nidaulquran.id-Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya instan, pesantren kembali membuktikan dirinya sebagai pusat peradaban ilmu. Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional ke-8 tahun 2025 di Pesantren As’adiyah, Wajo, Sulawesi Selatan, bukan sekadar ajang kompetisi membaca Kitab Kuning, tetapi simbol kebangkitan tradisi intelektual Islam yang berakar dari pesantren.
Provinsi Jawa Tengah keluar sebagai juara umum dengan raihan 24 medali, namun kemenangan ini bukan hanya tentang angka. Di baliknya ada kerja keras para santri yang tekun menelaah teks klasik di bawah cahaya malam, mempertahankan warisan ilmu para ulama. Seperti disampaikan Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said, MQK 2025 menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya digelar bersamaan dengan MQK Internasional.
“Ini bukti bahwa pesantren bukan hanya benteng moral bangsa, tetapi juga motor peradaban dunia,” ujarnya optimistis.
Melalui ajang ini, tradisi ilmiah pesantren tampil sebagai kekuatan yang hidup dan relevan dengan zaman. Sepuluh pesantren terbaik dari berbagai daerah—termasuk Al Anwar, Darul Falah, dan Musthafawiyah—menunjukkan betapa luasnya jaringan keilmuan Islam Nusantara yang siap berkontribusi di tingkat global.
MQK 2025 menegaskan bahwa peradaban Islam dibangun bukan oleh kekuasaan, melainkan oleh ilmu dan akhlak. Dari ruang-ruang pesantren yang sederhana, lahir generasi yang siap membawa warisan keilmuan menuju masa depan—menyatukan iman, ilmu, dan kemajuan.













