranya yang bermimpi membawa roti di atas kepala dan dipatuki burung? Bukankah di akhir cerita ia mati disalib? Apakah ini juga sebuah kebaikan?

Nyatanya, Ibn ‘Āsyūr memiliki pandangan yang berbeda. Baginya, kisah terbaik yang Allah maksud dalam kalimat ini, bukan hanya kisah Nabi Yusuf as, melainkan seluruh kisah-kisah yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad saw. Mengapa demikian? Begini penjelasannya, sebagaimana yang beliau paparkan di tafsir At-Taḥrīr wa At-Tanwīr (12/203-204).

Pertama, perhatikan ungkapan “bimā auhainā ilaika,” di ayat ini. Huruf ‘ba’ di kalimat itu adalah bā sababiyyah, berfungsi untuk menjelaskan sebab di balik kalimat sebelumnya, sehingga alasan di balik predikat ‘kisah terbaik’ ialah karena bersumber dari wahyu, datang dari Ia yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. Tentu saja ini bukan hanya kisah Nabi Yusuf, melainkan setiap kisah yang Allah ceritakan di dalam Al-Qur’an.

Kedua, pada umumnya, setiap cerita memiliki sisi hiburannya sehingga para pendengar merasa enjoy mengikuti setiap fragmen demi fragmennya. Kisah-kisah Al-Qur’an tidak berhenti di situ, ia juga memiliki sisi-sisi keunggulan lainnya, seperti: keindahan susunannya, kemukjizatan gaya bahasanya, serta ibrah dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Bukan sebatas hiburan, tapi juga sarat makna dan pelajaran.

Jika kita coba telusuri sebab turun ayat ini, maka hasilnya akan semakin menegaskan apa yang disebutkan oleh Ibn ‘Āsyūr. Diriwayatkan pada suatu masa sebagian sahabat merasa dalam kondisi ‘jenuh,’ lalu berkata pada Rasulullah, “wahai Rasulullah, kiranya berkenankah engkau menceritakan kisah-kisah kepada kami.” Lalu turunlah surat Yusuf 1-3 sebagi jawaban atas permintaan mereka. Tafsir Aṭ-Ṭabari (13/7-8)

Para sahabat meminta diceritakan kisah-kisah untuk menghilangkan kejenuhan mereka, Allah tunjukan pada aḥsana al-qaṣaṣ dan tentu saja yang dimaksud adalah setiap kisah yang ada di dalam Al-Qur’an, bukan hanya kisah Nabi Yusuf as.

Begitu pula jika kita coba menilik sikap para sahabat, salah satu contohnya kisah yang terjadi di antara Ibnu Mas’ud dan dua orang tabi’in bernama ‘Alqamah dan Al-Aswad. Kisahnya disadur oleh Ibn ‘Abdilbar di Jāmi’u Bayān Al-‘Ilmi wa Faḍlihi (1/284).

Diceritakan bahwa Al-Aswad bin Yazid dan ‘Alqamah menemukan lembaran berisi kisah-kisah menkajubkan, dibawalah lembaran itu kepada Ibnu Mas’ud. Keduanya menyebutkan bahwa di dalam lembaran itu terdapat kisah-kisah yang menakjubkan. Ibnu Mas’ud menghapus isi lembaran tersebut sambil membacakan ayat ini. 

Beliau melakukan hal tersebut seolah berpesan, “Jika kamu menginginkan kisah-kisah yang menakjubkan, maka sungguh tidak ada kisah yang lebih baik dari kisah yang Allah wahyukan di dalam Al-Qur’an.” Dan sudah barang tentu kisah yang ada di dalam Al-Qur’an bukan semata kisah Nabi Yusuf as, hanya karena frasa aḥsana al-qaṣaṣ terdapat di surat Yusuf.

Kisah terbaik adalah setiap kisah yang bersumber dari wahyu, dari Ia yang pengetahuannya tak tersekat oleh tempat, tak dibatasi ruang dan waktu, yang paling memahami apa yang terbaik untuk kemaslahatan hamba-Nya. 

Kisah terbaik adalah kisah-kisah yang dituturkan dengan diksi yang tepat dan deskripsi yang indah. Yang bukan hanya sebatas cerita, namun juga menjadi nutrisi bagi akal, ruh, serta jiwa.

Wallahua’lambiṣṣawāb

Tag: