nidaulquran.id-Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Ibnu Abbas Klaten menghadirkan sosok istimewa dalam kegiatan Sharing Inspiratif bersama santri dan santriwati pada Sabtu (22/08/2026): dr. Supandi Hasan, Sp.PD-KEMD — seorang dokter spesialis sekaligus hafizh Al-Qur’an yang membawa pesan penting bagi generasi penghafal Al-Qur’an masa kini.
Kegiatan berlangsung dalam dua sesi terpisah dengan tema yang disesuaikan karakteristik masing-masing kampus. Di Kampus Putri, tema yang diusung adalah “Mengenal Kebesaran Allah dalam Tubuh Kita, Menumbuhkan Syukur dalam Hati”. Sementara di Kampus Putra, sesi mengangkat tema “Menjadi Penghafal Al-Qur’an tanpa Membatasi Cita-cita Akademik dan Profesional.”
Kembali ke Akar: Jejak Awal di Ibnu Abbas Klaten
Sebelum masuk ke materi inti, dr. Supandi Hasan mengajak para santri menyusuri perjalanan hidupnya sendiri — sebuah kisah yang ternyata terikat erat dengan sejarah PPTQ Ibnu Abbas Klaten. Ia bercerita, dirinya pernah menjadi bagian dari fase awal berkembangnya pondok ini sekitar tahun 2007.
Ketika itu, selepas menamatkan pendidikan di Pondok Pesantren Isy Karima, dr. Hasan melamar sebagai muhaffizh di PPTQ Ibnu Abbas Klaten. Keputusan itu lahir dari keterbatasan ekonomi keluarganya — ia memilih mengabdi sebagai muhaffizh sembari terus merajut jalan pendidikan dan mengejar cita-citanya sendiri.
Perjalanan itulah yang kelak mengantarkannya menempuh pendidikan kedokteran hingga meraih gelar spesialis. Kepada para santri, ia ingin menegaskan satu hal: menjadi penghafal Al-Qur’an bukan berarti harus menutup pintu masa depan.
“Saya tidak datang untuk mengatakan perjalanan saya mudah. Saya datang untuk menunjukkan bahwa perjalanan itu mungkin,” ujarnya.
Membongkar Mitos: Hafalan vs Prestasi Akademik
Dalam sesi ini, dr. Hasan secara khusus membongkar anggapan yang kerap berkembang di kalangan santri: bahwa semakin banyak hafalan Al-Qur’an, semakin menurun prestasi akademik. Menurutnya, akar masalahnya bukan pada Al-Qur’an, melainkan pada bagaimana seseorang mengelola waktu, energi, dan prioritas.
Dengan manajemen yang tepat, hafalan Al-Qur’an dan pendidikan akademik bisa berjalan seiring, bukan saling meniadakan. Identitas sebagai hafizh, tegasnya, tidak pernah mengharuskan seseorang memilih antara Al-Qur’an dan cita-cita — seorang santri tetap bebas bercita-cita menjadi dokter, insinyur, peneliti, pengusaha, profesor, bahkan pemimpin.
Pesan ini beliau rangkum dalam satu kalimat yang menjadi penanda kegiatan: “Hafal Qur’annya. Kuat ilmunya. Tinggi cita-citanya. Baik akhlaknya. Luas manfaatnya.”
Bagi dr. Hasan, hafalan Al-Qur’an adalah fondasi — bukan garis akhir. Generasi terbaik, katanya, tidak cukup hanya kuat hafalannya, tetapi juga kokoh keilmuannya, mulia akhlaknya, dan nyata kontribusinya bagi umat.
Keseimbangan sebagai Kunci Produktivitas
Santri diajak membangun ritme hidup yang seimbang: antara menjaga hafalan, belajar di sekolah, tidur cukup, berolahraga, menjaga hubungan keluarga, dan memberi ruang untuk istirahat. Produktif, menurutnya, bukan berarti tidak pernah berhenti — justru keseimbangan itulah yang menjaga produktivitas tetap bertahan dalam jangka panjang.
Untuk menjaga kualitas hafalan, ia menekankan tiga prinsip utama: ziyadah (menambah hafalan baru secara konsisten), murojaah (mengulang hafalan lama agar tidak pudar), dan konsistensi dalam menjalankan keduanya.
“Yang Diperbaiki Bukan Harga Dirimu, tapi Strategimu”
Menyentuh isu yang kerap menjadi beban psikologis santri, dr. Hasan mengingatkan bahwa nilai akademik yang belum memuaskan bukan tanda ketidakmampuan. Yang perlu dievaluasi adalah strategi belajar: menambah latihan, memperbaiki pola istirahat, meningkatkan fokus, atau tidak ragu meminta bantuan guru dan teman.
“Yang harus diperbaiki bukan harga dirimu, tetapi strategimu,” pesannya — sebuah kalimat yang menegaskan bahwa kegagalan sesaat bukan cerminan harga diri seorang santri.
Menutup sesi, dr. Supandi Hasan menitipkan pesan yang menjadi penutup sekaligus pengingat bagi seluruh santri:
“Jangan jadikan keterbatasan hari ini sebagai alasan untuk membatasi masa depanmu.”













